74

6.5K 153 23
                                        

" maafin Laura ya mas??? "
Ucap wanita itu memohon kepada suaminya yang sedang duduk di kursi taman sambil melipat kedua tangannya di dada

Rasanya kalau Gus Gafi sudah bersikap seperti ini nyali Laura menciut, ia sedikit takut dengan raut wajah dingin Gus Gafi sekarang, seakan - akan jika Laura tidak meminta maaf dirinya akan habis hari ini diterkam

" Apa kesalahan kamu? "
Tanya Gus Gafi menaikkan satu alisnya, tidak mungkin meminta maaf jika tidak menjelaskan kesalahan

" Kan mas tau sendiri... "
Keluh Laura dengan bibir yang di monyongkan ke depan

Gus Gafi yang melihat itu sedikit tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan Laura sendiri tidak menyadari hal itu, karena wajah Gus Gafi yang sangat dominan dingin

" Saya tidak tau itu, tolong jelaskan kepada saya "
Ujar Gus Gafi kembali mendesak agar Laura meminta maaf dengan benar

Karena dalam Islam kita diharuskan untuk menjelaskan apa kesalahan yang sudah kita perbuat kepada orang, jika hanya mengandalkan kata maaf dan berjabat tangan anak kecil pun bisa melakukan itu, tapi ini kita sudah dewasa tau mana yang benar dan salah. Maka dari itu dalam Islam mengharuskan kita untuk menguraikan kesalahan yang kita perbuat, agar sang pemaaf tau apa kesalahan itu, untuk lebih lanjut, dimaafkan Alhamdulillah, jika tidak dimaafkan kita harus melakukan segala cara, karena kita sudah salah, tapi sakit memaafkanlah, karena Allah saja maha pemaaf, apalah kita hanya ciptaan Allah yang tidak sempurna ini. Yaudah cukup pembahasannya, ayo kembali ke topik!

" Maaf Laura udah salah paham, terus Laura langsung menyimpulkan ke hal yang buruk "
Tutur wanita itu dengan tangan yang menggelayut di lengan Gus Gafi

Sekarang, mereka sedang berada di sebuah taman dekat dengan rumah sakit, memang kyai Azka tadi dibawa ke rumah sakit kota, karena disana lah Gus Gafi bertugas, maka dari itu mereka berjumpa dengan Allea dan Raffael

Gus Gafi mengajak Laura kesana agar sedikit menghilangkan rasa sakit kepala akibat kejadian tadi, disana juga ramai orang dan jajanan, otomatis hal itu bisa membuat hati mereka sedikit dingin. Karena mereka tidak ingin menyelesaikan masalah dengan kepala panas

" Mas maafkan dengan satu syarat "
Jawab Gus Gafi dengan tatapan yang masih ia tujukan ke depan tanpa berpaling

" Syarat? Syarat apa mas? "
Tanya Laura bingung

" Syaratnya kamu harus mau bulan madu sama mas ke Mekkah, sekalian kita menunaikan ibadah "
Jawab Gus Gafi

" Mas serius?! "
Kejut Laura dengan mata yang dibesarkan

" Emang raut wajah mas memperlihatkan candaan? "
Tanya Gus Gafi sinis

" Hehehe gak sih? Tapi... "
Laura menggantungkan kalimatnya, membuat Gus Gafi bertanya - tanya

" Tapi kenapa sayang? "
Tanya Gus Gafi sambil mengelus kepala Laura yang terbalut Khimar

" Laura belum pernah kesana mas, apa Laura harus belajar dulu ya? Pasti makan waktu yang lama, apalagi Laura harus bertanggung jawab sama mas "
Jelas wanita itu

" Tidak sayang, mas sudah pernah kesana, dan Alhamdulillah mas sudah paham semuanya, jadi nanti biar mas yang ajarin "
Ucap Gus Gafi

" Gak mau ah kalau mas yang ajarin! "

Gus Gafi sedikit terkejut dengan jawaban wanitanya itu

" Kenapa sayang? "
Tanya Gus Gafi

" Mas galak ih! Kalau Laura gak ngerti nanti mas marah - marah, makanya Laura gak mau setor hafalan sama mas "

" Astagfirullah.... Emangnya siapa yang bilang? "
Tanya Gus Gafi

" Tuh para santriwati semua bilang mah Gus Gafi itu orang galak, cuek, nyebelin, terus ngeri lagi "
Ucap Laura dengan wajah meledek

" Tapi ganteng kan??? "
Goda Gus Gafi

" Pede banget! "
Ketus Laura

" Hahahaha, dicoba dulu sayang... Kan belum dicoba, kalau mereka kan mas harus keras karena mas guru mereka, kalau kamu pasti mas lembutin, secara kamu hidup mas, tulang rusuk mas, tanggung jawab mas agar kamu tau ibadah Allah "

" Serius ini?? "

" Iya sayang... "

" Mas? "

" Hm? "

" Kayaknya kita harus balik deh ke pesantren, udah mau malam juga ini "

" Baik, kita berangkat, kamu ada mau jajan apa? "

" Nanti sambil jalan Laura liat aja mana yang Laura mau "

" Hm "

" Bentar lagi kita bakalan tinggal disini ya mas? "
Sambil berjalan Laura menanyakan hal itu

Memang begitulah rencana mereka, setelah beberapa hari tinggal di pasantren mereka bakalan tinggal disini, karena semua pekerjaan Gus Gafi berada disini, baik itu profesinya sebagai dokter maupun sebagai pengusaha, terkadang ia juga dipanggil ke universitas ternama untuk menjadi penceramah, atau terkadang menjadi orang yang memberi motivasi

" Na'am "

" Kalau gitu kira - kira kapan kita pindah? "

" Kenapa? Kamu sudah tidak sabar? "

" Bukan begitu, biar Laura bisa nyicil nanti beres - beresnya "

" Mungkin hari Sabtu, karena Senin mas sudah kembali berkerja "

" Berarti lusa dong? "

" Benar "

" Aduh, Laura harus mulai nyicil dari sekarang ini "

" Tidak perlu sayang, disini kita udah memiliki semua barang yang diperlukan "

" Terus pakaian gimana? Kan harus di packing juga mas "

" Tidak usah, mas udah beli yang baru untuk kamu "

" Ya allah mas jangan boros ih! "

" Untuk kamu semua mas lalukan sayang "

" Gombal lagi "

" Ekhem! Kapan kita mulai proses untuk penerus saya? "

" Hah? "
Laura jadi gelagapan, ia jadi takut seketika

" Anak sayang "
Jelas Gus Gafi

" Dulu aja mas gak sayang sama anak mas, sampai - sampai dia meninggal kan "

Laura seketika meneteskan air matanya, ia tampak teringat dengan kejadian masa lalu, ia tidak ingin semua ini terjadi kembali

" Sayang? "
Gus Gafi jadi itu menyesal, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya dengan begitu saja

" Maafin mas ya? Saya tidak mungkin memaafkan diri saya sendiri, saya pembunuh kan? "

Kata - kata itu menusuk hati Laura, meskipun begitu ia tidak mau mengecap Gus Gafi sebagai pembunuh, ia juga ayah dari anak itu dan juga suaminya

" Gak mas, mas bukan pembunuh "
Geleng Laura

" Maaf "
Kembali lagi dilontarkan Gus Gafi

" Udah mas ayo kita jajan! Laura udah laper heheheh "
Laura berusaha mengalihkan pikirannya

" Whatever it is, please don't push yourself too hard, love."
Ucap Gus Gafi kecil

GAFI OR GUS GAFI?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang