Sky High Restaurant sudah lama ditinggalkan, tapi amarah Esther Supreeleela masih menggema di benaknya. Kalimat terakhir Kritt Kaiden masih terpatri jelas di telinganya—"Temui pacar baru putra nyonya. Namanya Gawin. Gawin Caskey."
Begitu mobil mewahnya memasuki area mansion Luangsodsai, Esther tak menunggu sopir membukakan pintu. Ia keluar dengan langkah panjang, langsung menghempaskan tas limited edition-nya ke sofa ruang tamu, lalu menyeret langkah ke ruang kerja pribadi. Sekali ketuk pada iPad-nya, ia menghubungi Earth—asisten pribadi paling bisa dipercaya dalam hal investigasi rahasia.
"Earth, kirimkan semua berkas yang sudah kau temukan soal anak itu—Gawin Caskey."
Tak sampai lima menit, dokumen-dokumen muncul di layar. Esther menyipitkan mata, membaca cepat. Semakin ia membaca, wajahnya semakin mengeras.
Gawin Caskey. Lahir sebagai anak tak dikenal di panti asuhan The Heaven. Tempat yang sama dengan Joss Wayar. Esther mengepal jemarinya. Itu bukan kebetulan. Itu sejarah yang disengaja.
Matanya terus bergerak, membaca paragraf demi paragraf sampai berhenti di nama Napat Injaiuea dan Marie Broenner.
"Anak angkat mereka?" desisnya dengan suara bergetar. "Real estate mogul Marie Broenner?"
Tangan Esther menggenggam sandaran kursi hingga buku jarinya memutih. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir seperti harimau yang baru dilepas dari kandang.
Gawin bukan hanya punya nama. Dia punya koneksi. Tapi takkan pernah bisa mengalahkan keluarga Khajornborirak, keluarga superpower yang semakin menggema ke seluruh negeri semenjak Meen Nichakoon menggantikan ayahnya. Meen sangat menyayangi si kembar—Pin dan Krit, anak dari pernikahannya dengan Perth Tanapon. Dan bukan hal sulit bagi Meen untuk melenyapkan keluarga Gawin maupun Esther, jika mereka mengganggu.
"Anak itu... pura-pura tak punya apa-apa. Pura-pura polos... dan menghancurkan rencana besar yang sudah kususun bertahun-tahun!"
Rencananya sederhana: menikahkan Joss dengan anak dari keluarga terpandang untuk memperkuat posisi Luangsodsai, menyatukan nama besar Supreeleela dengan aset keluarga barunya dalam satu garis suksesi sempurna.
Kritt, dengan segala latar belakang dan pengaruhnya, adalah pilihan ideal—sampai bocah panti bernama Gawin datang dan memecah semua fondasi itu.
Esther meraih tasnya kembali dan menginstruksikan Earth dengan suara dingin.
"Siapkan pesawat pribadi. Aku akan ke Phuket malam ini. Aku harus lihat sendiri siapa sebenarnya bocah panti itu."
Namun sebelum langkahnya menyentuh lantai marmer untuk keluar dari ruang kerja, suara jeritan nyaring terdengar dari lantai atas.
"TONLIEW!!"
Esther membalikkan badan. Jantungnya tercekat. Ia berlari menaiki tangga besar dengan sepatu hak tinggi tanpa peduli akan jatuh. Di ujung koridor, para pelayan sudah berkumpul. Suara tangisan dan teriakan memenuhi udara.
Tonliew—putra semata wayangnya dengan Ken—tergeletak di dasar tangga. Tubuh mungilnya tidak bergerak. Mata tertutup, darah mengalir dari pelipisnya. Marie, pengasuhnya, memeluk tubuh kecil itu sambil menangis.
Di sisi lain, berdiri seorang pria dewasa, pucat pasi, terpaku di tempat. Tapi dia berusaha tuk tetap angkuh tak bersalah.
Arthit.
Putra Ken dari pernikahan sebelumnya. Anak tiri Esther yang tak pernah bisa ia cintai—dan kini berdiri gemetar, sementara semua mata mengarah padanya.
"Aku nggak sengaja... Aku cuma menepis tangannya karena dia terus memintaku membebaskan Santa."
Ucapan Arthit terdengar datar, tapi ada kepanikan tersembunyi di baliknya. Ia hanya terlalu keras menyembunyikan rasa bersalahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
