Kabar baik!

275 41 146
                                        

Pagi musim kemarau di Jakarta mulai terasa hangat. Jam digital di atas nakas baru menunjukkan pukul 06.30 WIB.

Yasha baru saja terbangun setelah sempat tidur lagi usai salat Subuh. Wajahnya masih terlihat mengantuk, bahkan matanya belum benar-benar terbuka.

Sambil menggeliat malas, ia menarik selimut hingga menutupi dagunya. Tangannya kemudian meraba-raba sisi tempat tidur tanpa melihat.

"...HP." Tidak ketemu. Ia meraba ke sisi lain lagi.

"Loh?"

Baru setelah membuka sebelah mata, ia melihat ponselnya ternyata terjatuh di bawah bantal.

"Nah, ketemu."

Ia membuka grup WhatsApp khusus ikan cupang yang hanya beranggotakan dirinya, Justin, dan Jemmy. Grup itu masih sepi. Tidak ada pesan baru.

"Hah... pasti mereka lagi siap-siap berangkat sekolah. Nanti siang pasti baru rame." gumam Yasha pelan sambil memejamkan matanya lagi.

Hari ini sebenarnya sudah ia tunggu sejak semalam. Karena Jika kontrol rutinnya selesai cepat dan hasilnya bagus, sore nanti kedua temannya berjanji akan datang membawa ikan cupang mereka. Yasha bahkan sudah menyiapkan Mail, ikan kesayangannya, sejak tadi malam. Mengingat hal itu, senyumnya perlahan mengembang.

Namun saat baru hendak duduk tegak, tiba-tiba ada sensasi mengganjal di hidungnya.

"Hm?"

Refleks ia mengusap bawah hidung dengan punggung tangan. Sesaat kemudian alisnya berkerut pelan.

"...Darah?"

Ia menatap punggung tangannya. Ada bercak merah tipis di sana. Cepat-cepat ia mengambil tisu di nakas, lalu mengusap pelan. Benar saja, masih ada sedikit darah yang menempel.

"Hah... mimisan lagi."

Yasha melirik ke arah bantal putihnya. Di sana tampak bercak kecil yang sudah mulai mengering. Ia menggeleng pelan.

"Untung cuma dikit."

Ia mengambil beberapa lembar tisu baru, menekan pangkal hidung persis seperti yang diajarkan perawat dulu. Kurang dari dua menit, darah itu benar-benar berhenti.

"Nah, selesai."

Tepat saat ia hendak membuang tisu bekas ke tempat sampah, pintu kamar diketuk pelan.

Tok... tok...

Hanna membuka pintu kamar. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya melihat Yasha sudah terjaga.

"Alhamdulillah udah bangun. Tidurnya nyenyak?"

"Nyenyak kok."

"Ya udah, jangan rebahan lagi. Sana mandi dulu, nanti kita berangkat kontrol jam delapan. Papih juga bentar lagi siap."

Yasha menyingkirkan selimut dan baru hendak berdiri dari tempat tidurnya ketika pandangan Hanna tertuju pada tisu yang masih berada di tangan putra bungsunya. Ada bercak merah samar di sana.

"Bentar dulu, Itu darah?"

Yasha ikut melirik tisunya, lalu menjawab santai.
"Oh iya... barusan Yasha mimisan."

Wajah Hanna seketika berubah serius. Ia langsung menghampiri putra bungsunya.

"Mimisan? Dari kapan?"

"Barusan kok, Mih. Pas baru bangun."

"Darahnya banyak?"

"Enggak. Cuma sedikit, terus langsung berhenti."

Hanna mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran.
"Terus sekarang gimana? Pusing? Lemas? Sesak? Jantungnya berdebar?"

Gema Yasha GemelardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang