Penyelesaian.

360 56 24
                                        

Suasana hening itu terasa menyakitkan, hanya terdengar isak tangis tertahan dari balik pintu dan napas berat Hanna yang kian sesak. Kalimat terakhir Hanna tadi "mamih yang salah melahirkan kamu dengan jantung yang gak kuat..."menusuk lebih dalam dari apa pun, bukan hanya ke hati Yasha, tapi juga ke hati semua orang yang mendengarnya.

Yasir segera memeluk tubuh istrinya yang terguncang hebat itu lebih erat, air matanya pun akhirnya tumpah juga. Dia menundukkan wajah, menahan rasa sesak yang mencekik lehernya.

"Jangan ngomong gitu, Mih... Jangan salahkan diri sendiri... Semuanya salah kita berdua... Kita terlalu takut, sampai lupa kalau dia juga punya hati, punya perasaan, punya harga diri..." bisik Yasir parau, tangannya mengusap punggung Hanna mencoba memenagkan istri nya yang sedang kacau.

"Kita pikir dengan mengatur segala hal, kita bisa jagain dia... tapi ternyata kita malah yang bikin dia sakit tambah parah, bikin dia merasa asing di rumah sendiri karena gak ngehargain keputusan nya."

Gerdylan, Yoda, dan Tara berdiri di belakang mereka, sama-sama menunduk tak berani bicara. Mereka merasa bersalah juga. Selama ini mereka hanya ikut mendukung cara orang tua mereka memperlakukan Yasha, menganggap itu semua demi kebaikan, tanpa pernah benar-benar mencoba masuk ke dalam perasaan adik kecil mereka itu.
Mereka baru sadar sekarang, betapa berat beban yang dipikul Yasha sendirian selama ini, beban sakitnya, beban rasa ingin bebas, dan beban merasa jadi beban bagi orang lain.

Di dalam kamar, kalimat ibunya itu terdengar sangat jelas menembus celah pintu.

"Mamih yang salah... Mamih yang salah melahirkan kamu dengan jantung yang gak kuat..."

Kalimat itu berputar terus di kepala Yasha, menghantam dadanya yang sudah sakit jadi makin remuk. Rasa bersalah yang tadi sudah ada, kini tumbuh menjadi raksasa yang menindihnya sampai dia hampir tak bisa bernapas lagi meski dibantu oksigen.

Yasha menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat, air matanya makin deras mengalir, membasahi tali masker sampai terasa basah dan lengket di kulitnya.

"Bukan... bukan salah Mamih... Semuanya salah Yasha... Salah Yasha yang sakit... Salah Yasha yang bikin Mamih sedih... Salah Yasha yang bikin semuanya hancur..." batinnya menjerit dalam diam, rasa sakit fisik yang dia rasakan tadi seolah hilang tertutup rasa sakit batin yang berkali-kali lipat lebih menyiksa.

Dengan sisa tenaga yang ada, meski tubuhnya masih lemas dan dadanya masih terasa nyeri, Yasha berusaha bangkit berdiri lagi. Kakinya masih gemetar hebat, pandangannya masih sedikit kabur, tapi keinginannya untuk menghapus rasa bersalah ibunya lebih kuat dari rasa sakit apa pun.

Dia melepas masker oksigen dari wajahnya dengan tangan yang masih bergetar, meletakkannya sembarangan di lantai, lalu berjalan terhuyung-huyung mendekati pintu.

Tangan kecilnya yang dingin perlahan naik memegang kunci pintu itu. Dia ragu sebentar, mendengarkan lagi isak tangis ibunya di luar sana. Hati kecilnya berteriak ingin berlari masuk ke pelukan itu, ingin meminta maaf, ingin bilang dia tidak apa-apa, ingin bilang dia sangat mencintai mereka semua.

Klik...

Bunyi kunci terbuka terdengar sangat jelas dan nyaring di tengah keheningan yang tebal itu.

Pintu kayu itu perlahan terdorong keluar. Membuka sedikit demi sedikit, menampakkan wajah Yasha yang bengkak, pucat pasi, mata merah, dan rambutnya berantakan. Dia berdiri di sana dengan tubuh yang masih berguncang hebat, menopang dirinya di daun pintu agar tidak jatuh.

Mata mereka semua langsung tertuju padanya. Hening sejenak, lalu tangis Hanna makin menjadi-jadi saat melihat keadaan anaknya yang menyedihkan itu.

"Sayang..." panggil Hanna lirih, nyaris tak terdengar.

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang