Kini, gilirannya Esther yang membeku. "Dari mana kamu tahu?"
Gawin menyeringai. "Nyonya bukan satu-satunya yang bisa menyewa orang untuk mengumpulkan data."
Hening menegang di antara mereka. Esther menatap Gawin seolah ingin menamparnya, tapi juga takut menyentuhnya. Karena entah bagaimana, wanita itu tahu... ia sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak akan kalah hanya dengan gertakan.
"Pergilah, nyonya!" kata Gawin lembut, berdiri dan membungkuk sedikit. "Sebelum Joss tahu nyonya datang tanpa izin."
Esther berdiri dengan wajah gelap. Gaunnya berkibar saat ia melangkah keluar tanpa sepatah kata pun. Gawin menatap punggungnya hingga menghilang dari pintu depan.
Lalu, ia duduk kembali. Mengambil secangkir kopinya yang mulai dingin, lalu meneguknya perlahan.
Senyum puasnya kembali muncul.
"Coba lagi, nyonya." bisiknya pada udara. "Kali ini... lawanmu bukan anak panti asuhan lagi."
———...———
Di lantai atas sebuah gedung pencakar langit, tempat cahaya malam kota Bangkok hanya terlihat seperti kilau perak dari kejauhan, Kritt berdiri menghadap jendela kaca lebar. Jas hitamnya terjahit sempurna, tubuh rampingnya diselimuti siluet biru dari pantulan cahaya neon di luar. Di tangannya, segelas anggur merah bergoyang pelan, seperti menirukan pikirannya yang sedang bergerak lincah.
Di belakangnya, seorang pria berjas kelabu berdiri kaku, wajahnya menegang—Bastian Creed.
"Kontak pertama telah terjadi, Tuan Kritt. Seperti yang Anda prediksi. Nyonya Esther datang sendiri, tanpa pengawal, ke rumah keluarga Sangngern. Berbicara langsung dengan Gawin selama kurang lebih... tiga puluh dua menit."
Kritt tidak menoleh. Ia hanya tersenyum kecil, sinis. "Tiga puluh dua menit untuk menghina dan menggertak. Lebih cepat dari yang kuduga."
"Seperti yang Anda perintahkan, kami telah menyiapkan semua informasi—tersortir, rapi, dan mudah diakses. Jika Gawin mencari tahu tentang Esther, ia akan mendapatkannya. Dan sebaliknya."
Kritt berbalik pelan, matanya menyipit seperti menakar dunia.
"Biarkan mereka saling mencakar. Gawin... anak liar tanpa darah biru, tapi licin. Esther... ratu tua dengan napas kekuasaan, tapi tidak tahu cara mencium angin. Keduanya tidak layak duduk di meja ini."
"Tuan ingin kami intervensi jika—"
"Tidak," potong Kritt halus, tapi tegas. "Jangan satu pun dari kita menyentuh papan. Biarkan mereka mengira ini pertarungan mereka. Mereka akan membunuh satu sama lain dengan suka rela."
Ia melangkah ke meja, mengambil berkas yang terbuka di atasnya. Foto Esther dan Gawin, berdampingan. Dilingkari tinta merah. Di bawahnya, tulisan tangan Kritt sendiri: "Mereka tidak tahu, bahwa mereka pion di papan catur yang sama."
"Esther itu bukan sekadar ibu Joss," gumam Kritt, lebih pada dirinya sendiri. "Dia istri dari Ken Luangsodsai. Kepala keluarga yang seharusnya sudah lama tertelan sejarah... kalau saja tidak terlalu pandai meminjam nama baik orang lain."
Ia meneguk anggurnya perlahan.
"Gawin... anak buangan, tapi tangguh. Jika dia cukup pintar, dia akan menyeret Esther turun. Dan jika Esther cukup bengis, dia akan menggali masa lalu Gawin sampai darahnya sendiri yang tercecer."
Pria berjas kelabu diam sejenak. Lalu bertanya hati-hati, "Dan jika keduanya selamat dari satu sama lain, Tuan?"
Kritt tertawa kecil. Dingin. Tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
2Moons
FanfictionKapal yang berlayar : JossKritt & PinSanta Ghostship Area ⏩ LGBT area☠️ so, HOMOPHOBIA dilarang mendekat. ⏩Area dewasa🔞 ⏩MPreg Area ⏩Kapal hantu bertaburan ☠️, jangan harap kapal benar berlayar disini. ⏩TYPO & kata yang hilang bertebaran. ⏩ Update...
