[Dongdaemun, Seoul, South Korea]
Seoul malam itu cukup ramai. Ini adalah malam minggu, di mana semua orang pergi keluar untuk menghabiskan waktunya bersama dengan orang-orang yang mereka kasihi. Jalanan Seoul mulai padat merayap ketika memasuki pukul delapan petang. Membuat banyak pengemudi mulai membunyikan klaksonnya, sehingga klakson mobil terdengar bersahut-sahutan di malam gelap.
Di sela keramaian jalanan, banyak kesibukan yang ada di kota Seoul. Seperti tempat hiburan malam yang mulai didatangi para pengunjungnya –mayoritas anak muda, karena kelab malam itu berada di tengah kota yang mudah dijangkau oleh kalangan pemuda dan pemudi Korea. Karaoke atau yang dikenal dengan sebutan noraebang itu juga mulai ramai didatangi banyak pemuda dan pemudi yang ingin menghilangkan rasa sesak di hati mereka setelah ujian masuk perguruan tinggi usai.
Semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Begitu juga halnya dengan lelaki yang kini memakai sebuah kemeja flanel dengan motif tartan kombinasi cokelat dan hijau –berpadukan sebuah celana jins berwarna biru dongker yang tampak sedikit lusuh karena terlalu sering dicuci. Dia sedang sibuk mengadahkan kepalanya guna mencari alamat hotel bintang lima yang menjadi tujuannya.
Matanya menangkap lampu besar yang menunjukkan nama hotel tujuannya. Sebuah senyuman merekah di wajahnya karena dia sudah berhasil menemukan alamat yang dia tuju. Dia mulai melangkah memasuki hotel yang berdiri megah di tengah sibuknya kota Seoul itu. Cukup banyak pengunjung yang datang, memudahkan dirinya melewati pandangan skeptis dari pegawai hotel atas penampilannya yang tampak tak meyakinkan untuk memasuki hotel semewah ini.
Kakinya melangkah dengan penuh keraguan menyusuri koridor yang terasa begitu dingin dengan lampu berwarna kekuningan yang membuat kesan homie. Matanya tak berhenti mencari nomor kamar yang harus dia ketuk. Dia bisa merasakan jika tubuhnya sedikit gemetar –mengingat ini adalah kali pertama baginya untuk melakukan hal seperti ini seumur hidupnya.
Menjajakan dirinya.
Perlahan tangannya mengetuk pintu berwarna cokelat eboni yang tertutup rapat –terkunci dari dalam. Dia merasakan tubuhnya semakin gemetar, tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa jika orang yang hendak 'menyewa' dirinya muncul dari balik pintu itu. Dia merapikan sedikit kemejanya yang tampak berantakan, mengambil ponselnya untuk merapikan rambutnya supaya tak tampak seperti sarang burung yang menjadi tempat bernaung bagi burung-burung kecil yang menunggu induknya pulang.
"Ya –sebentar".
Dia semakin bergidik ketika mendengar suara orang yang berada di dalam kamar itu. Suara seorang lelaki yang terdengar sangat berat –dia bisa menafsirkan jika pelanggan pertamanya adalah seorang lelaki tua dengan perut buncit dan berkepala gundul –seperti yang ada di film yang dia saksikan sebelum pergi kemari. Dia sendiri tak tahu apa yang harus dia lakukan ketika berhadapan dengan lawan mainnya malam ini.
Klek –
Oh, penafsirannya meleset. Di depannya berdiri seorang lelaki dengan bathrobe berwarna putih –dengan rambut kecokelatan dan tubuh yang kekar. Dia bisa melihat otot dadanya dari belahan bathrobe yang cukup rendah. Sebuah tubuh yang indah bagi seorang lelaki. Lelaki di depannya menyunggingkan sebuah senyuman –sedikit membuat perasaannya membaik dari sebelumnya.
"Silakan masuk, aku akan membuatkanmu minuman terlebih dahulu".
"E-eh! Tidak perlu repot-repot –," dia menggoyangkan telapak tangannya, menyanggah perkataan lelaki di depannya itu. Menolak tawarannya untuk dibuatkan minuman.
Lelaki di depannya terkekeh. Dia merangkul tubuh yang lebih mungil darinya, mengajaknya untuk masuk ke dalam hotel –yang lebih bisa dikatakan sebagai sebuah kamar di dalam istana.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
