Mengulang kesalahan!

306 52 39
                                        

Suasana di luar pintu kamar Yasha masih terasa berat dan kacau. Hanna masih terguncang hebat, tubuhnya lemas bersandar sepenuhnya di dada Yasir, bahunya masih berguncang menahan isak tangis yang belum reda. Dia masih belum bisa percaya, anak bungsunya yang selama ini dia kenal begitu polos, ceria, dan penurut, bisa meledak dengan kemarahan sebesar itu. Teriakan Yasha tadi masih terngiang jelas di telinganya, tajam dan menyayat hati.

Dulu, Yasha yang nakal itu nakal dalam artian lucu, lincah, dan penuh tawa. Tapi sekarang? Kemarahan yang terpancar dari mata anak itu seolah ada api yang membakar di dalamnya, membuat Hanna merasa asing sekaligus takut. Dia takut bukan untuk dirinya sendiri, tapi takut sekali kalau emosi yang meluap-luap itu akan merusak jantung rapuh yang sedang berjuang keras bekerja di dalam dada anaknya.

"Gimana ini Pih..." lirih Hanna, suaranya masih parau dan gemetar, matanya menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan pandangan cemas tak berujung.

"Gimana ini kalau jantungnya kumat lagi? Kalau Adek sesak? Kalau Adek kenapa-napa di dalam sana sendirian? Dokter Kim aja kasih izin pulang cuma karena takut mentalnya makin tertekan kalau lama di rumah sakit, tapi ternyata di rumah pun begini jadinya..."

Yasir mengusap punggung istrinya perlahan, berusaha menenangkan meski hatinya sendiri juga sedang dihantui rasa khawatir yang sama besarnya. Dia menatap pintu kamar itu dalam-dalam, lalu menghela napas panjang yang berat.

"Mamih tenang ya... Jangan panik dulu. Gege tadi kan udah pasang CCTV diam-diam di sudut kamar, posisinya aman gak kelihatan Adek. Kita bisa pantau keadaan Adek dari ruang tengah kapan aja. Terus jam tangan pintar yang dipake Adek itu juga sudah disetting datanya bisa kita akses lewat ponsel. Detak jantung, suhu tubuh, semuanya langsung masuk ke HP kita. Kalau ada apa-apa, kita langsung tau kok. Kita gak ninggalin Adek beneran sendirian, kita awasi dia diam-diam aja."

Hanna mengangguk lemah, menyeka air matanya. Setidaknya ada sedikit rasa lega mendengar itu, meski rasa sedih karena hubungan mereka yang jadi renggang tetap terasa menyiksa.

Hari-hari pun berlalu. Seminggu lebih lewat dengan suasana yang cukup sulit namun terasa lebih tenang dibanding hari pertama itu. Seperti kesepakatan tak tertulis, mereka semua berusaha menahan diri. Hanna berusaha keras menahan naluri overprotective-nya, berusaha tidak terlalu sering melarang atau bertanya, berusaha memberi ruang sedikit demi sedikit. Agar Yasha tidak merasa tertekan.

Yasha pun terlihat lebih tenang. Dia tidak lagi berteriak, tidak lagi membanting pintu. Dia banyak diam, banyak menatap kosong ke luar jendela, atau bermain sendiri di kamarnya. Kadang dia mau diajak bicara sebentar, kadang hanya menjawab singkat dengan nada dingin. Namun, Hanna dan yang lainnya tahu, ini bukan Yasha yang dulu. Ini Yasha yang menahan segalanya, Yasha yang menyembunyikan rasa kesal dan sakit hatinya di balik diamnya.

Mereka berpikir, mungkin perlahan-lahan semuanya akan membaik. Tapi mereka lupa, rasa takut di hati Hanna jauh lebih besar daripada kemampuannya untuk menahan diri.

Pagi itu, cuaca sangat cerah dan sejuk di bhari minggu saat semuanya sedang berkumpul karena libur dari semua kegiatan yang menyita. Angin berhembus membawa wangi bunga melati yang tumbuh di pagar halaman. Yasha duduk di teras, menghirup udara dalam-dalam, matanya berbinar sedikit melihat taman yang tertata rapi.

Sudah lama sekali rasanya dia tidak berjalan mengelilingi halaman belakang yang cukup luas itu. Terakhir kali dia kesana saat insiden yang membawa dirinya dan Hanna terbaring di rumah sakit. Mengingat hal itu membuat dada Yasha terasa penuh, tanpa sadar, dia berdiri perlahan, berniat berjalan kaki pelan-pelan menikmati suasana pagi.

Belum sempat kakinya melangkah jauh, Hanna yang sedari tadi mengawasi diam-diam dari balik jendela langsung berlari keluar dengan wajah cemas. Niat baiknya untuk tidak mengatur langsung luntur begitu saja saat melihat Yasha berjalan menjauh sendirian. Hanna hanya khawatir saja, halaman belakang sedikit becek karena hujan semalam, dia takut Yasha akan jatuh.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang