68

4.5K 157 17
                                        

" sayang? Ayo bangun solat tahajud "
Gus Gafi berusaha membangunkan istrinya itu yang masih tertidur nyenyak. Wajak teduhnya membuat Gus Gafi sedikit tidak tega membangunkan Laura, pasti wanita itu merasa sangat lelah dengan semua kegiatan kemarin

" Eugh "
Lenguh Laura yang merasa tidurnya terganggu

" Ayo bangun sayang kita solat tahajud "
Ajak Gus Gafi sambil merapikan rambut Laura yang menutup wajahnya

" Udah jam berapa? "
Tanya Laura dengan suara seraknya seraya membuka sedikit matanya

" Jam 4 sayang "
Jawab Gus Gafi tersenyum kecil sambil mengelus kepala Laura dengan lembut

Laura akhirnya bangun dan duduk sebentar sambil mengumpulkan nyawanya untuk kembali merasuki dirinya

" Kamu duluan gih ke kamar mandi "
Ujar Gus Gafi, ia tau wanita itu jika sudah berurusan dengan bersih membersihkan sangatlah lama, makasih dari itu Gus Gafi menyuruh Laura untuk duluan saja

Laura tanpa berkata apa - apa bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil wudhu

Sekitar 15 menit mereka berdua bersiap untuk solat tahajud

" Assalamualaikum warahmatullah "
Salam Gus Gafi diikuti oleh laura yang menandakan akhir dari solat tahajud mereka

Gus Gafi membalikkan badannya dan tersenyum melihat Laura yang kini menjadi makmum dirinya, ia dulu sangat menyesal telah menyia - nyiakan berlian ini, sekarang berlian itu telah berada di genggamannya dan tak akan pernah ia lepas lagi

" Gus lihat apa? "
Tanya Laura yang bingung Gus Gafi dari tadi menatapnya sambil terus tersenyum membuat Laura begidik ngeri, apa suaminya kerasukan?

" Saya lihat zawjati saya "
Jawab Gus Gafi sambil tidak membuang pandangannya

" Siapa itu? "
Laura kurang mengerti, bahkan bisa dibilang tidak mengerti jika sesekali Gus Gafi berbicara bahasa arab, alhasil ia akan bertanya kembali

" Tidak ada, sini Salim tangan "
Gus Gafi memberikan tangannya kepada Laura untuk dicium istri tercintanya itu

Laura dengan lembut meraih tangan Gus Gafi dan mencium nya, Gus Gafi mengelus kepala istrinya itu dengan lembut sambil mencium pucuk kepalanya

Setelah Laura melepaskan tangan Gus Gafi, dengan lembut Gus Gafi meraih wajah Laura dan mencium kening, pipi kanan, pipi kiri, hingga Gus Gafi berhenti sambil menatap bibir Laura

" Bolehkah saya?"
Gua Gafi bertanya sambil menatap ke arah bibir Laura

Sang empu yang ditanya terdiam dengan pipi merah merona karena malu dengan pertanyaan yang dilontarkan Gus Gafi

" Tidak boleh? "
Tanya Gus Gafi lagi karena Laura tidak memberikan jawaban

" Bo-boleh "
Jawab Laura malu

Gus Gafi tersenyum kecil sambil mengecup singkat bibir Laura

Cup

" Ana uhibbuki Fillah zawjati "
Ujar Gus Gafi sambil meneteskan air matanya

Laura yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Gus Gafi terkejut melihat Gus Gafi meneteskan air mata, ia tak tau apa arti perkataan itu, yang pasti sekarang ia kelihatan panik karena Gus Gafi menangis

" Gus kenapa? "
Tanya Laura meraih wajah Gus Gafi dengan kedua tangan mungilnya itu

" Saya terharu "
Jawab Gus Gafi sambil menghapus air matanya dengan sedikit senyuman yang terukir di wajahnya

" Terharu kenapa? "
Tanya Laura kembali

" Saya terharu sayang, saya sudah menanti lama momen ini, dimana saya kembali hidup bersama kamu, jika saya tidak bisa memiliki kamu kembali, mungkin saya tidak akan bisa hidup — "
Ucap Gus Gafi sambil menatap dalam mata Laura

" Stsss gak boleh ngomong gitu Gus, kalau Allah sudah menetapkan garis takdir kita, tidak ada yang mungkin, semuanya pasti akan terjadi, mungkin tidak sekarang nanti, mungkin untuk sekarang Laura masih sedikit canggung atau sedikit tidak terbiasa dengan kehadiran Gus, apalagi Laura sedikit trauma dengan masa lalu, Gus tau itu, tapi insyaallah Laura akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik, menantu yang baik, kakak ipar yang baik, serta ibu yang baik untuk anak kita kelak, tapi jika Allah mengambil Laura terlebih dahulu Gus— "

" Gak! Kita akan menua bersama sayang, jangan ngomong gitu saya mohon, banyak sekali mimpi saya yang ingin saya wujudkan sama kamu "
Potong Gus Gafi dengan cepat, ia tidak ingin mendengar Laura berkata seperti itu

" Umur, rejeki, dan jodoh tidak ada yang tau Gus, maka dari itu Laura cuman bilang sedikit aja "
Ujar Laura tersenyum

" Gak sayang, sekarang saya mau kamu ganti panggilan untuk saya "

Laura bingung

" Hah? Gus? Emang Laura harus manggil apa lagi selain itu? "

" Mas, panggil mas aja sayang "
Jawab Gus Gafi sambil mengelus lembut pipi Laura

" Baiklah mas Gafi... "
Goda Laura

" Kamu menggoda saya? "
Tanya Gus Gafi menaikkan satu alisnya

" Menurut mas? Hahahah "
Laura tertawa melihat ekspresi Gafi yang sedikit kesal

" Gak mas Laura cuman coba aja manggil Gus Gafi, tapi cukup laura aja ya yang manggil gitu, mas cukup dengan Laura aja satu, kecuali ketika Laura sudah tiada di dunia ini baru mas bisa mencari wanita lain '

" Udah sayang, mas tidak mau membahas hal begituan, sekarang ayo ambil wudhu lagi udah mau subuh "
Gus Gafi terlalu takut membahas hal begituan, ia terlalu takut kehilangan Laura di dalam hidupnya

GAFI OR GUS GAFI?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang