Part 6 (s)

310 26 3
                                        


“Yaudah, mari kita buat ini menjadi seru!” ajak Duta, sambil menutup pintu markas tersebut, dan mendekati Sheila.

Sheila panik, dia ketakutan, melihat Duta yang semakin mendekat ke arahnya, dia sedikit demi sedikit memundurkan langkahnya ke belakang, berharap tidak ada tembok, atau apapun yang bisa membuatnya terhenti untuk berjalan mundur.

Hap

Sebuah  tangan berhasil  memegang bahunya. Membuat Sheila tidak bisa mundur lagi. Duta mencondongkan tubuhnya ke arah Sheila,  lalu mendekat kan wajahnya ke wajah Sheila, kemudian sedikit berbelok, ke sebelah wajahnya. Jangan ditanya lagi, seberapa merindingnya Sheila sekarang. Harusnya dia tidak bermain-main dengan anak berandalan ini. Sungguh, sekarang dia sedang menyesal.

Jarak mereka terkikis, sangat dekat sekali. Hanya beberapa sentimeter saja, membuat kedua insan ini bisa  mendengarkan deru napas keduanya.

"Ka-mu mau a-pa?" Tanya Sheila dengan terbata-bata. Air mukanya sudah pias. Tidak ada ketenangan yang bisa dia tampilkan.

"Mau kamu," ucap Duta dingin.

"Menjauh!" perintah Sheila, dia berkata sedikit lebih kencanh. Namun, Duta semakin dekat dan menempelkan dagunya di bahu gadis itu. 

"Tidak!"

Duta tidak menghiraukan ucapan Sheila.

"Ayo kita main TOD," bisik Duta, pada Sheila.

"Arghhhh, kamu mau ajak main TOD, bilangnya biasa jangan, nyeremin kaya gitu, bisa ga sih" decak Sheila kesal. Dia mendorong dada lelaki itu.

"Ya Kakak aja yang kepedean."

"Siapa juga pasti bakal mikir macam-macem kalau kaya gitu."

"Makanya, jangan biasain berfikir negatif."

"Kayanya aku, kalau bicara sama kamu ga pernah menang. Udahlah ayo main."

"Yaudah ayo, putar botol itu"

Botol air mineral itu diputar, dan menunjuk ke arah Sheila.

"Yahhh," ucap Sheila.

"Truth or dare?"

"Truth" ucap tarisa mantap. Dia tidak mau dare, takut di suruh macem-macem.

"Ceritain tentang diri Kaka"

"Aku anak biasa, lahir dari keluarga biasa. Punya keluarga yang biasa dan ya hidupku juga biasa"

"Ck, bukan kaya gitu!" Kesal duta.

"Beneran semua biasa, ga ada yang istimewa dan ga asik buat diceritain." Tarisa bicara dengan setenang mungkin.

"Yaudah ganti pertanyaan"

"Eh enak aja, ga ga kan satu kali botol satu pertanyaan."

"Iya ok"

Botol itu di putar lagi dan mengarah ke arah duta. Sheila berharap duta memilih truth. Supaya dia bisa mengorek banyak informasi tentang duta.

"Truth or dare "

"Dare"

"What?" Kaget Sheila.

"Kenapa?" Tanya Duta bingung, membuat pupus sudah harapan Sheila untuk bertanya padanya.

Namun, Sheila langsung menunjukkan wajah menyeringai, dan bicara.

"Chat mantan kamu, bilang kalau kamu udah punya pacar lagi"

"Ok" ucap Duta dengan santai.

"What" lagi-lagi shiela harus kaget. Dengan mudah duta mengiyakan suruhan Sheila.

Duta mengeluarkan handphone ya, lalu membuka aplikasi WhatsApp di depan Sheila dan mengetik.

Pagi salsa, aku mau kasih tau ke kamu kalau aku udah punya pacar lagi.

Ouh jadi namanya salsa, Sheila langsung mengubah ekspresinya menjadi biasa.

"Ayo lanjutin lagi!" Perintah duta.

Kruk

Suara cacing di perut sheila tidak bisa di ajak kompromi lagi. Pasalnya memang dia tidak sarapan tadi pagi.

"Ayo cari makan!" ajak Duta.

"Eum iya,"

Mereka berjalan ke luar markas.
Berhenti di sebuah warteg. Duta mendorong Sheila yang sedari tadi hanya diam saja di pintu masuk.

"Mau makan apa?" Tanya duta.

"Eum roti aja," ucap Sheila ragu, pasalnya roti tidak ada di warung ini. Dia tidak pernah makan makanan di warteg. Bukan begitu mamahnya selalu melarang Sheila untuk makan di warteg entah karena apa. Sheila tidak pernah ambil pusing dan menurut saja pada mamahnya.

"Ini bukan jam sarapan," ucap Duta sambil memutar bola matanya.

"Aku mendadak kenyang, pulang aja yu."

"Bilang aja kalau Kakak ga biasa makan kaya gini, saya maklum ko Kakak kan orang kaya." Menekan kata orang kaya.

"Jangan nyindir-nyindir terus, dikira enak apa."

"Ya siapa tau aja Kakak mau ke cafe-cafe makannya. Inget, aku ga bakal mampu bayar ka," ucap Duta Santai.

"Yaudah makan,"

Sheila tidak menjawab dia hanya duduk saja, matanya melihat ke arah kiri dan kanan atas dan bawah. Ada beberapa lalat di situ. Sheila menelan salivanya sendiri. Ini akan jadi pengalaman pertamanya. 

Lama memperhatikan keadaan sekitar. Sheila tidak tau bahwa makanan sudah siap, duta sudah siap dengan nasi, ayam dan capcai. Kesukaan Sheila. Dia menyukai capcai tidak menyukai sayuran selain brokoli.

"Ko kamu tau makanan kesukaan aku?"

"Mana aku tau, orang asal nebak" jawab duta acuh sambil memakan mie nya.

"Ko kamu makan mie sih?"

"Kenapa? Mau? Jangan, nanti sakit perut," ucap duta mengejek Sheila.

"Jangan makan mie Duta."

"Kamu tuh ya mau makan aja ribet banget sih, tinggal suap kunyah dan telel aja sih."

Sheila malah menunduk diceramahi Duta. Lenyap sudah selera makannya.

"Buka Mulutnya" perintah Duta pada sheila.

Sheila yang menunduk pun menegakakan wajahnya dan melihat ke arah sendok yang sudah berisi nasi dan lauk pauk tersebut.

"Saya pegel kak, cepet buka mulutnya."

Tak kunjung membuka mulut, Duta pun menginjak kaki Sheila secara otomatis mulut Sheila akan terbuka dan di situlah duta memasukkan makanan ke dalam mulut Sheila.

"Nikmatin aja makanannya, bersyukur, di luar sana banyak yang kesusahan buat sekedar makan."

Sheila yang tadi ingin memperotes kelakuan Duta akhirnya diam lalu mengunyah makanan tersebut. Sambil melihatnyayang fokus terhadap mie-nya.

"Bukan apa yang kamu makan, bukan dimana kamu makan, tapi dengan siapa kamu memakannya." Sheila

Bersama duta Sheila melupakan keresahannya bahwa hari ini dia membolos ke sekolah namun tidak merasa ketakutan lagi. Mungkin jika esok mamahnya mengetahui hal gila ini, tamatlah riwayatnya.

Kritik dan sarannya :)

Sheila on Duta (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang