Mobil keluarga Yasir akhirnya memasuki halaman rumah saat menjelang sore. Langit berwarna jingga keemasan, matahari perlahan tenggelam di balik barisan pohon di pinggir kompleks. Biasanya pemandangan seperti ini hanya menjadi latar biasa bagi Yasha. Tapi hari ini, semuanya terasa berbeda.
Hari ini ia melihat dunia dengan mata yang sudah melewati perbatasan hidup dan mati.
Rumah, Halaman, Pagar putih yang sudah dikenalnya sejak kecil. Teras tempat ia sering menghabiskan waktu.
Semua itu tidak lagi sekadar bangunan dan tempat tinggal. Semuanya terasa sangat berharga, sangat dekat, dan menenangkan hati.
Sudah hampir dua bulan lebih sejak terakhir kali ia meninggalkan rumah, saat itu ia pergi dengan kondisi lemah, takut, dan seluruh keluarga dalam keadaan panik.
Setelah deretan pemeriksaan panjang, tindakan medis, operasi pemasangan alat bantu jantung di lengan kirinya, serta dua belas jam masa kritis yang terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung, akhirnya hari ini ia kembali.
Yasha masih menatap keluar jendela mobil saat kendaraan berhenti sempurna di depan teras.
Tidak ada yang langsung turun. Semua hanya terdiam beberapa saat. Seolah mereka semua masih butuh waktu sejenak untuk yakin bahwa ini benar-benar nyata. Bahwa Yasha benar-benar bertahan. Bahwa anak itu masih ada di sini, bersama mereka.
Dan jujur saja, Yasha sendiri juga takut.
Takut tidak bisa melihat rumahnya lagi.
Takut tidak bisa pulang. Takut menjadi alasan keluarganya menangis.
Mobil akhirnya berhenti sempurna.
Namun tidak ada yang langsung membuka pintu. Semua diam.
Seolah sedang menikmati kenyataan bahwa mereka benar-benar berhasil membawa Yasha pulang.
"Udah sampai, Dek." suara Yasir terdengar pelan tapi tegas, memecah keheningan.
Yasha mengangguk pelan. "Iya, Pih." suara nya pelan, teramat teramat pelan.
Ia mencoba mengukir senyum di bibirnya. Tapi bahkan sekadar tersenyum pun terasa memakan banyak tenaga.
Hanna yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. "Kok lemes begitu suaranya?"
Yasha terkesiap.
"Loh?"
"Masih sesak?" Hanna bertanya memastikan.
"Enggak."
"Yakin?"
"Mih."
Belum sempat Yasha melanjutkan jawabannya, telapak tangan Hanna sudah lebih dulu menempel di dahinya, lalu ke pipinya, kemudian ke lehernya.
Yasha langsung pasrah. "Mih..." ucap Yasha setengah merengek.
"Apa?"
"Yasha gak kenapa-kenapa."
Hanna tersenyum, melihat anaknya mulai kesal. "Ini namanya memastikan, dek."
"Memastikan apa lagi emang nya?" Yasha bertanya bingung.
"Memastikan kamu gak bikin Mamih balik ke rumah sakit lagi hari ini."
Yoda yang duduk di kursi depan langsung menyahut tanpa menoleh. "Nah itu, bener Mih!" ucap dengan nada mengejek.
Yasha melongo. "Kalian kompak banget."
"Biarin, biar kapok." Jawab Yoda santai.
"Kenapa? Yang sakit juga Yasha."
"Ya makanya jangan sakit."
"Lah kalau bisa milih juga Yasha gak mau sakit. Nyebelin banget sih!" ucap Yasha mulutnya sudah pajang karena kesel. Dalam hati dia mengumpat, ingin menjitak kepala Yoda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Hayran KurguHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
