Part 58 (s)

155 8 1
                                        

Sheila berlari dengan buru-buru setelah mendengar suara bel rumahnya. Dia ingat, bahwa sang asisten rumah tangganya sedang berbelanja ke pasar. Dengan kepala yang keleyengan. Akhirnya Sheila bisa sampai ke pintu utama dan membukakan pintu untuk tamu.

"Sebentar."

Ceklek

"Assalamualaikum," ucap seseorang yang membawakan bunga untuknya. Bunga anggrek putih.

"Waalaikumsalam."

"Cepat sembuh," ucapnya lalu memberikan bunga itu. "Aku gak ganggu kamu istirahat kan?"

"Terima kasih, enggak kok. Maaf ya Kak, agak lama bukain pintunya."

"Enggak apa-apa, aku pikir kamu sedang tidur malah."

Sheila tersenyum, lalu meminta Saga untuk segera masuk ke dalam rumah.

"Kakak mau minum apa?"

"Aku emang setamu itu ya, kamu itu harusnya duduk aja. Lagi sakit juga."
Saga menggiring Sheila untuk duduk. Lalu dia ikut duduk di sofa yang lumayan besar itu.

Sheila merasa sangat canggung diperlakukan seperti ini, bagaimana bisa dia merasakan debaran yang hampir sama, dengan yang dia rasakan ketika sedang bersama Duta. Sepertinya dia memang harus segera memastikan sesuatu.

"Maaf ya, aku gak bawa makanan apa-apa, kamu sudah makan siang?"

"Aku kenyang tidur Kak."

"Pantas saja," gumamnya yang masih bisa terdengar.

"Kenapa Kak?"

"Pipimu dijahili siapa? Kok ad lipstiknya."

Kini pipi dan keseluruhan wajah Sheila menjadi memerah seperti kepiting rebus. Semua ini gara-gara mamah. Ah bukan, salah dia yang lupa untuk mencuci muka. Pantas saja, tatapan Saga berbeda dari biasanya, dia selalu memperhatikan wajah Sheila saat sedang berbicara.

"Aku cuci muka dulu ya," Sheila segera berdiri, lalu berlari dari hadapan Saga. Entah kemana perginya pusing yang sedari tadi menyerangnya.

"Sheil, kamar mandinya emang ada di kamar kamu?!" Tanyanya sembari berteriak.

Sheila hanya menepuk jidatnya, dia menaruh bunga itu di kasur, lalu keluar tanpa melihat ke arah Saga.

Setelah di rasa sudah cukup bersih, Sheila keluar dari kamar mandi.

"Kak Saga sudah makan siang?" Tanya Sheila. Dia bingung, harus bagaimana memperlakukan tamu.

"Kenapa? Kamu mau masakin buat aku?" Pertanyaan itu, membuat ingatan Sheila berputar pada terakhir kali dirinya memasak, yaitu memasak nasi goreng untuk dimakan bersama Duta. Dan rasanya seperti odading mang oleh. Eum salah. Maksudnya rasanya bikin orang kapok makan nasi goreng.

"Enggak kak, kalau kakak belum makan, aku cofood aja, hehe."

"Yang harusnya banyak makan itu kamu, ouh iya, aku apunya bahan-bahan untuk buat bubur kacang ijo."

"Aku gak bisa masak kak," ucap Sheila mulai panik.

"Tenang, biar aku yang buatin." Sheila hanya bisa memasang muka kagetnya.

Duta sudah sampai di rumah Roy, d
Mereka harus ke rumah itu, karena orangtua Roy sangat khawatir pada kondisi Duta.

"Si bungsu doang nih yang ditanyain keadaannya? Anak sulung enggak?"

"Kamu mah sehat, menjomblo bertahun-tahun aja kuat, kalau baru sakit mah kecil."

"Mamah, Deddy jahat,"

"Roy, Ayah! Bukan Deddy, kamu gak sopan terus sih sama orang tua."

"Ya kan Ayah bahasa Inggrisnya Deddy."

"Mah, Kamu baca bismillah kan pas bikin?"

"Pah, gula di kopinya minta ganti pake garam ya?"

"Yeeey, mamah terbaik."

Roy di rumah, akan seperti anak kecil. Dia selalu menggoda ayahnya yang bernama Deddy itu. Dan sang ibu akan selalu membelanya. Sementara Duta, menangis melihat kebahagiaan keluarga ini. Dia merasa beruntung, kenal dengan mereka dan dianggap keluarga. Jika mereka pergi kemanapun, pasti ada oleh-oleh untuknya.

"Tadinya Ayah sama Mamah mau jenguk kamu, eh kata Roy, kamu ngerengek minta pulang."

"Iya Yah, ambil kamarnya yang VIP, rugi kalau lama-lama kalau cuma buat diinfus doang."

"Emang Roy gak bayarin? Roy jangan pelit-pelit sama adik sendiri."

"Aku bayarin  Ayah. Dianya aja emang udah ketakutan duluan tabungannya abis."

"Yang penting Duta udah baik-baik aja. Mending kita makan sekarang. Soalnya Mamah udah masak spesial hari ini."

"Ada telur dadar emang, kok spesial?"

Semuanya hanya bisa menggeleng.

"Kak, aku bisa bantu apa?" Entah, sudah berapa kali, Sheila bertanya seperti itu.

"Bantu liatin sama doain aja Sheil." Dan Saga selalu menjawab dengan berbagai Jawaban.

"Kak aku serius."

"Aku dua rius. Tenang aja, gak sampe lima menit, makanannya jadi kok."

Dan benar saja, setelah menunggu tiga menitan, satu porsi bubur kacang ijo siap untuk disantap.

"Masih panas Sheil, sabar."

"Hehe, Kakak kok gak makan?"

"Aku masih kenyang, tadi udah makan di kantin."
Sheila mengangguk, dan dia mulai memakan masakan Saga. Sebelum memasukan makanan itu ke mulutnya, Sheila bertanya.

"Kakak kok bisa jago masak sih?"

"Aku belajar jadi anak mandiri soalnya."

"Kenapa?" Tanya Sheila ketika bubur kacang ijo itu baru saja masuk ke dalam mulutnya, dan siap untuk dinilai rasanya oleh Sheila.

"Aku kan mau pertukaran pelajar bulan depan."

Sheila tidak sempat menelan bubur kacang ijo sudah mendarat sempurna ke meja makan.

Sheila on Duta (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang