Brak!
"NAH! KALAU BEGITU, NAMANYA KAU JATUH CINTA PADANYA!"
Dia berseru seraya berdiri, menunjuk seorang lelaki di depannya dengan telunjuknya. Membuat lelaki yang duduk di depannya sejak tadi sedikit mundur ke belakang, terkejut dengan seruan dirinya yang begitu tiba-tiba dan mengagetkan. Siapa yang tidak terkejut ketika sejak tadi kalian bicara dengan kalem, mendadak orang yang kau ajak bicara berteriak tepat di depan kalian?
"Chris! Kau membuatku terkejut, tahu!"
"I'm sorry! Tapi jika mendengar seluruh cerita yang kau ceritakan padaku, kesimpulannya hanya satu, kau jatuh cinta padanya! Tidak mungkin jika kau tidak jatuh cinta padanya dan kau melakukan segala sesuatu untuknya!"
"Chris! Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, tahu! Mana mungkin sih aku jatuh cinta pada orang sepertinya?! Jelas-jelas aku selama ini menyukai perempuan! Jika aku jatuh cinta pada orang lain, tentunya juga perempuan!"
Lelaki di depannya berdecak. Sang sepupu memang sukar diberitahu, sukar diberi saran. Tapi, tetap saja sepupunya itu selalu datang padanya untuk meminta saran darinya. Padahal, saran yang dia berikan pada sepupunya tidak akan pernah dipikirkan lebih lanjut oleh si lelaki jangkung yang kini sedang menenggak satu kaleng alkohol.
"Dengar, ya! Kau pikir, kau bisa memilih dengan siapa dirimu jatuh cinta?!"
"Tentu bisa!"
Dia membeliak begitu mendengar balasan sang sepupu. Bisa, katanya?! Apakah dia sudah lupa apa yang dia katakan bertahun-tahun yang lalu ketika dia membicarakan hal serupa dengan ini? Ingin rasanya tangannya mendarat di kening lelaki berjas hijau tua itu. Supaya lelaki yang berstatus sebagai sepupunya itu tersadar.
"Hei! Kau bilang padaku bertahun-tahun yang lalu jika kau tidak bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta ketika kau jatuh cinta dengan si wanita ular itu!"
"Apa-apaan?! Mana ada aku bicara seperti itu?!"
"Tuan muda Lai! Kau itu sudah gila, ya?! Kau datang padaku sebelum aku pergi ke Sydney, kau datang kemari! Ke studio ini! Dan kau bilang padaku jika kau jatuh cinta pada sekretarismu yang sudah menikah itu! Aku sudah bilang padamu sebelumnya, jangan menjalin hubungan dengan dirinya!" Chris menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, apa yang terjadi? Setelah aku kembali dari Sydney, kau justru datang bersama dia kemari! Kau bilang kau sudah berpacaran dengannya! Aku kembali menceramahimu panjang lebar, kau ingat? Dan lagi, kau bilang jika kau tidak bisa memilih dengan siapa dirimu jatuh cinta!"
"Chris, slow down! Kau tidak lelah berteriak begitu?!"
"Kau tidak lelah mendengar ocehanku?! Setiap kau datang kemari, akhirnya kau aku ocehi panjang lebar! Tapi tetap saja kau itu berat kepala! Masuk telinga kiri lalu keluar di telinga kanan!" balas lelaki yang kerap disapa dengan nama Chris itu pada sepupunya. Setelah menarik nafas, dia kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Mengambil nafas untuk bersiap mengocehi sang sepupu lagi.
Sedangkan sang sepupu yang kini duduk bertopang dagu hanya terdiam, pikirannya mengawang setelah mendengar ocehan Chris yang sangat panjang. Bertanya-tanya dalam benaknya sendiri, benarkah apa yang dikatakan oleh Chris padanya?
"Lai Kuanlin, kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Baik itu perempuan atau laki-laki. Cinta tumbuh dengan sendirinya, kau mengerti? Mungkin kau masih bisa menyangkal jika kau tidak jatuh cinta dengannya, karena kau belum bisa membuktikannya. Tapi setelah kau berhasil membuktikan perasaanmu, apakah kau masih bisa menyangkal?"
"Chris, aku hanya mencintai Jieqiong. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada si gembul itu".
"Oh my god, Kuanlin! Semua orang di sekitarmu tahu jika kau mencintainya sebagai seorang kakak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
