Bab 48 : Compunction

1.1K 188 60
                                        

"Apa kau tahu jika yang kau lakukan itu sebenarnya adalah hal yang sangat salah?"

"Iya. Aku tahu. Aku paham jika aku yang salah dalam hal ini."

"Lantas, mengapa kau masih melakukannya? Mengapa kau masih saja melanjutkan kesalahan yang kau perbuat? Kapan kau akan berhenti?"

Pertanyaan berjujai dia terima dari sosok yang kini berdiri di hadapnya. Dia hanya mengangkat kepala, menghela nafas sebagai balasannya. Tidak ada patah kata keluar dari mulutnya.

"Katakan, kapan kau akan berhenti?"

Sosok yang ditanya masih menatap ke arah lain. Tangannya bergerak mengusap cawan yang berada di depannya. Pikirannya masuk dalam awang gemawang.

"Sampai —aku tahu apa tujuanku yang sesungguhnya."

🌺🌺🌺

Sang mentari menampakkan wujudnya di langit biru cerah. Menandakan jika hari akan berjalan lancar karena tiadanya tanda-tanda akan turun hujan. Ramalan cuaca di siaran televisi pun mengatakan hal yang sama.

Karena hari sedang cerah, maka banyak orang yang pergi keluar dari kediamannya untuk menikmati hari. Sekedar pergi ke taman untuk berpiknik di musim panas, menikmati es krim dari kedai terdekat, atau pergi ke pantai untuk menghibur hati di akhir pekan dengan orang yang tercinta sekiranya menjadi agenda mereka hari ini.

Namun tidak dengan dua orang yang tengah berdiam di sebuah ruang rawat inap. Hanya terdengar suara siaran televisi yang tidak ditonton —dia bicara sendiri kemudian, dan suara ketikan dari laptop yang berada di atas meja kayu berbentuk bulat. Dua orang itu melakukan aktivitasnya masing-masing. Yang satu tengah sibuk membalas surel yang masuk padanya, sedangkan yang satu tengah terlelap dengan mulut terbuka setelah perawat memberinya obat melalui injeksi di selang infusnya.

Lelaki yang tengah bekerja membalas surel tidak mempermasalahkan pemuda yang kini tengah lelap di alam mimpi. Dia justru memanfaatkan momen itu untuk melakukan pekerjaannya yang tertunda. Karena jika sang pemuda sudah terbangun, maka seluruh waktunya akan menjadi milik pemuda itu.

Tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan. Bisa saja secara mendadak dia pergi ke kafe untuk membeli French Toast rasa Honey Lemon dari toko kue Paris Baguette yang berada di Dongdaemun, atau pergi ke restoran terdekat untuk membeli samgyetang. Sedikit merepotkan, memang. Terlebih, yang meminta ingin dia yang pergi sendiri, bukan membeli melalui jasa antar.

Semalam saja, dia kembali pergi ke Paris Baguette guna membeli satu kue keju. A whole cake. Pemuda yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit itu tiba-tiba ingin makan kue keju, alhasil dia harus berlari ke Paris Baguette yang beruntungnya, ada di dekat sana.

Bisa apa dia sang budak cinta selain melakukan apa yang diminta? Dia akan melakukannya meski mengeluh sebelum melaksanakannya.

Karena dia sudah memprediksi kejadian itu akan kembali terulang, maka pemuda yang lebih tinggi melakukan pekerjaannya terlebih dulu. Supaya tidak terganggu nantinya.

Sesekali matanya mencuri pandang pada pemuda yang masih terlelap di ranjangnya. Dia tampak sangat pulas, bisa dilihat darinya yang sama sekali tidak terganggu dengan suara bising dari televisi. Mulutnya terbuka, menandakan tidurnya yang tengah pulas.

Sebuah senyuman terulas di wajah rupawannya. Melihat sang pujaan hati yang tengah terlelap begitu membuatnya lebih tenang. Pasalnya, sejak beberapa hari yang lalu, pemuda itu tidak bisa tidur. Mengharuskannya terjaga sampai malam guna menemani pujaan hatinya, kendati lelaki yang ditemani bersikeras menyuruhnya untuk tidur.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang