Waktu terasa berjalan sangat lambat di ruangan itu. Dua belas jam penuh ketakutan telah terlewati, tapi ketenangan yang datang tidak langsung terasa lega sepenuhnya, masih ada rasa waspada yang menggantung di udara, seolah siap berubah menjadi bahaya kapan saja.
Yasha masih terbaring diam di atas ranjang. Matanya terpejam rapat, napasnya naik turun pelan, teratur tapi terdengar sangat ringan, seolah tubuhnya sedang menghemat setiap tetes tenaga yang tersisa. Wajahnya tidak lagi seputih kain seperti saat pendarahan terjadi, tapi warnanya masih pucat, terlihat kontras dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya hingga dada. Di bawah kelopak matanya yang tertutup, terlihat sedikit bengkak akibat tangisan dan rasa sakit yang ia alami. Di sudut bibir dan lubang hidungnya masih ada sisa darah kering yang sudah dibersihkan secara hati-hati, meninggalkan bekas merah muda samar. Di punggung tangan kirinya, selang infus masih terpasang rapi, jarumnya tertutup perban tipis, terlihat jelas di sana ada bekas tusukan yang memar keunguan.
Alat pemantau di samping ranjang masih tetap terhubung, suaranya kini berirama tenang, dug... dug... dug... - menandakan detak jantung yang stabil di kisaran 70-75 kali per menit. Angka tekanan darahnya juga perlahan naik, meski masih berada di batas bawah normal, 100/65 mmHg. Kadar oksigen di dalam darahnya sudah kembali aman di angka 94-96%.
Hanna duduk di sisi ranjang, tangannya memegang pelan tangan kiri Yasha. Ia tidak bergerak banyak, hanya sesekali mengusap punggung tangan anaknya yang masih terasa dingin, atau menyeka keringat halus yang sesekali muncul di dahi Yasha dengan handuk kecil. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab, tapi ada ketenangan kecil yang mulai muncul di sorot matanya, berbeda dengan tatapan panik yang ia miliki beberapa jam lalu.
"Alhamdullilah nak, semuanya sudah lewat,... Masa terberat nya sudah lewat." bisiknya sangat pelan, hanya cukup terdengar oleh dirinya sendiri. "Sekarang cukup istirahat saja, pulihkan tenaga sedikit demi sedikit..."
Di sisi lain, Yoda duduk di kursi yang agak menjauh sedikit, tapi matanya tidak pernah lepas dari wajah adiknya. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak, hanya diam mengamati setiap perubahan kecil yang terjadi. Setiap kali napas Yasha terasa sedikit lebih panjang, atau setiap kali otot kecil di wajah Yasha bergerak seolah ia sedang bermimpi, pandangan Yoda langsung menjadi lebih tajam, siap bereaksi jika ada sesuatu yang tidak beres.
Yoda menjadi seperti itu karena rasa takutnya melihat kondisi Yasha sebelumnya, ingatannya terus terulang bagaimana adiknya kesakitan hingga muntah darah dan mimisan membuat satu ruangan panik.
Sesekali Yasha menggigil pelan, meski suhu ruangan sudah diatur hangat. Itu adalah reaksi sisa dari rasa dingin yang sempat menjalar ke seluruh tubuhnya saat tekanan darahnya turun drastis. Setiap kali hal itu terjadi, tanpa perlu disuruh, Yoda akan berdiri, mengambil selimut tambahan yang sudah disiapkan di atas meja, dan menyelimuti tubuh Yasha dengan gerakan yang cepat namun sangat hati-hati, seolah ia sedang memegang benda yang sangat rapuh.
"Jangan sampai kedinginan," gumamnya pelan, suaranya terdengar ketus seperti biasa, tapi gerakan tangannya sangat lembut saat merapikan selimut agar tidak ada celah yang terbuka.
Yasir yang duduk di ujung ranjang menatap kedua anaknya, lalu menoleh ke arah Dokter Kim yang sedang mencatat di papan pasien.
"Apakah ini benar-benar aman sekarang, Dok? Tidak ada bahaya lagi yang tiba-tiba muncul?" tanyanya dengan nada hati-hati.
Dokter Kim berhenti menulis, lalu menoleh sambil mengangguk pelan. "Secara umum, ya. Masa kritis 12 jam sudah lewat. Cincinnya tidak bergeser, aliran darah mulai lancar, dan pendarahannya sudah berhenti total. Tapi saya harus jujur, kita belum bisa bernapas lega sepenuhnya. Tubuhnya masih sangat lemah, dan butuh waktu lama untuk benar-benar beradaptasi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanfictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
