UNA - Chapter 53 : Pembalasan

102 13 1
                                        

***

Gue terus merhatiin Yoga dari kursi gue.

Dia keliatan asik ngobrol sama Fandar temen sekelas gue yang emang temen satu bangku dia.

Gue terus mainin pensil gue sambil terus merhatiin dia. Tatapan gue kayak susah lepas dari dia, karena apa? Karena hari ini waktu yang tepat. Tangan gue udah gatel.

" Na, Una. "

Gue reflek nengok pas Vanessa manggil nama gue berulang kali.

" Iya, Sa kenapa? "

" Menurut lu itungan gue bener atau gak? "

Gue langsung liat buku tulis Vanessa yang penuh dengan angka. Asli pusing liatnya.

TRINGG!!!

Jantung gue langsung dibikin meledak saking senengnya. Bell pulang berdering, saatnya beraksi. Gue langsung beresin buku gue masuk ke dalam tas, sambil terus mantau Yoga yang udah beresin buku dia juga.

Setelah selesai, gue langsung bawa tas gue ke pundak kiri gue.

" Duluan aja, guys. " kata gue ke Nisa sama Vanessa. Dan mereka cuma masang muka bingung.

Tanpa cincau balau gue langsung datengin Yoga. Gue langsung nepuk bahu Yoga pas Yoga nyaris mau pergi.

" Yog! "

Si Yoga langsung nengok kearah gue.

" Bu Cucu minta tolong ke gue sama lo buat mindahin matras di gudang belakang sekolah. Jadi lo ikut gue ya? "

" Gue? Kenapa harus gue? Kenapa gak anak lain? " Si Yoga mulai protes ke gue.

" Ya... Gimana ya, soalnya disuruh. Gue gak bisa nolak, soalnya pas dia ngomong ke gue, dia juga liat lo. Terus dia minta gue buat nyuruh lo bantuin gue. "

" Tapi, Na gue... "

" Please, Yog! Bantuin gue bentar aja... Matra yang tipis itu yang buat senam lantai. Bentar aja kok. Please... "

Yoga mulai mikir-mikir gitu.

" Beneran Bu Cucu nyuruh? Kan tangan lu lagi sakit, kenapa dia nyuruh lu, bukannya anak lain? "
Heuhh

Jangan nyerah, Na! Sandiwara harus tetap berlangsung!

" Ya kan matra gituan aja. Ringan juga kok. Yuk! " pas gue bilang gitu Si Yoga mikir lagi.

" Yaudah, tapi bentar aja ya. Soalnya gue mesti pergi. "

Gatcha!

***

Gue bawa Yoga ke gudang belakang.

Suasana di gudang cukup gelap dan lembab karena abis ujan.

Tapi gue gak peduli.

Pas dia buka pintu gudang dan masuk perlahan bersamaan sama gue yang ikut masuk, reflek Bimo yang muncul di belakang kita langsung nyergap Yoga. Gue buru-buru nutup pintu gudang.

" Sialan! Lepasin gue! Sialan lu berdua! "

" Diem lu, brengsek! " Bimo ngebentak Yoga sambil terus nahan kedua tangan Yoga dibelakang.

UNA (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang