Rencana VVIP

409 57 21
                                        

"Ahh, Yasha nambah-nambahin aja beban pikiran kalau gini!" Gumam Yoda pelan sambil melangkah menuju dapur.

Dadanya terasa sesak sendiri mendengar curahan hati adiknya barusan. Jujur saja Yoda tidak pernah menyangka kalau Yasha seberharap itu untuk ikut study tour. Selama ini Yasha terlihat cuek, tidak pernah mengeluh soal sekolah atau teman-temannya, Yasha sudah merasa cukup dengan semuanya yang ia punya  enam orang teman baiknya dan tiga orang kakak serta tambahan calon kakak ipar dan kedua orang tuanya sudah cukup membuat hidup Yasha berwarna.

Tapi ternyata tidak, di balik sikap bandel dan cerewetnya itu, Yasha juga punya rasa iri dan ingin merasakan apa yang dirasakan anak-anak seusianya.

Yoda membuka kulkas, mengambil air minum lalu meneguknya hingga tandas separuh botol. Pikirannya melayang kembali ke wajah Yasha tadi, saat anak itu bicara soal perasaan takutnya untuk kembali bersekolah.

"Gak mau balik sekolah lagi, hati Yasha masih takut soalnya."

Kalimat itu terus terngiang di telinga Yoda membuat hatinya terasa perih. Yoda paham betul apa yang dimaksud oleh adiknya. Trauma. Trauma melihat darah, trauma pingsan di tengah kelas, trauma menjadi pusat perhatian karena penyakitnya, dan mungkin juga trauma ditinggalkan atau dikucilkan karena kondisinya yang berbeda dari teman
temannya.

"Dasar anak kecil, pinter ngomong bikin kepala panas tapi giliran curhat malah bikin kepikiran." Yoda mengacak rambutnya sendiri frustrasi.

Dia ingin membantu, tapi bagaimana caranya? Study tour itu kan acara sekolah untuk anak kelas tiga yang mau lulus. Sedangkan Yasha kan sekarang homeschooling, otomatis tidak terdaftar sebagai siswa aktif di sana. Mustahil rasanya kalau Yasha bisa ikut.

💞

Sementara itu di ruang tengah, Yasha yang sudah merebut remote TV malah tidak jadi menonton. Matanya menatap layar kaca tapi pikirannya melayang entah kemana.

Remote TV di tekan seenaknya mengganti channel sana sini tidak ada yang menarik baginya. Hatinya terasa aneh, campur aduk antara malu, kesal, dan juga sedih.

"Kenapa sih gue ngomongin itu ke Kak Yoda." gerutu Yasha pada dirinya sendiri.

"Nanti malah jadi bahan ejekan lagi, gue manja atau ngarep yang enggak-enggak."

Yasha melempar remote TV ke bantal sofa dengan kesal. Badannya lalu merebahkan diri, menatap langit-langit ruang tamu yang tinggi.

Sebenarnya Yasha sadar diri. Dia sadar kondisinya tidak memungkinkan untuk ikut-ikutan naik bus berjam-jam, ikut rombongan ramai-ramai, tidur di hotel, dan jalan-jalan keliling kota tanpa istirahat yang cukup. Badannya pasti tidak akan kuat. Paling-paling baru setengah jalan dia sudah harus masuk UGD lagi.

"Tapi gue cuma pengen ngerasain sekali aja." bisik Yasha pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

"Pengenn banget rasanya bisa angkat koper, pakai lagi seragam bareng-bareng temen yang lain, foto-foto di tempat wisata, beli oleh-oleh, tidur sekamar sama teman. Itu aja kok susah banget sih. Pasti kak Shaquille, ka Nazril, ka Rasya sama ka Xavier ikut juga ini tour. Aahhhhhh makin pengen."

Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya meluncur juga membasahi pelipisnya. Yasha cepat-cepat mengusapnya kasar.

"Ah dasar cengeng! Udah gede masih nangis cuma gara-gara gak bisa jalan-jalan. Malu tau gak sih!" Yasha memarahi dirinya sendiri.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang