" gimana hasilnya Hans? "
Tanya Gus Gafi menghampiri Hans yang berada tak jauh dari dirinya di meja resepsionis
" Seperti dugaan Lo "
Jawab Hans singkat dan menusuk hati Gafi
" Udah stadium berapa? "
Tanya Gus Gafi lemah
" Masih tahap awal Gus, Lo masih bisa ngobatinnya, masih ada secercah harapan, jangan menyerah dan putus asa, gue tau Lo, beliau cepat pingsan mungkin karena efek kelelahan juga, tapi sebagian besar akibat penyakitnya "
Jelas Hans panjang lebar
" Ini hasilnya Lo bisa lihat sendiri Gus"
Liam datang dan menyerahkan hasil Rontgen
" Terimakasih"
Ucap Gus Gafi
" Semangat! Beliau bisa sembuh, ingat Lo harus kuat demi umma sama zea "
Ucap Liam menepuk bahu Gus Gafi berusaha menguatkan sahabatnya itu
Gus Gafi berjalan menghampiri Safira, zea, serta Laura yang terduduk di kursi tunggu, kyai Azka telah sadar dan sudah dibawa ke ruang VIP, Gus Gafi sengaja tidak menyuruh wanita - wanitanya itu untuk langsung ke ruang kyai Azka, karena ia tidak ingin kyai Azka tau penyakitnya
" Umma? "
Panggil Gus Gafi lembut sambil duduk di samping Safira
" Nggih nak? "
Jawab Safira sambil menoleh ke arah anaknya itu, matanya tampak sayu karena terus menangis dari tadi
Gus Gafi yang merasa tidak tega dengan keadaan ummanya langsung memeluk lembut tubuh rapuh Safira
" Kenapa nak? "
Tanya Safira bingung sambil menepuk - nepuk punggung Gus Gafi
Gus Gafi menangis di dalam pelukan Safira tanpa diketahui sang empu, Laura yang tau akan hal itu menggelengkan kepalanya agar Gus Gafi jangan menangis
" Umma? "
Panggil Gus Gafi lagi sesudah melepaskan pelukannya
" Katakan nak, umma siap "
Ucap Safira yang tau dari raut wajah sang anak
" Zea? Sini dek "
Ajak Gus Gafi untuk zea duduk di sampingnya
" Usahakan abba jangan tau ini semua"
Ucap Gus Gafi memperingatkan
Zea dan Safira menganggukkan kepalanya
" Abba terkena penyakit kanker otak, tapi masih stadium awal, insyaallah abba bisa sembuh dengan pengobatannya, karena ini masih stadium awal, abba pingsan karena kelelahan, tapi sebagian besar efeknya dari penyakit yang abba miliki, tapi abba masih bisa sembuh umma, karena masih stadium awal "
Jelas Gus Gafi panjang lebar
Deg!
Tubuh Safira melemas seketika, rasanya sebagian dari dirinya ikut hancur mendengar penuturan sang anak, ia tidak tau harus bagaimana, sekarang di pikiran dia hanya ingin menemui kyai Azka segera dan menangis sekuat tenaga di dalam pelukannya
" Umma? "
Laura menghampiri Safira yang terdiam dan pandangannya sudah kosong
Sedangkan zea menangis sesegukan di dalam pelukan Gus Gafi, Gus Gafi ikut hancur melihat adik dan umma nya seperti ini, di dalam sana juga ada abba nya yang sedang berjuang hidup tanpa mengetahui penyakit yang ada pada dirinya
" Udah zea, jangan nangis ya? Doain abba cepat sembuh "
Ujar Gus Gafi mengelus lembut kepala zea yang berada di dalam pelukannya itu
" Umma... Lihat Laura sini "
Ajak Laura sambil meraih kedua pipi Safira dan memintanya untuk menatap dirinya
" Umma? Abba bakalan baik - baik aja, umma percaya kan sama Allah? "
Ujar Laura berusaha meyakinkan ibu mertuanya itu
Safira mengangguk sambil meneteskan air matanya yang sedari tadi tak kunjung turun
" Allah tidak akan menguji seseorang hamba diluar batasnya umma, berarti Allah tau kalau abba, umma, zea, dan mas Gafi sanggup melewati ini semua, itu takdir Allah umma, kita tidak tau hal itu terjadi, sekarang tugas kita hanya berdoa dan berusaha agar abba cepat sembuh, lagian umma dengar kan? Kata mas Gafi abba bisa sembuh dengan permanen, karena abba masih stadium awal, Allah baik sekali sama kita umma, lihatlah Allah memberitahukan penyakit abba dengan cepat, bukan sudah parah "
Ucap Laura panjang lebar menjelaskan kepada Safira
Dan yang paling mengejutkannya, Safira mendengar dengan seksama perkataan Laura, ia juga sesekali mengangguk dan tersenyum tipis, ia percaya dengan apa yang dikatakan Laura, sekarang Safira yang perlu terlihat kuat di hadapan kyai Azka, meski dirinya rapuh dari dalam
Safira yang mendengar tangisan zea begitu menyakitkan langsung membalikkan badannya dan mendapati zea di dalam pelukan Gus Gafi
" Nak? "
Panggil Safira kepada zea
" Hiks! Umma... "
Tangis zea pecah ketika dirinya melihat ummanya
Dipikiran gadis kecil itu hanya bagaimana jika hidup mereka tidak ada lagi kyai Azka, apa yang akan terjadi kepada mereka? Karena kanker itu adalah penyakit yang dikenal tanpa adanya obat, hanya orang - orang yang terpilih saja yang bisa sembuh dari penyakit berbahaya itu
" Gak papa nak, ada umma, di depan abba jangan nangis ya? "
Ucap Safira yang berusaha menguatkan zea, meskipun dirinya juga terlihat rapuh, dia tidak ingin terlihat terpuruk di depan anak - anaknya
Gus Gafi di panggil oleh perawat untuk menandatangani surat - surat yang harus diurus nantinya, ia pun menandatangani surat itu setelah membacanya dengan seksama
Ia tak berani lagi untuk pergi menghampiri zea, Laura, dan Safira, ia berusaha menguatkan dirinya di balik dinding itu
Tanpa Gus Gafi sadari Laura menghampiri dirinya dan melihat keadaan Gus Gafi yang sudah sangat kacau itu
" Mas.... Sabar ya? Semua ini ujian dari Allah "
Ucap Laura menepuk pelan bahu suaminya itu
Gus Gafi tak tahan lagi untuk tidak meneteskan air matanya, ia segera memeluk Laura mencari ketenangan disana, ia menangis tanpa suara di dalam pelukan Laura
Sedangkan sang empu menepuk punggung Gus Gafi untuk meredakan tangisan lelaki itu
" Udah mas , jangan berlarut - larut ya? "
Ucap Laura menenangkan
" Gus? "
Panggil Hans
Gus Gafi melepaskan pelukannya dan beralih menghapus air mata sebelum akhirnya menatap Hans yang tadi memanggilnya
" Maaf mengganggu waktu kalian "
Ucap Hans yang sedikit canggung
" Gak papa kak "
Ucap Laura tersenyum manis
" Kalian udah boleh jenguk kyai di dalam kamar, umma sama zea udah duluan masuk, kalian juga masuk ya, kami disini akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan pengobatan kepada kyai Azka "
Ucap Hans panjang lebar
" Hans?! "
Panggil Liam yang berjalan cepat ke arah mereka
" Kenapa? "
Tanya Hans yang juga ikut bingung
" Tadi ada dokter dari luar negeri datang untuk memeriksa beberapa pasien VIP kita, katanya ada sedikit kesalahan dalam pemeriksaan kita, alat Rontgen kita bermasalah "
Ujar Liam
" APA?! "
Gus Gafi dan Hans terkejut bersamaan
Bagaimana bisa rumah sakit begitu lalai dalam menangani alat - alat mereka? Bukankah rumah sakit ini rumah sakit ternama? Mereka sedikit marah ketika mendengar penuturan Liam
" Bagaimana bisa Liam? Bukannya para petugas selalu mengecek keadaan alat di rumah sakit? Mereka sudah lalai dalam menjalankan tugasnya sekarang "
Marah Gus Gafi ketika mendengar semua hal itu
" Pak Santo yang ahli memeriksa alat di ruangan Rontgen beberapa hari ini libur, jadi anak - anak praktek yang mengecek, mungkin mereka belum cukup ilmu "
Jawab Liam berusaha menenangkan Gus Gafi agar tidak semakin memanas
" Astagfirullah.... "
Keluh Gus Gafi berusaha menenangkan amarahnya yang sudah memuncak
" Jadi gimana sekarang? "
Tanya Hans yang juga mengerutkan alisnya karena ikut bingung dan takut dengan Gus Gafi di sampingnya
" Tadi udah di cek kembali sama dokter luar negeri tadi, Alhamdulillah kyai sehat, cuman beliau capek saja, setelah habis satu botol infus beliau sudah boleh dipulangkan "
Jelas Liam sambil sesekali melirik catatan di tangannya, hasil pemeriksaan tadi
" Huft... "
Lega Gus Gafi
KAMU SEDANG MEMBACA
GAFI OR GUS GAFI?
RomansaNOTE : untuk lebih nyambung sama ceritanya author sarankan supaya baca terlebih dahulu cerita author yang berjudul Gus Azka, karena ini merupakan lanjutan cerita dari Gus Azka, ini versi anaknya. SINOPSIS : Seorang gadis yang secara tidak sengaja...
