Tuk
Sebuah bingkai kacamata mendarat di atas meja kayu. Sengaja diletakkan oleh empunya di sana, selagi sang pemilik memijat pelan tulang hidungnya. Mengistirahatkan diri dari pekerjaannya, mengistirahatkan pikirannya yang berkecamuk.
Dia menatap lurus ke arah jendela ruang kerjanya. Memandang kosong pemandangan yang tersaji di depannya. Membiarkan pikirannya mengelana, seiring dengan dedaunan yang ayun temayun ditiup angin buritan.
Menopang dagu dengan tangannya, tatapannya beralih ke lembaran kertas bergurat tinta pena. Menatap sketsa praduga yang ditulisnya sejak semalam. Berantakan, begitu banyak coretan semrawut di atasnya.
Seakan menggambarkan isi pikirannya.
Mata tajamnya melirik ke sisi meja. Menatap topi berwarna hitam yang tergeletak di sana sejak kemarin petang. Menarik nafas dalam, kembali memainkan pena dengan jemarinya, sembari pikirannya berkelana.
Dia kembali mengingat perkataan yang didengarnya kemarin.
Tangannya kembali bergerak, kini menggapai pena berwarna merah menyala. Menggurat kembali di atas kertas, menuliskan beberapa kata —menggambar bentuk lingkaran besar kemudian. Melingkari salah satu kesimpulan yang dihasilkan dari asumsinya.
"Jangan gegabah. Harus ada bukti akurat. Jangan membuat prasangka yang tidak bisa ditemukan faktanya."
🌺🌺🌺
Apgujeong di siang hari cukup ramai. Banyak orang dan kendaraan yang melintasi jalanan. Apgujeong mempunyai banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Banyak kafe-kafe nyaman di sana. Banyak juga restoran dengan hidangan yang nikmat, tersebar di seluruh Apgujeong.
Jika datang kesana, hanya tinggal memilih. Semua ada di sana.
Dia menginjak pedal gas kendaraannya. Mobil hitamnya, sebuah kendaraan bahaduri yang digunakannya saban hari, membelah jalanan Apgujeong guna mencari destinasinya. Sebuah restoran Jepang, berada di salah satu sudut Apgujeong. Hendak pergi menemui seseorang yang sudah mengontak dirinya semalam.
Sesungguhnya, dia enggan. Tapi, dia memilih untuk datang dan menemui orang itu. Seorang kenalan yang statusnya tidak berubah menjadi teman, hanya sebatas kenalan.
Manik matanya membaca semua papan nama restoran yang dia lewati dengan teliti. Mencari tempat tujuannya. Kenalannya itu memang sudah bilang, jika tempatnya memang sedikit terpencil. Dia juga sudah memberi arahan mengenai tempat pertemuan mereka. Seharusnya, lelaki bersetelan jas itu sudah paham dan berada di jalan yang benar.
Dia menginjak pedal rem begitu matanya menangkap papan nama yang tidak asing. Restoran yang dicarinya sejak tadi. Perlahan, dia memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia. Berjarak lebih jauh dari restoran tujuannya.
Lelaki itu terdiam mematung sebelum turun dari mobil. Pikirannya mengawang. Memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
Sudah berkonsultasi dengan sang sepupu —yang sialnya tidak membantu sama sekali. Pikirannya tidak tercerahkan, justru semakin berkecamuk. Matanya memandang ke arah restoran tujuannya, menemukan satu unit mobil yang cukup dia kenali.
Milik kenalan yang hendak ditemui.
Menarik nafas cukup panjang, sebelum tangannya bergerak untuk membuka pintu mobil. Bagaimana pun juga, dia harus menghadapinya. Apapun itu. Apapun yang ingin dibicarakan, dia harus menelannya. Sebagai suatu bentuk tanggung jawab.
Kaki panjangnya melangkah, menapaki bentala. Berjalan menuju restoran Jepang yang terlihat sangat eksklusif dari luarnya. Pantofel hitam yang sempat disemirnya tadi sedikit bersinar, diterpa cahaya matahari. Jemarinya bergerak untuk sedikit membenahi pakaiannya. Dia ingin tampak apik.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
