"Sepertinya tidak. Memang kenapa bertanya begitu? Kau sedang jatuh cinta? Pada siapa?" Jihoon bertanya pada Kuanlin.
"Ah, kau 'kan memang jatuh cinta pada Jieqiong noona. Untuk apa aku bertanya", Jihoon menyambung kalimatnya sendiri begitu dia teringat Kuanlin sudah punya kekasih.
Kuanlin menghembuskan nafas berat. Dia menatap Jihoon yang kini sedang menatap ke arah menara Namsan yang berkelip.
"Tidak. Padamu".
Kuanlin meloloskan dua patah kata, tanpa sadar.
Dia membulatkan matanya. Menyadari apa yang baru saja dia katakan. Tangannya hendak bergerak memukul mulutnya, sebelum—
"YAAAAHHH!"
Jihoon memekik tiba-tiba. Membuat Kuanlin terkejut tentunya. Lelaki di sampingnya tiba-tiba berteriak. Kuanlin menoleh, menatap Jihoon yang menunduk ke bawah. Ke arah pepohonan rimbun yang berada di bawah Namsan.
"Kenapa, sih?! Gendang telingaku hampir saja pecah, bodoh!"
"Kopiku jatuuuh!" Jihoon mencebik kesal. Pasalnya, saat dia sedang menoleh guna menatap menara Namsan, dia tanpa sengaja menyenggol kaleng kopinya yang dia letakkan di atas pagar kayu.
Memang bodoh.
"Kau ini mengagetkanku saja! Kopinya juga bisa dibeli lagi! Kukira ada apa!"
"Sayang kopinya, bodoh! Lalu sampah kalengnya tersangkut di pohon begitu! Aduuh!" Jihoon mengacak rambutnya sendiri, kesal.
"Omong-omong, tadi sepertinya kau bicara sesuatu?" Jihoon menatap Kuanlin yang berada di sampingnya.
Kuanlin menatap Jihoon. Ada perasaan lega di dalam hatinya. Dia menghembuskan nafas dengan berat, kemudian menggelengkan kepalanya. Masih dengan mata yang menatap Jihoon lekat.
"Siapa yang bicara? Aku diam saja sejak tadi. Kau salah dengar".
Jihoon menyipitkan matanya, sebelum dia menganggukkan kepalanya.
"Mungkin aku memang berhalusinasi", ucapnya.
Kuanlin menatap Jihoon yang kini mengadahkan kepalanya, sedang memperhatikan lampu menara Namsan yang berkelip indah. Netranya terus menatap wajah Jihoon yang diterpa cahaya lampu berwarna kekuningan.
"Park Jihoon", panggilnya —lagi.
"Ya?" Jihoon menoleh, mengalihkan atensinya pada Kuanlin yang menatapnya dengan tatapan teduh. Bukan tatapan bengis yang biasa mereka tukar.
Kuanlin kini berbalik, bersandar pada pagar kayu sembari terus menatap Jihoon lekat. Jihoon mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan ucapan Kuanlin yang membuatnya penasaran.
"Mau tidak, tetap bersama denganku? Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku. Aku terkadang memang suka kelepasan dalam bicara hingga menyakitimu. Tapi —aku akan berusaha menjadi seseorang yang baik untukmu—?"
Kuanlin menggantungkan kalimatnya, ragu dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak mengerti apa yang hendak disampaikan olehnya. Tapi, entah mengapa mulutnya tiba-tiba berkicau aneh seperti itu hingga membuat Jihoon menatapnya —kemudian tertawa.
"Bilang saja menjadi temanmu. Kenapa rumit betul".
"Ya, begitulah. Menjadi temanku —apalah itu", Kuanlin memutar bola matanya, malas. Dan Jihoon berhasil menangkapnya dengan netranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
