Sedikit penjelasan.

295 42 26
                                        

Suara teriakan menggelegar itu seketika membuat suasana taman yang tenang berubah menjadi mencekam. Sidiq terlonjak kaget, tangannya yang sedari tadi menopang tubuh lemas Yasha refleks terlepas. Tanpa sandaran lagi, tubuh kecil itu melorot pelan, jatuh menyandar sepenuhnya ke bangku kayu, matanya terpejam rapat, dadanya bergerak naik turun sangat pelan dan pendek seolah berjuang keras hanya untuk sekadar menghirup udara.

"YASHAAAAA!!!!!!"

Yoda berlari secepat kilat, napasnya memburu, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendorong tubuh Sidiq menjauh dengan kasar, lalu berlutut di samping bangku, langsung merengkuh tubuh adiknya ke dalam pelukan erat.

"Yasha! bangun Yash! Lihat Kakak! Ayo bangun DEK!" panggil Yoda panik, tangannya gemetar hebat saat menyentuh pipi dan dahi adiknya yang terasa sangat dingin namun kulitnya basah kuyup oleh keringat.

"YASH, jangan main main kaya gini, gue gak suka, buka mata Lo!"

Air mata Yoda jatuh membasahi pipi pucat Yasha. Rasa takut, marah, dan bersalah bercampur jadi satu. Dia menatap tajam ke arah Sidiq yang berdiri terpaku beberapa langkah di depannya, wajahnya merah padam menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Lo, lagi? SEKARANG LO MAU NGELAK APA LAGI, APA YANG LO LAKUIN SAMA ADEK GUE KALI INI!!!" Bentak Yoda, suaranya parau dan penuh kebencian. Dia berdiri, menatap Sidiq dengan pandangan membunuh, tangannya mengepal erat sampai urat-urat di lengannya menonjol.

"Gue udah bilang jangan pernah deket-deket adik gue lagi! Apa lo gak pernah puas bikin dia sakit?! Dulu lo bikin dia masuk Rs samapai takut masuk ke sekolah, tapi lo gak ngaku dan kita gak punya bukti. Sekarang apa lagi?!"

Sidiq berdiri kaku, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar ingin bicara tapi tak ada suara yang keluar. Dia menunduk dalam, tak berani menatap kemarahan Yoda. Dia sadar, apapun yang dia katakan sekarang takkan bisa memaafkan posisinya yang terlihat seolah sedang menyakiti Yasha. Dia memang pantas disalahkan, karena sejarah kelam di antara mereka terlalu dalam untuk dihapus hanya dengan kata maaf atau salah faham.

"Gue... gue gak berniat nyakitin dia, Yoda. Gue cuma..." Sidiq mencoba menjelaskan pelan, suaranya lirih.

"DIEM! GUE GAK MAU DENGAR ALASAN LO SAMA SEKALI!" potong Yoda geram, lalu kembali beralih menatap adiknya yang masih tak sadarkan diri.

"Yasha... ayo bangun... Kakak minta maaf ninggalin kamu sebentar, maafin Kakak ya... Jangan kaya gini kakak takut."

Belum juga Yasha bereaksi, langkah kaki cepat terdengar mendekat. Dokter Kim datang berlari diikuti oleh Tara, Hanna, dan Sultan yang baru saja mendapat kabar lewat pengumuman rumah sakit. Dokter Kim langsung berlutut, memeriksa nadi dan napas Yasha dengan sigap.

"Dok... tolong adik saya Dok... dia kenapa lagi? Dia kenapa gak bangun-bangun?" tanya Yoda terbata-bata, tangannya masih menggenggam tangan dingin Yasha erat sekali. Dia takut kalau di lepas adiknya akan menghilang.

"Tunggu sebentar, biar saya cek!" perintah Dokter Kim tegas tapi tenang. Dia mengeluarkan stetoskopnya, mendengarkan detak jantung yang terdengar sangat lemah dan tidak beraturan. Wajah Dokter Kim berubah serius, lalu dia menoleh ke perawat yang ikut bersamanya. "Segera bawa ke ruang observasi lantai bawah! Segera!"

Hanna yang baru sampai langsung menjerit histeris saat melihat kondisi bungsunya, disusul tangis Tara yang langsung memeluk ibunya. Sultan langsung menghampiri Yoda, memegang bahu adik kekasihnya yang gemetar hebat, berusaha menguatkan meski hatinya pun tak kalah hancur.

Saat mereka semua sibuk mengurus Yasha, Sidiq perlahan mundur, menghilang di balik rimbunan pohon taman, membawa rasa bersalah yang makin membebaninya. Dia sadar, kehadirannya hanya membawa malapetaka bagi anak itu.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang