Berubah!

387 65 55
                                        

Yasha terbaring setengah duduk, bantal ditumpuk tinggi agar posisinya nyaman. Dia mengenakan baju pasien berwarna putih bergaris biru muda yang terlihat sangat longgar di tubuhnya yang kurus dan masih terasa lemah sisa serangan hebat kemarin.

Ruangan ini luas, dingin, dan mewah. Yasha baru saja dipindahkan ke ruang rawat VVIP sejak subuh tadi, setelah kondisinya dinyatakan cukup stabil dan aman. Selang oksigen tipis masih terpasang di lubang hidungnya, mengalirkan udara segar secara perlahan dan teratur. Di tangan kanannya yang putih mulus, terpasang plester transparan dan selang infus yang meneteskan cairan dengan ritme pelan yang menenangkan, namun bagi Yasha suara tetesannya justru terdengar begitu sunyi dan sepi.

Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya sayu menatap lurus ke langit-langit putih yang bersih. Ada rasa lelah yang berat, ada rasa bersalah yang menyesakkan dada, dan ada rasa tidak nyaman yang terus mengganggu hatinya sejak pertama kali dia membuka mata.

Yang paling membuatnya sedih dan bingung, pagi ini dia mendapati dirinya benar-benar sendirian di ruangan yang besar ini. Tidak seperti biasanya, di mana setiap kali dia terbaring sakit, seluruh anggota keluarga pasti akan berkumpul di sini, duduk di kursi, atau bahkan tidur di sofa panjang yang ada di ruangan tengah tidak jauh dari ranjang nya.

Tapi kali ini, kosong. Hanya ada dia, bunyi mesin pemantau jantung, dan kesunyian yang mencekam.

Yasha ingat betul, serangan kemarin itu terasa yang paling parah dari yang pernah ada. Dia bisa merasakan betapa tubuhnya seakan hancur lebur, napasnya hilang, dan rasanya dia sudah berada di ambang batas antara hidup dan mati semalam. Dia pikir, setelah kejadian mengerikan itu, mereka tidak akan pernah membiarkannya sendirian sedetik pun. Tapi kenyataannya, saat dia membuka mata, tidak ada satu orang pun yang menemaninya.

Otak kecilnya mulai bekerja, mencoba mencerna segala kemungkinan. Rasa sepi itu perlahan berubah menjadi rasa takut, lalu berubah menjadi prasangka buruk.

"Mereka pergi... mereka ninggalin Yasha..." batin Yasha, matanya mulai berkaca-kaca.

"Mereka pasti capek. Capek ngurusin Yasha yang bandel, yang suka bikin ulah, yang cuma bisa nyusahin. Apalagi kemarin Yasha tumbang cuma gara-gara kesalahan bodoh yang Yasha perbuat. Yasha bikin mereka takut, Yasha bikin mereka capek... jadi sekarang mereka udah gak peduli lagi sama Yasha."

Semakin dia berpikir, semakin dalam rasa sedihnya. Dan dalam kesunyian itu, imajinasinya mulai liar, membayangkan hal-hal buruk yang dulu sering mengganggunya saat dia sendirian. Bayangan-bayangan gelap mulai terlihat melayang di sudut ruangan yang redup. Sosok-sosok samar dengan wajah kabur seolah berdiri di dekat pintu, di balik tirai, atau bahkan berjalan perlahan mendekati ranjangnya.

Yasha menelan ludah susah payah, tangannya yang bebas mengepal kuat di atas selimut. Dia mencoba memalingkan wajah, tapi semakin dia melihat ke samping, semakin dia merasa ada sesuatu yang mengawasinya. Suara bisikan halus seolah terdengar di telinganya, mengatakan bahwa dia tidak akan bertahan lama, bahwa dia akan ditinggalkan selamanya, bahwa tidak ada yang benar-benar menyayangi anak yang rapuh dan menyusahkan seperti dirinya.

Jantungnya berdegup makin kencang karena panik, napasnya mulai memburu meski dia berusaha menahannya. Dia kesal... kesal pada dirinya sendiri, kesal pada tubuhnya yang lemah, dan kesal karena merasa dicampakkan oleh orang-orang yang paling dia percaya.

"Kenapa ninggalin Yasha... kenapa..." batinnya lagi, air mata mulai menetes pelan membasahi pipi pucatnya.

Di luar dugaan, alasan sebenarnya jauh dari prasangkanya. Sejak malam kemarin hingga dini hari tadi, seluruh anggota keluarga tidak ada yang tidur. Mereka bergadang, bergantian menjaga, memantau kondisi Yasha, dan berdoa tanpa henti sampai matahari mulai terbit. Baru saja satu jam yang lalu, Dokter Kim memastikan kondisi Yasha aman dan stabil sepenuhnya, lalu menyarankan agar mereka pulang sebentar untuk mandi, ganti baju, dan istirahat sebentar demi menjaga kesehatan mereka juga. Mereka pergi dengan terburu-buru, berniat kembali secepatnya, karena percaya Yasha akan tidur nyenyak cukup lama setelah pengaruh obat penenang.

Namun, semua itu tidak diketahui oleh Yasha yang sedang terjebak dalam ketakutan dan pikiran buruknya sendiri.

Suara pintu terbuka pelan, memecah kesunyian yang menegangkan itu.

Hanna masuk dengan wajah cantik namun terlihat sangat lelah, matanya bengkak dan kantung matanya terlihat jelas sisa semalaman tidak terpejam. Dia berjalan mendekat dengan langkah cepat namun tetap hati-hati.

"Sayang, sudah bangun ya?" tanya Hanna pelan, lalu langsung duduk di pinggir ranjang. Tangannya yang hangat langsung menyentuh dahi anaknya untuk mengecek suhu.

Yasha hanya mengangguk pelan, bibirnya terkatup rapat, tidak menjawab sepatah kata pun. Matanya menunduk dalam, menatap selang infus di tangannya sendiri dengan tatapan dingin dan terluka.

"Mamih..." suaranya terdengar parau, kecil, dan sangat pelan.

"Iya sayang, Mamih di sini. Kita semua baru aja pulang sebentar tadi, mau bersih-bersih pada mandi dulu biar nanti jagain kamu nya lebih seger lagi. Maafin ya kamu ditinggal sebentar." Hanna mengusap rambut halus anaknya dengan penuh kasih sayang.

Namun Yasha tetap diam, bahunya mulai berguncang menahan tangis yang sudah tertahan cukup lama.

"Ma..mih.. Yasha... minta maaf..." rintihnya akhirnya pecah, air matanya jatuh makin deras.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang