Sudah genap satu minggu berlalu sejak hari yang penuh gejolak emosi itu. Perjalanan pemulihan Yasha berjalan perlahan namun pasti, mengikuti irama jantungnya yang butuh waktu lama untuk kembali tenang dan stabil. Wajahnya yang semula terlihat sangat pucat dan lesu, kini perlahan mulai memerah kembali mendapatkan rona segar. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah menghilang, selang oksigen yang selama ini menempel di hidungnya sudah dilepas tiga hari yang lalu, dan selang infus di tangannya pun sudah dicabut sepenuhnya kemarin sore.
Nikmat mana yang Yasha dustakan kali ini, Memang benar, tenaganya belum sepenuhnya pulih seperti semula. Kalau dia berjalan terlalu jauh atau bergerak terlalu cepat, dia masih akan merasakan detak jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya dan tubuhnya seketika terasa lemas luar biasa.
Tapi bagi semua orang di rumah itu, perubahan yang terjadi dalam seminggu ini sudah merupakan anugerah terindah yang bisa mereka syukuri. Lebih dari itu, semangat hidup Yasha dan sifat aslinya yang ceria, nakal, dan suka bercanda sudah bangkit seratus persen, persis seperti apa yang selalu dirindukan oleh seluruh anggota keluarganya.
Pagi itu, suasana di ruang tengah terasa cerah dan hangat. Sinar matahari pagi masuk menerobos lewat celah tirai jendela, menyinari lantai keramik yang bersih mengkilap hasil kerja kertas Bu Neli pagi ini. Hanna baru saja selesai menyiapkan sarapan dan menaruh sepiring besar kue lapis legit yang harum baunya tepat di tengah meja makan. Belum sempat dia memanggil mereka untuk makan, pertarungan kecil sudah dimulai lebih dulu.
"Gue yang pegang dulu! Dari jam tujuh pagi tadi loe udah duduk di depan TV dan nonton kartun sampai dua episode penuh! Giliran gue sekarang, gue juga mau nonton acara penemuan hewan yang lagi seru-serunya itu!" seru Yoda sambil memegang erat salah satu ujung benda persegi itu, menariknya sedikit ke arah tubuhnya.
Yasha yang duduk bersila di atas sofa langsung menarik ujung sebaliknya dengan sekuat tenaga, wajahnya tertekuk menahan tenaga meski dia tahu tenaganya tidak akan sebesar Yoda, tapi mana ada kata mengalah bagi Yasha.
"Nggak mau! Belum selesai ceritanya! Kakak kan bisa nonton lewat hape! Yasha kan lagi di batasin main hape sama mamih, jadi ini tv milik Yasha dulu, Yasha berhak pegang remote nya!" bantahnya dengan nada tinggi, matanya membulat menatap tajam ke arah kakaknya seolah sedang menantang.
"Enak aja loe, gue juga berhak. Siniin, hape gue lagi di cas. Bisa meledak kalau main hape sambil cas!"
"Ih, itu mah urusan lo. Suruh siapa main hape sampai abis batre gitu, mata nya rusak baru tau!"
"Lah, malah nyumpahin ini anak, sini ah cepetan, nanti keburu abis acaranya. Ada tugas terakhir ni yang harus di kumpul buat nambah nilai." Yoda mencoba merebut lagi remote tv nya tapi Yasha lebih keras, dia menyembunyikan remote itu di perut di dalam baju.
"Alah, bilang aja remedial. Mana ada tugas tambahan setelah selesai ujian akhir, nilai lo tu aja yang jeblok jadi butuh tambahan!"
"Sialan emang! Mana ada, gue pinter yah. Loe gak tau aja nilai ujian gue tu seratus semua!" Yoda menyilangkan kedua tangannya depan dada, dengan wajah sombongnya nya. Dia mencoba meyakinkan Yasha.
"Bohong banget, Yasha denger kok kemarin papih marah Nilai loe jeblok." Yasha tertawa puas sampai kening Yoda mengerut kesal.
"Asli, ni anak yang sembuh mulutnya duluan?" tanya Yoda pada dirinya sendiri.
Belum selesai urusan memperebutkan remot, hidung mancung Yasha menangkap aroma manis yang sangat menggugah selera. Matanya beralih sekejap, melihat piring kue lapis yang masih mengepulkan uap hangat. Tanpa pikir panjang lagi, dia berdiri melesat cepat meraih dua potong kue sekaligus, lalu memasukkannya ke piring kecil di hadapannya, membuat remote dalam bajunya terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
FanfictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
