Akumulasi!

375 59 24
                                        

  Suasana di dalam rumah saat ini benar-benar mencekam. Lampu-lampu utama dinyalakan terang benderang, kontras sekali dengan suasana hati yang gelap dan mencekam.

Yasha sudah dipindahkan ke sofa besar ruang tamu. Pak Adi dengan sigap menutupi tubuh anak majikannya itu dengan selimut tebal dan handuk kering untuk menyerap sisa air, namun upaya itu terasa sia-sia karena suhu tubuh Yasha sudah turun drastis.

Wajah anak bungsu itu pucat pasi, bibirnya mulai membiru, dan napasnya terdengar sangat lemah, cepat, dan tersengal-sengal seperti orang yang baru saja menempuh lari maraton, padahal dia hanya terbaring diam.

Dug... Dug... Dug...

Jantungnya berdetak sangat kencang dan tidak beraturan, bisa dilihat dari gerakan dadanya yang naik turun dengan panik.

Tiba-tiba mata Yoda tertuju pada pergelangan tangan adiknya. Yasha memakai jam tangan pintar canggih yang memang khusus dipakai untuk memantau kondisi kesehatannya setiap saat.

Layar jam itu menyala, menampilkan data yang membuat darah Yoda seakan berhenti mengalir.

📊 Detak Jantung: 155 x/menit (Sangat Tinggi)
📊 Saturasi Oksigen: 88% (Sangat Rendah/Bahaya)

"Ya Allah... Lihat Pak Adi! Liat angkanya kacau, Oksigennya turun terus tapi detak jantung nya tinggi banget!" teriak Yoda histeris, tangannya gemetar hebat menunjuk layar jam itu. Angka-angka itu berubah-ubah dengan tidak stabil, menunjukkan betapa beratnya perjuangan tubuh Yasha saat ini. Meskipun tidak begitu mengerti tapi Yoda masih ingat saat Tara menjelaskan angka bahaya dan angka normal data di jam tangan Yasha itu.

"Cepat, Kita harus kasih oksigen, Di lemari sebelah kanan ada tabung oksigen portabel milik Yasha! Pak adi tolong ambilkan!" perintah Yoda.

Pak Adi langsung berlari kencang membuka lemari penyimpanan alat kesehatan. Benar saja, ada tabung oksigen lengkap dengan maskernya yang memang selalu disiapkan Hanna untuk keadaan darurat.

Tapi masalah lain datang.

"Pak! Ini gimana cara bukanya? Ini tuasnya mana? Kenapa gak keluar anginnya?" Yoda panik setengah mati mencoba memutar katup dan memasang selang, tapi dia dan Pak Adi sama sekali tidak paham cara mengoperasikannya dengan benar. Mereka bukan tenaga medis, dan biasanya Hanna atau Tara yang selalu menangani Yasha kalau keadaan darurat seperti ini.

"Sialan! Kenapa gak bisa jalan! Adek Yasha butuh oksigen sekarang!" Pak Adi ikut panik mencoba membantu, tapi tabung itu tetap tidak mengalirkan udara. Mereka berdua hanya bisa terpaku menatap angka saturasi di jam tangan Yasha yang sempat turun sampai 86%, sementara napas Yasha makin terdengar ngik-ngik dan tersengal.

"Yash... Bertahan ya... Tolong bangun Yash, please." Yoda menangis semakin keras, dia kembali menggenggam tangan adiknya yang semakin dingin, merasa tak berdaya melihat angka-angka di pergelangan tangan itu yang menandakan nyawa adiknya berada di ujung tanduk.

Tak lama kemudian, suara rem mobil melengking keras terdengar di halaman. Hanna melompat turun dari mobilnya sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. Dia berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah yang berantakan.

"YASHA!!!" teriaknya memecah keheningan.

Begitu melihat kondisi anaknya terbaring lemah dengan wajah sepucat kertas, Hanna langsung lemas, tapi rasa panik membuatnya tetap kuat berlari.

"Yasha.." isak Hanna, langsung berlutut di samping sofa. Tangannya yang gemetar langsung mengecek jam tangan di pergelangan anaknya.

Melihat angka SpO2 88% dan Denyut jantung 150, dunia Hanna seakan runtuh. Itu angka berbahaya, sangat berbahaya bagi kondisi Yasha.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang