Bab 63 : sarang

1.3K 187 119
                                        

Tangannya bergerak untuk membersihkan salah satu meja kayu yang berada di sana. Kedai yang sudah selesai beroperasi harus dibersihkan tentunya. Maka, dia dan pegawai kedai yang lainnya segera membersihkan kedai begitu kedai sudah ditutup oleh boss mereka.

Jam dinding sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Sudah malam, sudah waktunya bagi para pegawai untuk kembali ke rumahnya masing-masing, guna beristirahat sebelum menjalani hari esok yang akan lebih indah dari hari ini. Itu yang selalu dikatakan oleh Yoon Jisung, selaku boss pemilik kedai kopi Pippy yang berada di sudut Sinsa ini. Dia selalu mengatakan pada pegawainya, jika hari esok akan jadi lebih baik dibandingkan hari ini.

Klang.

Lonceng kecil yang berada di sudut pintu kedai berbunyi. Menjadi pertanda jika ada seseorang yang datang ke kedai, dalam keadaan kedai yang sudah tutup waktu operasionalnya. Hanya ada seseorang yang hobinya begitu. Siapa lagi jika bukan Direktur perbankan bertubuh jangkung yang kerap mendapat makian dari pegawai yang bekerja di sana?

Bunyi lonceng itu membuatnya yang tengah sibuk membersihkan meja menoleh. Matanya membulat begitu mendapati sosok jangkung itu tengah berdiri di sana, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jas berwarna abu-abu muda. Berdiri, memandang ke sekitarnya seakan tengah mencari sesuatu.

Netranya berbinar. Memancarkan pendaran lampu yang bersinar di atasnya. Matanya nampak semakin cantik ketika dia menatap sosok itu. Sosok yang kini tengah melempar senyum manis di wajahnya, membuat kedua lesung pipit yang menjadi ciri khasnya nampak di wajahnya. Si tinggi itu melangkah dengan kaki jenjangnya, menghampirinya yang tengah berdiri di samping meja kayu dengan tangan masih memegangi kain lap berwarna ungu keabuan, berkat debu sekaligus kotoran yang menempel di meja.

"Belum selesai?"

"Belum.."

"Selesaikan dulu. Aku tunggu," tangan itu bergerak untuk mengusap pelan surai merah miliknya. Membuat sang empunya sedikit tersipu. Satu minggu tidak bertemu dengan si tinggi membuatnya rindu, ternyata. Dan dia baru menyadari itu.

"Sudaah, Jihoon hyung pulang dulu saja, sana. Nanti aku yang gantikan bersama Jeongin," rekannya menyela bicara keduanya. Menyuruhnya untuk segera berganti pakaian, lalu pulang ke rumah.

Kendati, dia tidak akan langsung pulang ke rumah karena si jangkung itu hendak mengajaknya pergi.

"Eh, memangnya tak mengapa, Seungmin? Kau tidak punya tugas?"

"Tidak. Sudah, sana pulang duluan, hyung. Lagi, pekerjaannya hanya tersisa sedikit. Jisung hyung sudah menyuruhmu pulang sejak sore tadi, kenapa kau bersikeras untuk bekerja terus, sih? Sana, sana pulang!" lelaki yang dipanggil dengan nama Seungmin itu mendorong si surai merah guna segera masuk ke bilik khusus pegawai, yang hanya bisa dituruti oleh si rambut merah bernama Park Jihoon itu.

Si tinggi, alias Lai Kuanlin, hanya terkekeh pelan. Kemudian dia mengacungkan ibu jarinya pada Seungmin, tanda berterima kasih. Seungmin hanya mengangguk, kemudian melanjutkan pekerjaan Jihoon yang tertunda. Membersihkan meja dan kursi, mengelapnya hingga memantulkan cahaya lampu yang berpendar terang di atasnya.

Tak butuh waktu lama sampai Jihoon muncul dari bilik pegawai dengan jaket parasut warna-warninya. Dia menyampirkan tasnya, memakai tudung jaketnya hingga menutupi sebagian rambut merahnya. Berjalan menghampiri Kuanlin yang tengah duduk di salah satu kursi, membaca beberapa surel berisi pekerjaan yang masuk ke ponselnya.

"Oh, sudah?"

"Kalau belum, aku tidak akan muncul di depanmu sekarang."

Kuanlin terkekeh mendengar perkataan Jihoon. Dia segera bangkit dari duduknya, meraih jemari Jihoon guna menggamit tangannya dengan erat. Jihoon berbalik, mengucapkan salam pada pegawai lainnya sebelum dia mengikuti langkah Kuanlin yang panjang-panjang.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang