62 : Ulang Tahun Si Kembar

74 19 2
                                        

"Kerajaan Elf di Negeri Es Kristal"

Malam itu, taman belakang mansion keluarga Victory tak lagi terlihat seperti bagian dari dunia nyata. Semua yang hadir seolah terhisap ke dalam halaman dongeng, di mana sihir dan keindahan menjadi satu. Salju buatan turun perlahan dari mesin-mesin tersembunyi di balik cemara raksasa yang menjulang, tertutup bulu-bulu putih seolah baru saja dilintasi musim dingin Arendelle.

Lampu-lampu kristal menggantung di udara, diprogram khusus membentuk tarian aurora yang berganti warna mengikuti alunan musik elf yang dimainkan oleh orkestra tersembunyi di balik panggung es. Panggung itu sendiri dibentuk menyerupai istana kristal dengan dua singgasana berdampingan, tampak bersinar bak berlian di bawah cahaya bulan.

Di singgasana kanan, duduk Pin—sang "siang" dari si kembar—dengan setelan putih mutiara berhiaskan bulu salju lembut dan mahkota tipis dari bunga salju transparan. Matanya bersinar, senyumnya seperti matahari musim semi yang memecah kabut pagi.

Di singgasana kiri, Kritt—"malam" yang diam namun memikat. Ia mengenakan jas panjang biru keunguan berhiaskan benang perak dan jubah transparan yang mengikuti angin malam, seolah bagian dari kabut es itu sendiri. Tatapannya tenang, namun tajam. Seperti malam berbintang yang diam-diam menyimpan badai.

JD dan Azzu, dua harimau benggala peliharaan si kembar, duduk di bawah singgasana. JD menguap dengan malas sementara Azzu mengawasi setiap pergerakan tamu seperti penjaga kerajaan sejati. Mereka hanya patuh pada dua orang: Pin dan Kritt.

Meen berdiri dengan penuh kebanggaan di sisi Perth, keduanya mengenakan jubah kerajaan elf—Meen dalam balutan hijau zamrud dan Perth dalam warna hitam dan perak. Di belakang mereka, Sunny mengusap lembut kepala JD. Theo berdiri tak jauh, sibuk merekam semua momen dengan kamera kristalnya. Di sisi lain, Blue, Mark, dan Kengkla tampak berdiskusi ringan bersama Nana dan Pamigax.

Tamu-tamu mulai berdatangan. Gemini dan Ponlawit muncul dari sisi barat taman, diikuti Boss yang tampak enggan melepaskan tangan Ponlawit. "Aku nyasar dua kali di taman ini," keluh Boss, disambut tawa meriah dari Maxky, Ai, dan Primily yang sedang berkumpul dekat air mancur salju.

Malam semakin ramai ketika Gulf dan Mew tiba bersama putra mereka—Type.

Type mengenakan setelan putih salju yang terkesan tidak formal. Bagian dada terbuka sedikit, rambut acak-acakan khasnya tetap dibiarkan begitu, dan sepatu boots-nya tampak seperti baru selesai berkelahi. Tapi ia datang dengan tatapan percaya diri. Langkahnya tegas, hampir menantang, membuat beberapa tamu otomatis minggir.

"Jangan macam-macam," bisik Mew di antara senyum sopannya. Gulf hanya memijat pelipis.

"Aku cuma mau jujur," jawab Type seenaknya. "Dia cerewet. Tapi... aku suka cerewetnya."

Begitu naik ke panggung, Type berhenti tepat di depan Pin. Untuk beberapa detik, dia hanya menatap.

"Kamu..." gumamnya pelan.

Pin menatap balik dengan mata membulat. "Aku apa?"

"...Bikin aku ingin belajar sabar."

Tawa pecah di seluruh taman. Perth menyeringai dan menepuk pundak Meen. Meen menggoda, "Kayaknya kita bakal punya menantu bar-bar, babe."

Pin memutar bola mata sambil menunduk malu. Pipi merahnya mencolok di bawah mahkota bunga salju.

Di sisi panggung, Maxky melangkah perlahan ke arah Kritt. Ia memeluk sebuah kanvas besar yang dibungkus kain lembut warna ungu malam.

"Kritt," panggilnya dengan nada rendah.

Kritt mengangkat kepalanya. Tak ada senyum, tak ada kejutan. Hanya sorot mata penuh jarak, khas dirinya.

2MoonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang