"Dek, tolong ambilin selimut kakak yang hijau gambar keropi di kamar mamih." Yasha melirik tapi tetep di turuti keinginan kakanya.
Yasha kembali membawa selimut bulu lalu memberikannya kepada Yoda. "Ini." Yoda menerimanya dengan senyuman cerah.
Baru adiknya ingin duduk Yoda sudah menyuruhnya lagi. "Dek, mintain susu ke mamih. Kakak haus." Yasha menurut juga meski dengan helaan napas, berdiri lagi pergi ke dapur dan kembali dengan segelas susu segar dari kulkas.
"Kok, dingin." Yoda protes padahal susu nya baru di pegang belum di cicipi.
"Mamihnya lagi sibuk di dapur sama Bu Neli, Yasha gak bisa buatin susu coklat kakak." Yasha duduk di samping Yoda, anak itu baru ingin menyandarkan punggung nya tapi Yoda menahannya.
"Loe di bawah aja, kaki gue pegel pengen selonjoran."
Rasanya Yasha ingin menendang kaki Yoda yang dengan tidak sopannya menggeser badan dia hingga hampir jatuh.
Padahal dari tadi sudah di bantu ini itu tapi malah tidak sopan. Kesal tapi ketika melihat tangan kakak nya yang di perban Yasha jadi kasian.
Apalagi kalau ingat bagaimana histeris nya Yoda yang berjerit kesakitan teriak-teriak kalau dia sekarat.
Padahal sekarat saja tidak, buat panik saja mana tangannya darahnya banyak sekali. Sekali di lihat ternyata robek tangannya entah terkena apa.
Semuanya heboh, Rasya bahkan sampai menyarankan panggil ambulan karena wajah Yoda yang sudah pucat.
Untung saja Xavier selaku yang paling tua dan dewasa bisa di andalkan. Dia kebetulan naik motor jadi bisa membantu membawa Yoda ke klinik terdekat.
Perginya bertiga Xavier di depan di tengah Yoda dan di belakang Nazril katanya takut Yoda pingsan di jalan jadi Nazriel membantu menjaga di belakang.
Rombongan yang lain menyusul pakai sepeda listrik, Yasha juga sudah menelpon Hanna untuk menyusul.
Sampai di klinik Yoda sedang di tangani, tangannya yang luka dapat jahitan lima. Yoda bahkan jerit jerit memanggil Hanna, anak itu menangis tanpa henti. Bahkan setelahnya di suntik oleh dokter masih belum berhenti nangis nya.
Yasha jadi kasihan, muka Yoda sudah jelek sekali. Air matanya meluber kemana-mana belum lagi ingusnya yang meleleh Yasha merinding melihatnya.
Hanna datang setelah Yoda selesai di perban, tangisan nya sudah reda timbul kembali melihat mamih nya yang datang bersama Gerdylan dan Jenny.
Entah kebetulan atau apa, saat itu Jenny dan Gerdylan ada bersama Hanna, yang jadi perhatian Yasha saat itu bukan lagi kehadiran Jenny yang tiba-tiba bisa akrab bersama maminya.
Tapi sandal yang di pakai oleh kekasih kakaknya itu yang jadi perhatian Yasha saat ini. Bahkan tangisan Yoda membuat Yasha tambah kesal.
Yasha tidak bicara apa-apa hanya menatap sinis Kakak sulung nya lalu melewati nya sambil menginjak kaki Gerdylan cukup kencang. Gerdylan mengadu kesakitan, tanpa tau apa kesalahannya mau marah-marah juga percuma jadi dia diam.
.
"Yash, ambilin kue dong." Yasha menoleh kebelakang dimana Yoda berbaring sedangkan dirinya duduk di bawah beralas karpet.
Tatapan mata Yasha memperlihatkan betapa kesalnya anak itu saat ini. "Itu kan deket, gak bisa apa ambil sendiri!" Telunjuk Yasha mengarah pada meja tiga langkah dari tempatnya duduk.
Tangan kiri Yoda menggapai angin, seolah ingin meriah kue tersebut tapi badannya tidak gerak sama sekali.
"Gak nyampe." Ucap nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Hayran KurguHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
