"Ngebolang"

112 20 19
                                        

Bertempat di gazebo kayu depan rumah Ni Anah, lima belas pemuda dan tiga gadis cantik itu berkumpul bersama sembari menikmati indahnya suasana malam pedesaan.
Angin sepoi-sepoi sesekali berhembus, menerbangkan surai dan pakaian mereka. Namun, rasa dingin itu tak bisa menembus kehangatan yang mereka ciptakan dalam lingkaran kebersamaan dan kekeluargaan.
Ditemani dua toples berisi keripik singkong dan talas buatan Seokjin, serta secangkir teh hangat dan bajigur. Menjadi pelengkap mereka bertukar cerita dan canda tawa.

"Kamvret emang si Jisung, gara-gara dia gue jadi ikut nyebur. Untung aja gue pake celana tebel, jadi gak begitu sakit pas di sengat tawon" Celetuk Hyunjin yang membuat Jisung merengut. Pemuda tupai itu sedang tiduran dengan posisi telungkup berbantalkan paha Minho, karena pipi pantatnya bengkak sebelah akibat di sengat tawon. Sehingga ia kesulitan untuk duduk, bahkan berjalan saja berasa berat sebelah.

"Tapi ujungnya malah jadi senjata makan tuan, ya bang, ahahah" Ni-Ki sempat-sempatnya tertawa padahal sedang menguyah keripik.

"Udah napa sih, ini pantat gue jedud-jedut buset, jangan tambah hati gue yang jedud-jedut karena ucapan kalian ya!"

Sakura yang duduk di samping Minho sembari menyenderkan kepalanya ke bahu sang suami, terkekeh pelan. Sedangkan suaminya itu malah anteng mengelus surai adiknya, Jisung. Sementara Jihyo, istri dari Namjoon itu sedari tadi sibuk sendiri membenarkan kipas angin ni Anah yang tidak sengaja dirusak suaminya. Bermodalkan obeng, gadis lulusan teknik marketing itu mempreteli benda elektronik itu satu persatu.

"Kak Chan, tadi kalian nyampe rumah lewat adzan magrib. Emang ngapain aja di sawah?" Ryujin yang duduk di samping Hoseok bertanya.

"Di sawahnya gak lama Ryu, cuma gara-gara insiden baju ganti hanyut, kita terpaksa pulang lewat magrib supaya gak jadi tontonan warga karena telanjang dada" Jeongin yang berbaring di paha Chan mendongak, menatap sang kakak yang sedang bercerita.

"Oalah, gitu toh, kirain kalian mau nginep di sawah"

"Ya kali nginep njir, emang kita mau tidur dimana? Ditumpukan jerami?"--Changbin ngegas, sedangkan Ryujin malah tertawa.

Jungkook yang sedang memangku gitar melirik ke samping Seungmin. "Eh, Min, jadi gimana tuh comblangan para ibu-ibu?"

"Gak gimana-gimana" Jawabnya datar. Minho yang mendengar itu tertawa ngakak karena rencananya sukses.

Tadi setelah adzan ashar, tiga orang ibu-ibu yang di ajak ngobrol Minho saat kerja bakti, benar-benar datang ke rumah Ni Anah membawa anak gadisnya masing-masing. Mereka membanggakan dan memuji anak-anaknya dengan harapan bisa menarik perhatian Seungmin. Mulai dari yang jago masak, jago bersih-bersih rumah, sampai ke yang jago dandan. Namun sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil menarik perhatian si pemuda kelahiran 22 September.

"Pilih Ayunda, Fitri atau Nur, Min? Pfft... "

Seungmin memicing pada Minho yang duduk di sebrangnya "Diem bang, semua ini gara-gara lo!"

"Tau tuh bang Minho, untung aja bang Seokjin bantuin Umin ngeles, pake alesan kalo Umin udah punya calon" Bela Felix.

"Lah, bukannya Umin emang udah punya calon ya? Itu si Wonyeong, dia calon bini lo kan Min?"--Seokjin

"Belum bang"--Seungmin

"Belum berarti otw kan Min?" Taehyung menyenggol lengan Seungmin, menggoda.

"Gue ngikutin alurnya aja bang, kalo emang jodoh ya gak bakal kemana"

"Gue suka jawaban lo Bro!"--Taehyung

"Eh guys, main truth or dare kuy!" Celetuk Ryujin tiba-tiba.

"Kuy lah!"

Tetangga?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang