"Gangguan Tak Kasat Mata"

101 20 22
                                        

Sudah beberapa kali mengubah posisi tidur dari kanan ke kiri, namun sang jabang bayi tetap bergerak aktif dan tidak mengizinkan bundanya untuk tidur dengan nyenyak. Hal itu membuat Rose akhirnya memilih bangun perlahan, dan duduk bersandar pada kepala ranjang.

Adik dari Jisoo itu melirik jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Lalu ia melirik kasur di sebelahnya yang ternyata kosong. Padahal seingatnya, beberapa saat lalu ia masih bisa merasakan pergerakan Jimin yang tidur di sampingnya. Tapi, Kemana suaminya pergi?

Matanya kembali berkeliling melihat area sekitar kamar, sampai akhirnya ia menangkap sosok Jimin tengah berdiri di depan kaca jendela dengan posisi membelakanginya. Meskipun suasana kamar remang-remang, Rose tetap bisa mengenali suaminya dari postur dan juga bentuk tubuhnya, yang kini terbalut kaos lengan pendek dan celana training hitam panjang.

"Sayang, ngapain disitu?"

Jimin tidak menjawab. Rose menghela nafas, sepertinya suaminya itu sedang melamun sehingga tidak mendengar pertanyaannya. Akhirnya, Rose pun bangkit perlahan dari kasur, lalu berjalan menghampiri suaminya.

Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk suaminya dari belakang. Lalu menyenderkan pipinya ke punggung pria itu yang terasa dingin. Mungkin karena terlalu lama kena angin malam dari jendela yang terbuka.

"Lagi ada masalah ya? Sini cerita. Jangan ngelamun depan jendela kayak gini, ntar kesambet.. " Rose terkikik kecil. "Dari tadi adek gak mau tidur, gerak terus. Kayaknya dia kangen di elus ayahnya deh."

Jimin melepas belitan tangan Rose, lalu berbalik menghadap wanita itu tanpa kata. Sebelah tangannya terangkat dan hinggap di atas perut buncit Rose yang tertutup daster. Lagi-lagi, tangannya terasa dingin, bahkan cenderung lembab yang tak nyaman.

Saat tangan itu mendarat di atas perutnya, sang jabang bayi bukannya diam, atau bergerak excited menyambut usapan sang ayah seperti biasanya. Bayi itu malah bergerak resah tak tentu arah. Hal itu membuat Rose merasakan sakit yang seperti di remat dari dalam.

"Shhh... adek kok geraknya kayak panik gitu sih? Biasanya kalo di elus ayah suka anteng."

Tangan Jimin masih disana, mengelus perut istrinya dengan pelan dan searah jarum jam. Namun Rose agak mengernyit saat melihat tangan Jimin yang lebih pucat dari biasanya. Wanita itu mendongak, menatap wajah suaminya yang ternyata tengah menyeringai.

"Kenapa sayang?" Tanya Jimin dengan suara yang terdengar dalam dan jauh.

Bukannya tenang, Rose malah merasakan bulu kuduknya meremang. Karena ia merasa senyuman dan suara Jimin sangat janggal. Belum lagi ia mencium bau parfum yang bukan parfum milik suaminya. Biasanya, Jimin menggunakan parfum beraroma mint lemon atau pinus. Namun kali ini tercium seperti wangi bunga segar bercampur tanah basah.

Cklek!

Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Rose reflek menengok, dan saat itu juga tubuhnya dibuat kaku dan jantungnya berdebar sangat kencang.

Di sana, di depan pintu kamar yang terbuka, Jimin lain berdiri dengan baju tidur warna biru. Surai hitamnya acak-acakan dengan mata yang menyipit seperti baru bangun tidur.

DEG

Dengan gerakan patah-patah diikuti keringat dingin yang membasahi tengkuknya. Rose memutar kembali kepalanya ke depan. Di mana sosok Jimin berkaus hitam berdiri dan mengelus perutnya. Namun, sosok itu menghilang, hanya menyisakan aroma bunga dan tanah basah, juga rasa dingin dan lembab di kulit perutnya.

"Ngapain berdiri disitu yank?" Tanya Jimin sembari mengucek matanya. "Nyari aku? Aku gak ilang kok, barusan abis dari dapur, haus." Ucapnya sembari menyalakan lampu di dinding.

Tetangga?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang