Jam menunjukkan Pukul tujuh belas tiga puluh ketika mata sipit Yasha membuka perlahan meninggalkan rasa lelah yang sejak sore tadi mengganggu tidurnya.
Yasha menguap lebar merentangkan kedua tangannya matanya menelisik sekeliling ruangan yang sepi. Dia berada di dalam kamarnya, otaknya mulai mencerna kejadian sebelumnya kenapa bisa dia sampai berada di dalam kamarnya.
Karena seingat Yasha terakhir kali dia berada itu di rumah sakit, setelah puas menertawakan Yoda saat tindakan di ruang dokter bedah.
Yasha baru ingat kalau saat Mamihnya dan Yoda menuju apotek Yasha malah jalan terus menuju ke parkiran.
Matanya sudah begitu mengantuk saat itu, tapi melihat jam sudah menunjukan pukul setengah empat lewat dia teringat belum sholat ashar. Jadi berbelok sebentar ke masjid di samping parkiran sholat dulu lalu kembali lagi ke mobil langsung tepar.
Yasha bahkan tidak ingat apa-apa lagi sampai akhirnya bangun di kamar dalam keadaan linglung.
"Kebo juga yah gue, tidur hampir dua jam tanpa sadar." Dirinya bermonolog, menunggu sampai kepalanya tidak pusing lagi untuk bisa berjalan keluar dari kamar.
Yasha berjalan perlahan matanya memincing melihat kakak sulung nya yang sudah rapih pakai stelan serba Nevi juga rambut yang sama seperti dirinya duduk di depan tv.
Kapan-kapan Gerdylan mengecat rambut perasaan tadi pagi rambutnya masih hitam.
Dengan rasa malas nya Yasha mendekat lalu duduk di samping Kakaknya.
"Eh, udah bangun?" Gerdylan bertanya basa-basi.
Melirik ke sebelah kanan dimana Yasha datang, remote masih di tangan kanan nya kakinya menyilang dengan tangan satunya menyanggah dagu.
"Belom bangun ka, ini baru arwahnya aja yang bangun." Ucap Yasha seenaknya.
Gerdylan melotot mendengar jawaban adiknya yang sembarangan. "Hus, kamu ini kalau ngomong suka asal aja!" Gerdylan menegur, menyimpan remote tv nya lalu duduk menghadap adik bungsunya.
"Abisnya kakak, orang udah jelas-jelas jalan ke sini yah pasti udah bangun lah. Gak kreatif banget ngasih pertanyaan!" Yasha misuh-misuh, mood nya bangun tidur langsung buruk ketika bicara dengan Gerdylan.
Gerdylan mengusap kepala adiknya, merapihkan helaian rambut Yasha yang berantakan.
"Biasanya juga kalau ngigau adek suka jalan-jalan kok, makanya kakak tanyain beneran bangun apa ngigau." Ujung mata Yasha melirik Gerdylan.
Mau bicara lagi tapi takut malu, Yasha bahkan tidak sadar kalau pernah mengigau begitu, yang dia tau dia mengigau hanya bicara tidak jelas saja tidak sampai kejauhan sampai jalan-jalan begitu.
"Mamih mana kak?" Yasha mengalihkan pertanyaan, dia mengusap matanya yang ternyata masih berat ingin tidur kembali sebenarnya tapi sebentar lagi adzan magrib.
"Jangan suka kebiasaan ngucek mata, nanti minus."
Kening Yasha berkerut. "Emang iya?" Anak itu bertanya menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap mata.
"Engga tau juga sih, mitos apa fakta." Ucap Gerdylan santai.
Yasha menghembuskan napasnya kasar, emang paling bener itu ngomong sama Tara kalau soal beginian dari pada dengan Gerdylan buat emosi. Memberi nasihat tapi tidak tau kebenaran nya, kan aneh.
"Mamih kemana ka, di tanyain juga gak di jawab!"
"Eh, lupa. Mamih pergi dulu sebentar mau ke tempat Tante Husada, Katanya ada perlu." Jelas Gerdylan, anak itu kembali fokus kepada tv di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanfictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
