Setelah sore dimana Yoongi melihat istrinya dibentak oleh Jimin. Pemuda kelahiran maret itu benar-benar membawa istrinya pindah. Semalam mereka menginap di hotel. Dan pagi ini, ia sudah pindah ke apartemen yang dibelinya tak jauh dari agensi tempat ia bekerja. Ponselnya sengaja tak ia aktifkan. Mengurus perihal apartemen saja, ia harus menggunakan ponsel khusus bisnis.
Transaksi berjalan lancar dan mudah, karena memang apartemen itu milik kenalan Yoongi. Sehingga kini ia akan memulai kehidupan barunya hanya berdua dengan sang istri.
Ngomong-ngomong soal istri, sejak semalam Umji terlihat lebih pendiam dari biasanya. Bahkan di momen pertama mereka tidur seranjang saja, tak ada hal apapun yang terjadi. Mereka sama-sama tidur dengan guling sebagai pemisah, padahal mereka sudah sah menjadi suami istri, baik dimata agama maupun negara. Salah satu penyebab kesibukan Yoongi dari sepulang mudik ya itu, mengurus berkas pernikahannya. Ditambah dengan deadline pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ia pikir, Umji akan baik-baik saja di rumah, karena semua saudaranya menyukai gadis itu. Tapi ia tak menyangka kalau ternyata Rose, istri Jimin, tidak menyukai kehadiran Umji.
"Aa.... aku mau masak, tapi gak ada bahannya."
Yoongi yang tengah memasukan baju ke lemari, menengok. "Hari ini gak usah masak, kita pesen online aja, lo pasti capek abis beberes barang-barang"
"Mmm... yaudah kalo gitu" Umji melangkah mendekat, lalu duduk di sisi ranjang mereka.
Merasa ada yang perlu di bicarakan dengan istrinya, Yoongi segera meletakan baju terakhir dan menutup lemari. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Umji dan duduk di samping wanita itu.
"Gue liat-liat dari semalem, lo makin diem. Ada yang ngeganjel di hati lo, Ji?"
Umji diam. Ia ragu ingin mengutarakan isi pikirannya atau tidak. Yoongi yang ternyata peka menangkap hal itu. "Ngomong aja, Ji. Gue kan suami lo.. "
Umji menghembuskan nafas pelan, "Aku cuma khawatir sama keadaan Teh Rose"
Yoongi mendengus "Ngapain lo khawatir sama orang yang udah ngehina lo?"
"Bukan gitu, A. Aku khawatir karena aku lihat sesuatu di luar jendela kemarin sore. Makanya aku ngelarang Teh Rose keluar rumah, karena Aki suka bilang, kalo perempuan hamil itu wangi dan disukai sama makhluk-makhluk kayak gitu. Aku takut sosok itu malah ngeganggu Teh Rose sama dedek bayinya"
Yoongi menghela nafas "Yaudah, ntar gue chat bang Jin, nanyain gimana kabar si mawar. Terus apa lagi yang mau lo tanyain? Gue tau, bukan cuma itu aja yang ngeganjel di hati lo, kan?"
Umji kembali ragu, tapi akhirnya ia memilih bertanya meskipun takut Yoongi akan marah. "Mmm... W-Wendy itu.... siapa, A?"
Yoongi terdiam, alisnya ia naikan sebelah. "Dari mana lo tau Wendy?"
"D-Dari Teh Rose... "
Yoongi mendengus "Apa aja yang cewek itu bilang ke lo tentang Wendy?"
Umji memutar kepalanya jadi berhadapan dengan Yoongi. Lalu ia menceritakan apa yang Rose ucapkan tentang Wendy. Semuanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dan hal itu berhasil mematik kembali api amarah dalam diri Yoongi.
"Ya, Wendy itu emang mantan pacar gue. Kita udah sama-sama dari jaman kuliah. Gue juga pernah ngelamar dia, tapi ditolak sama bapaknya. Tapi.... " Yoongi meraih kedua tangan Umji untuk ia genggam. "Gue sama sekali gak jadiin lo pelarian. Oke, dulu gue emang suka sama Wendy, tapi itu dulu, sekarang gue udah move on. Lagian, Wendy juga udah nikah sama bang Chanyeol, temen gue sendiri. Apapun yang di omongin sama si kembang cucuk--"
Ucapan Yoongi terhenti saat melihat istrinya tertawa. Tanpa sadar, amarah Yoongi ikut sirna melihat bagaimana cantik dan gemasnya Umji ketika tertawa. "Kenapa ketawa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
FanfictionGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
