Yasha bosan, belakangan ini rumah terasa sangat sepi dan sunyi. Semua orang punya kesibukan masing-masing. Hanna sedang sangat sibuk mengurus rapat dengan para pemegang saham dan urusan manajemen di rumah sakit, pulangnya selalu larut malam dengan wajah lelah. Yasir pun demikian, urusan kantor yang menumpuk membuat ayah Empat anak itu selalu menghabiskan waktu nya di kantor bahkan di hari libur tetap pergi.
Gerdylan juga, sedang disibukkan dengan rapat bulanan di studio musik dan persiapan proyek baru, jadi jarang ada waktu di rumah, anak itu bahkan sudah seminggu ini tidak pulang. Tara bolak-balik antara kampus dan tempat praktiknya di rumah sakit, sementara Yoda sedang fokus mati-matian belajar untuk ujian kelulusan sekolahnya.
Tinggallah Yasha sendirian di rumah yang besar itu. Meskipun ada asisten rumah tangga tapi tetap saja Yasha bosan.
Sejak dia mengambil keputusan untuk homeschooling, lingkar pertemanannya jadi makin sempit. Teman-teman sebayanya yang lain sibuk dengan kegiatan sekolah, ujian, atau kegiatan organisasi.
Yasha duduk termenung di sofa, memainkan ponsel-nya dengan malas. Dia membuka media sosialnya, memantau kegiatan teman-temannya satu per satu.
Dia melihat postingan Jemmy yang sedang belajar bareng teman-temannya di kelas, foto Xavier yang memegang buku tebal dengan tulisan semangat ujian, sampai foto Rasya, Shaquille, dan Nazril yang sedang berseragam sekolah memberitakan kalau mereka sebentar lagi libur setelah ujian selesai.
Semua terlihat sibuk, semua terlihat punya kegiatan, semua terlihat bahagia dan normal.
Hati Yasha terasa perih dan sesak. Bukan sesak karena sakit, tapi sesak karena kesepian dan iri yang menggelayuti hatinya.
"Kenapa sih hidup gue beda banget sama mereka. Mereka bisa sekolah, bisa nongkrong, bisa main bebas. Gue cuma bisa diem di rumah, minum obat terus, dan belajar sendiri..." gerutunya pelan, matanya berkaca-kaca menahan kesal.
Rasa stres dan frustrasi ini makin menjadi-jadi, dan anehnya setiap kali dia stres atau badmood, dadanya terasa lebih berat dan tidak nyaman.
Sebenarnya sejak kejadian telat minum obat dan minum soda kemarin, tubuhnya sudah memberi sinyal bahaya.
Tapi karena gejalanya terasa "ringan" saja, Yasha sering mengabaikannya dan tidak cerita kepada siapa pun. Dia hanya takut dilarang-larang lagi, takut di awasi terus, takut dianggap manja.
Seringkali dia merasa dadanya terasa ngilu dan berat sedikit, kayak ada yang menahan. Jantungnya kadang berdebar kencang tanpa sebab padahal dia hanya sedang duduk diam. Napasnya terasa lebih pendek dari biasanya, harus tarik napas panjang berkali-kali dengan cepat kalau sudah begitu. Badannya pun terasa cepat lemas dan pegal-pegal.
"Ahh... biasa aja kok. Gak sakit kok. Cuma kecapekan doang." begitu selalu alasan Yasha dalam hati sambil mengelus dadanya pelan mencoba meredakan rasa tidak nyaman itu.
Dia pikir itu cuma efek samping biasa, dia pikir dia kuat menahannya. Dia tidak tahu bahwa jantungnya sebenarnya sudah bekerja di ambang batas kemampuannya, dan emosi stres serta kesepian ini malah jadi pemicu tambahan yang berbahaya.
Padahal rumah ini besar dan ada banyak asisten, tapi hari ini kebetulan semuanya sedang diutus keluar oleh Hanna.
Pak Adi yang biasa jaga gerbang, disuruh menjemput Yoda pulang dari bimbel karena hujan mulai rintik-rintik dan Yoda minta dijemput malas naik Bus karena pasti berdesakan dengan yang lain. Pak Hadi selaku supir pribadi sedang dalam perjalanan menuju kantor Yasir mengantar dokumen penting yang tertinggal. Sedangkan Bu Neli yang biasa masak dan urus rumah, disuruh Hanna pergi ke supermarket membeli bahan-bahan segar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Fiksi PenggemarHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
