Beranjak siang, Mobil hitam milik keluarga Gemelard perlahan memasuki halaman rumah yang luas. Gerbang besi otomatis menutup kembali di belakang mereka, dan suara mesin akhirnya menghilang, berganti dengan desir angin siang yang hangat.
Yasha menjadi orang pertama yang membuka pintu. Belum Hanna sempat bersuara, ia sudah turun dengan wajah yang jauh lebih cerah dibanding pagi tadi. Di tangan kanannya, kotak putih kecil berlogo toko mochi digenggam erat seolah itu harta paling berharga.
"Yeay... akhirnya pulang!"
Hanna yang baru turun hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. "Pelan-pelan, Dek. Jangan sampai terguling."
"Iya, Mih. Aman!" Jawabnya cepat, meski langkahnya tetap ringan dan penuh semangat.
Yasir ikut turun sambil merapikan kerah kemejanya. Matanya jatuh pada kotak yang dipeluk erat anaknya. "Itu jangan dipeluk terus nanti penyok."
Yasha mendongak. "Loh, mochi mana bisa penyok?"
"Justru Papih takut kamu yang jatuh gara-gara terlalu sayang sama mochinya."
Yasha tertawa renyah. "Enggak lah, Yasha udah kuat."
Sementara seorang petugas rumah membantu membawa barang dari bagasi, Hanna mengambil dua kantong berisi buah, susu, dan bahan makanan. Melihat itu, Yasha langsung mendekat.
"Mamih belanja banyak sekali..."
"Buat nanti sore."
"Emang nya mau ada apa nanti sore?" Tasha bertanya bingung, perasaan mamih gak cerita bakal ada acara.
"Kan Justin sama Jemmy mau datang."
Mata Yasha seketika berbinar terang. "Oh iya! Kirain Yasha bakalan ada tamu lain."
Ia mengepalkan tangan kecil di udara. "Hah, gak sabar deh adek nanti pas tanding pasti Mail menang telak!"
Hanna terkekeh. "Belum mulai udah begitu yakin?"
"Iyah lah, Soalnya Mail udah latihan tiap hari."
Yasir menoleh heran. "Latihan?"
"Iya."
"Latihan apa?"
Yasha menjawab dengan wajah serius seolah menjelaskan strategi rahasia. "Latihan menatap cermin."
Hening dua detik.
Yasir hanya bisa melongo.
Hanna langsung menutup mulutnya menahan tawa. "Siapa yang ngajarin ide itu?"
"Mbah google."
Yasir justru ikut tertawa. "Pantesan Papih lihat ada cermin kecil ditempel di dekat akuarium."
"Itu buat membangun mental Mail." Yasha mengangguk mantap. "Supaya dia berani lihat lawan tanpa gemetar."
"Begitu ya?" Yasir masih kurang yakin.
"Tapi enggak boleh lama-lama." Yasha menambahkan dengan nada peringatan. "Nanti dia stres."
Hanna akhirnya tertawa lepas. "Kasihan juga ya jadi ikan peliharaanmu, sampai harus dilatih psikologisnya."
"Tapi berhasil, Mih!" Yasha mendongak bangga. "Sekarang Mail kalau lihat bayangan sendiri udah enggak kabur."
Yasir menggeleng sambil tersenyum. "Semoga nanti lawannya bukan bayangan sendiri."
"Ih, Papih jahat!" Yasha pura-pura manyun, lalu kembali memeluk kotak mochinya erat.
Mereka bertiga berjalan masuk. Begitu pintu utama terbuka, udara sejuk langsung menyambut. Yasha melepas sepatu dengan cepat, lalu mengangkat kotak mochi tinggi-tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanficHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
