"Huek.... "
"Yaelah bang, lo kenapa sih setiap kita mudik mabok mulu?" Jungkook jongkok di belakang Hoseok sembari mengurut tengkuk sang kakak yang sedang memuntahkan isi perutnya di selokan dekat bus terparkir.
"Ya mana gue tau Kook" Balasnya lesu.
"Nih kak minum dulu" Jihyo datang membawa sebotol air mineral yang langsung diminum oleh Hoseok.
Jika kalian bertanya dimana Ryujin? Istri Hoseok itu malah asik godain gadis desa yang lewat bersama Hyunjin, Jisung dan Ni-Ki.
"Neng, neng, munduran dikit....... cantiknya kelewatan...Ahahahah"
"Anjay Ryuuuu!" Jisung memukul bahu sepupunya.
"Kak, dibayangan lo tuh lo siapa sih? Kan lo cewek juga"--Ni-Ki
" Dibayangan gue, gue tuh cogan Ki. Jangankan di rl, di medsos aja gue sering godain cewek." Ucap Ryujin sembari menyisir surainya kebelakang.
"Jangan bilang lo salah satu STAY yang suka godain ENGENE?" Tuduh Hyunjin.
"Kok tau???"
"Ryujin, nih lakik lo mabok perjalanan bukannya di urusin malah godain cewek. Inget gender Ryuuu!" Teriak Jihyo.
Ryujin mendengus lalu beranjak menghampiri Hoseok yang kini sudah kembali berdiri. "Kakak gapapa?"
"Gapapa dek, ini udah mendingan kok"
"Nah bagus kalo gitu, aku gabung mereka lagi ya, bye...." Ryujin kembali ke gengnya meninggalkan Hoseok yang melongo.
"Yuk langsung ke rumah nini aja" Ajak Namjoon diikuti yang lain.
Mereka memarkirkan mobil di lapangan kampung, lalu berjalan kaki menuju rumah nenek keluarga Syarifuddin yang katanya sudah di renovasi.
Karena jalanan sekarang sudah di aspal, maka tidak ada lagi tragedi jalan licin yang membuat terpeleset. Atau baju kotor gara-gara kecipratan air hujan yang menggenang di jalan berlubang.
Namun satu hal yang tidak berubah, yaitu pemandangan alamnya yang masih asri dengan hamparan sawah dan kebun disepanjang jalan. Rumah-rumahnya juga masih berjarak satu dengan yang lain tidak seperti di kota yang saling berdempetan. Hanya saja sudah ada satu dua rumah yang terbuat dari batu bata, bukan lagi pure kayu dan bambu seperti rumah panggung tradisional lainnya.
Sesampainya di kediaman nenek Anah, mereka dibuat tertegun. Karena rumah nenek bukan lagi rumah panggung tradisional yang sederhana. Namun rumah panggung yang kokoh, luas dengan arsitektur indah bak villa tradisional.
Terlihat beberapa pekerja sedang membersihkan rumah dan halaman, sedangkan nenek sedang duduk di kursi kayunya sembari menikmati sirup marjan dan kue khong guan sisa lebaran.
"Rek tepi ka iraha maraneh ngahuleng didinya?" Celetuk nenek yang membuat Seokjin dan Namjoon tersadar dan jalan mendekat diikuti yang lainnya. (Mau sampe kapan kalian bengong di situ?)
Satu persatu anak-anak kota itu masuk ke dalam rumah dan menyalami nenek. Dimulai dari yang tertua, Seokjin, sampai yang termuda, Ni-Ki.
"Joon, ari eta saha meuni gareulis?" (Joon, mereka siapa kok cantik-cantik?)
"Ieu teh pan pun bojo tea ni, neng Jihyo" Ucap Namjoon sembari mengelus pundak Jihyo yang duduk lesehan di sampingnya. (Ini kan istri Namjoon nek, neng Jihyo)
"MasyaAllah jadi ieu teh Jihyo? Hampuranya geulis, nini teu datang basa eta."
(... Maaf ya cantik, nenek gak bisa datang waktu itu)
"Muhun ni, teu nanaon" Jawab Jihyo kaku. Sedikit-sedikit ia mengerti apa yang di ucapkan nenek Anah, karena selama ini ia belajar dengan suaminya. (Iya nek, gapapa)
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga?!
Fiksi PenggemarGimana jadinya kalo keluarga Abah Sihyuk dan 7 buntutnya yang minus akhlak tetanggaan sama keluarga Babeh Jinyoung yang punya 8 bocah prik? (S1&S2) S1=End S2=......
