Udara dingin merambat masuk ke celah jendela di kamar Yoda yang memang tidak tertutup sempurna.
Yoda masih asik dalam lamunannya, meskipun kejadian nya sudah berlangsung dua hari tapi jeritan dan tangisan dari gadis yang biasa di sapa Ryn itu masih membekas di telinga nya.
Bahkan tanpa sadar tangan Yoda bergetar, siapa yang sangka kalau pertemuannya dengan gadis bernama Ryn itu mampu membuat Yoda tidak tenang dalam dua hari terakhir ini.
Yoda ingat betul saat itu gadis berkursi roda yang tidak sengaja membuatnya jatuh itu tiba-tiba berteriak histeris sebelum Yoda sadar dari keterkejutan nya para perawat sudah berdatangan untuk menolong menenangkan gadis tersebut.
Tangan Yoda beralih menyentuh keningnya yang masih meninggalkan jejak biru keunguan hasil dari lemparan tempat minum yang saat itu di pegang Ryn.
Yoda tidak bisa menghindari saat itu berakhir dengan botol minum berwarna pink itu mendarat mulus di keningnya, sakit nya belum terasa memang sampai umpatan yang dulu sering dia dengar kembali menyapa telinganya.
"Br*ngs*k, GiL*. Tolong siapapun selamatkan aku dari pria jahat itu. TOLONG."
Ryn, berteriak nyaring sekali sampai perawat yang memang menanganinya memberikan obat penenang hingga kesadarannya menipis.
Yoda masih berdiri tegang disana, mengabaikan paper bag yang rusak dan bakpau pesanan Yasha yang sudah berjatuhan.
Seorang perawat datang menghampiri nya saat itu, dan menanyakan keadaan nya karena sempat melihat Yoda terkena lemparan tapi tidak melihat reaksi kesakitan sama sekali.
Padahal perawat itu yakin lemparannya sangat keras terbukti dengan terbukanya tutup botol tersebut hingga airnya membasahi hampir seluruh wajah Yoda sampai menetes ke bajunya.
Yoda tersadar, dan gelagapan sendiri ketika perawat tersebut meminta maaf karena pasien nya yang histeris karena traumanya kembali.
Yoda tidak atau apa yang di perbuatanya, dia hanya mengangguk singkat dan kembali berjalan gontai sampai tidak sadar kalau paperbag rusak tanpa isi itu di bawanya sampai ke kamar rawat Yasha.
Bahkan ketika Yasha marah karena bakpaunya hilang sama sekali tidak di tanggapi, saat itu hanya ada Yasha dan Gerdylan.
Kakak sulung yang melihat kondisi kacau Yoda langsung membawa Yoda ke luar. Mereka tidak mungkin juga membahas sesuatu yang tidak harus di ketahui oleh Yasha.
Yoda mengusap wajahnya, kenapa juga ingatan buruk itu tidak juga hilang dari pikirannya. Yoda menenggelamkan kepalanya di lipatan lututnya mengabaikan ketukan pintu yang terdengar beberapa kali.
Tidak lama dari itu pintu kamarnya terbuka, menampilkan Yasha dengan piyama pink lengkap dengan kardigan coklat nya.
Yasha baru pulang dari rumah sakit kemarin karena kondisi mentalnya juga sudah mulai membaik.
Dokter Yuda menyarankan untuk membawa Yasha pulang agar penyembuhan lebih cepat karena di rumah sakit Yasha seperti terkekang.
Sebenarnya dokter Kim tidak setuju, sebab kalau Yasha di rumah biasanya anak itu tidak akan bisa diam seperti apa yang di prediksi kan dokter Yuda.
Tapi mendengar dokter Yuda yang berpendapat lebih dulu mana mau lagi Yasha menurut dengan dokter Kim.
"Ka Yoda, kenapa malah lesu gitu. Emang besok engga akan ikut?" Yasha bertanya setelah langkahnya berhenti di hadapan Yoda yang masih sama dengan posisinya.
"Ka, orang di tanyain ah gak seru malah diem aja." Yasha sudah kesal karena tidak di tanggapi, menghentak-hentakan kakinya yang beralas sandal rumahan bergambar karakter Batman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanfictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
