Di ruang rawat rumah sakit, Gerdylan terbaring diam menatap langit-langit kamar rawatnya yang luas. Demamnya memang sudah turun sejak pagi, tapi pikirannya malah semakin sibuk. Semalaman dia tidak bisa tidur sama sekali, kepalanya penuh dengan bayangan-bayangan yang membuat hati nya panas.
Dia terus terbayang, Yasha yang manja pasti semalam minta ditemenin tidurnya oleh Jenny. Terus Yoda... dulu adiknya itu pernah berpacaran dengan Jenny, siapa tau saat dirinya tidak ada, mereka malah lebih banyak ngobrol berdua, tertawa bersama, bahkan mengingat tentang masa lalu atau yang lebih parah apa mungkin Jenny malah lebih nyaman bersama mereka daripada dengannya?
Semakin dia berpikirr, semakin pula dadanya terasa diremas kencang. Panas dari ulu hati perlahan naik ke dada dan tenggorokan, membuatnya ingin muntah tapi tidak bisa. Perutnya mulai melilit, rasanya seperti ada yang menarik-narik dari dalam. Napasnya makin pendek, keringat dingin mulai keluar banyak sampai baju bajunya basah.
"Aduh... sakit banget..." erangnya pelan sambil memegang perutnya erat, wajahnya makin lama makin pucat. Asam lambungnya kumat, lebih parah dari biasanya, semua itu gara-gara pikirannya sendiri yang tidak bisa di kendalikan sejak semalam.
Baru saja Gerdylan mau panggil perawat, pintu kamar sudah lebih dulu terbuka. Hanna masuk sambil membawa nampan makanan, tapi senyumnya langsung hilang seketika melihat keadaan anak sulungnya. Nampan di tangannya hampir jatuh, dia langsung lari mendekat, wajahnya pucat ketakutan.
"Gege? Ya Tuhan... kamu kenapa lagi nak?!" Suaranya serak, tangannya gemetar menyentuh pipi dan dahi anaknya yang dingin dan basah.
"Muka kamu kok pucat gini? Napas kamu kenapa berat banget? Bilang Mamih, yang sakit bagian mana?"
"Perih... Mih... perut sama dadanya panas banget... napas gege sesak..." jawab Gerdylan terbata-bata, matanya udah berkaca-kaca nahan sakit. Dia jadi berpikir mungkin ini hal yang selalu di rasakan Yasha saat penyakitnya datang atau bahkan rasanya lebih sakit dari ini.
"Rasanya berat banget pas ngambil napas..." ucap Gerdylan sudah payah, dia baru sadar seberapa kuat nya Yasha. Dia saja di kasih sakit begini rasanya setengah mati, apalagi Yasha.
Hanna langsung menekan tombol panggil berkali-kali sampai bunyinya nyaring. "Dok! Perawat! Tolong cepat masuk! Anak saya kenapa lagi ini!" teriaknya sambil nangis menahan panik.
Tidak lama kemudian dokter dengan kedua perawat masuk buru-buru. Mereka langsung periksa tekanan darah dan saturasi oksigen karena Gerdylan mengeluh sesak.
"Bu tenang dulu ya. Tekanan darahnya naik tinggi, kadar oksigennya Turun ke 90. Itu yang membuat nya sesak, Suster Ina cepat pasang oksigen, atur alirannya sampai napasnya stabil." perintah dokter Hendra tegas.
"Ini karena asam lambung naik sampai menekan saluran napas, tuan Gerdylan tolong istirahat dulunya, jangan berpikir yang berat dulu, semalam kondisi lambung nya sudah lumayan berat di tambah sekarang ini, nanti saya kasih obat suntik ya."
Hanna hanya bisa menahan tangis sambil memegang tangan Gerdylan yang dingin dan gemetar. Hatinya hancur melihat anak sulungnya yang biasa paling kuat harus dipasangi selang oksigen di hidung, napasnya baru pelan-pelan jadi teratur lagi setelah beberapa saat.
"Kamu ini kenapa sih nak, apa yang kamu pikirin sampai asam lambung kamu naik lagi kaya semalam." isak Hanna pelan sambil usap kepala Gerdylan.
Gerdylan hanya bisa memejamkan matanya, air mata menetes keluar dari sudut matanya. Dia tidak bisa jawab kalau dia sedang cemburu, takut kehilangan, tapi dia sadar semua ini salah dia sendiri yang kebanyakan berpikir hal yang belum tentu terjadi.
Hanna faham mungkin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh anaknya jadi dia tidak bertanya lebih, Hanna mengambil ponsel nya dan menghubungi Suaminya memberi kabar tentang Gerdylan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanfictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
