Waktu seolah berhenti berputar di ruangan itu. Detak jarum jam terdengar begitu nyaring, seolah ikut menghitung napas kecil yang makin lemah di atas ranjang. Sudah masuk jam ke-8 pasca tindakan, tapi keadaan Yasha masih naik turun tak menentu, belum ada tanda-tanda stabil sepenuhnya.
Tubuh kecil itu sesekali menggigil hebat, padahal selimut tebal sudah menutupi sampai leher. Kadang wajahnya memerah menyala karena demam yang tiba-tiba naik, tak lama kemudian berubah pucat pasi lagi seolah darahnya tersedot habis. Alat pemantau di samping ranjang tak henti berbunyi, suaranya naik turun mengikuti kondisi jantung yang masih berjuang mati-matian beradaptasi dengan cincin penyangga yang baru menancap di dalamnya.
"Panas... panas banget... Dada Yasha kaya, ada yang bakar dalem..." rintih Yasha pelan, matanya terpejam rapat, keringat dingin bercucuran deras membasahi baju dan bantalnya. Tangannya yang kecil terus meraba-raba dada kirinya, seolah ingin merenggut rasa sakit yang menyiksa itu keluar dari tubuhnya. "Mih... sakit... Yasha gak kuat..."
Hanna yang duduk di tepi ranjang langsung memegang tangan itu erat, Hanna mencium punggung tangan anaknya berkali-kali, air matanya jatuh membasahi kulit tangan yang dingin itu.
"Sabar sayang... sabar sedikit lagi... Dokter bilang ini wajar, ini tandanya jantung kamu lagi belajar kerja lebih bagus, tahan ya sayang, tahan demi Mamih, demi semuanya..." suara Hanna parau, bergetar menahan tangis yang nyaris meledak. Hatinya terasa dicabik-cabik melihat anaknya tersiksa seperti ini, dia rela menukar nyawanya asal rasa sakit itu berpindah ke dirinya saja.
Di sisi lain ranjang, Yoda duduk diam kaku, matanya tak lepas dari wajah adik bungsunya. Matanya bengkak dan merah habis menangis berjam-jam, tapi air matanya sudah habis, yang tersisa hanya rasa sakit yang menyesakkan dada. Tangannya terus mengusap pelan dahi dan pipi Yasha, sesekali berbisik doa yang tak putus-putus di bibirnya.
"Ya Tuhan... Jangan ambil nyawanya, kalau tolong lah, lepaskan rasa sakit yang membelenggu di tubuh adikku. Jangan siksa dia seperti ini, dia masih kecil, dia belum menikmati hidupnya, hamba mohon Ya Allah, selamatkan dia..." ucap Yoda dengan kesungguhan hati.
Gerdylan duduk di kursi roda di ujung ranjang, tubuhnya masih lemah tapi dia menolak untuk beristirahat di ruangannya sendiri. Matanya nanar menatap adiknya, rasa bersalah dan sakit hati membuat dadanya terasa mau pecah. Dia merasa tidak berguna, merasa gagal jadi kakak karena tak bisa melakukan apa-apa selain hanya menonton dan berdoa. Tangannya mengepal erat sampai kuku menancap ke kulit, air matanya jatuh diam-diam membasahi selimut di pangkuannya.
Tara dan Sultan berdiri di dekat jendela, saling menguatkan menahan getaran tubuh mereka. Tara menangis diam di dada kekasihnya, sementara Sultan yang sebagai dokter sangat paham betul bahaya yang sedang mereka hadapi, dia terus memantau data di layar dengan wajah tegang dan serius. Dia tahu persis, kondisi seperti ini adalah pertempuran hidup dan mati.
"Kenapa masih belum stabil Dok? Apa cincinnya bergeser? Apa ada yang salah saat dipasang?" tanya Tara pelan, suaranya bergetar ketakutan. Meskipun dia calon dokter tapi otak nya mendadak bodoh ketika di hadapkan dengan kondisi adiknya yang seperti ini.
Dokter Kim yang sejak tadi tak beranjak dari samping ranjang menggeleng perlahan, matanya tetap fokus memantau setiap angka dan garis di layar. "Bukan cincinnya yang salah. Posisi cincinnya pas sekali, tidak bergeser sedikit pun. Masalahnya ada di pembuluh darahnya sendiri. Selama bertahun-tahun pembuluh darahnya itu kaku, sempit, dan terbiasa dengan aliran yang lambat. Sekarang tiba-tiba dipaksa melebar penuh, aliran darah meluncur deras seketika, tubuhnya kaget luar biasa, pembuluh darahnya bereaksi kram dan menyempit kembali secara otomatis sebagai bentuk pertahanan diri. Ditambah lagi ada gumpalan darah kecil yang terus mencoba terbentuk di sekitar cincin karena pergeseran aliran darah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Fiksi PenggemarHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
