Selembar roti tawar tanpa selai terlihat digigit olehnya sembari dia melangkah menyusuri koridor yang tampak sepi. Bajunya tampak sedikit berantakan, kemeja flanel bermotif tartan kombinasi biru dan oranye muda itu dibiarkannya terbuka –tak terkancing sedikit pun. Tapi tenang saja, dia memakai kaus berwarna putih polos di dalamnya, sehingga tubuhnya tak terlihat sedikit pun.
Bajunya tampak sudah lusuh. Banyak benang yang mencuat dari tempat yang seharusnya, warnanya pun sudah pudar. Warna aslinya adalah biru cerah –cukup cerah untuk membuat pandangan orang mengarah padanya karena warna bajunya. Baju itu adalah baju yang dibelinya beberapa tahun yang lalu. Menurutnya, itu masih layak untuk digunakan.
Dia tampak terburu berjalan di koridor yang menghubungkan gedung Fakultas Seni dan gedung Fakultas Bisnis itu. Dia yang baru saja kembali dari kelasnya hendak bertemu dengan sahabatnya yang mengenyam pendidikan di Fakultas Bisnis –Fakultas yang didominasi dengan orang-orang yang berpenampilan rapi, klimis, dengan kemeja necis yang biasa dipakai para mahasiswa maupun mahasiswi di sana.
Membuatnya sedikit ragu jika dia ada keperluan mengunjungi Fakultas Bisnis. Dia sudah sering sekali mendapatkan pandangan tak mengenakkan dari para mahasiswa maupun mahasiswi di Fakultas Bisnis. Pandangan skeptis itu selalu berusaha dia tepis, dia tak pedulikan pandangan orang-orang padanya. Yah, dia memang sudah terlalu sering menggunakan baju yang tampak lusuh.
Tapi, apa pedulinya? Selagi baju itu masih punya nilai guna, bukankah itu masih bisa dia gunakan? Selagi baju itu belum robek –seperti kemeja flanel yang digunakannya untuk pergi ke hotel Dongdaemun tempo hari, baju itu tentu masih bisa dipakai, bukan?
Dia beruntung hari ini. Dari kejauhan, matanya mampu menangkap sosok yang ingin ditemuinya di jam tiga sore ini.
Ahn Hyungseob dan Park Woojin –kedua sahabat yang sudah menemaninya sejak bangku sekolah menengah pertama di Busan. Beruntung keduanya sedang bersama, jadi dia tidak perlu repot-repot berpencar guna mengumpulkan keduanya di satu tempat, yaitu Kantin Fakultas Bisnis. Terkenal dengan makanna dan minumannya yang punya harga di atas rata-rata.
"Maaf, aku terlambat. Tadi ada kelas pengganti Dosen Hong", ucapnya begitu dia baru saja mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu panjang yang berada di salah satu sudut kantin itu. Cukup sepi, karena waktu makan siang sudah berlalu dua jam yang lalu.
"Tak apa. Kami pun baru keluar dari kelas", ucap Hyungseob yang kini sedang menyesap jus tomat yang dipesannya dari salah satu stan kantin tersebut. Sedangkan Park Woojin, yang kini duduk bersebelahan dengan Hyungseob sedang sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya. Seperti sedang mencari sesuatu di sana.
"Sedang apa Jin?"
"Oh –ini. Kau bilang pada saat itu kau ingin mencari pekerjaan, bukan? Aku menemukan lowongan pekerjaan yang sepertinya cocok untukmu, Hoon", dia menyodorkan ponsel pintar keluaran terbarunya pada sang sahabat yang punya marga sama dengannya, Park Jihoon, guna memperlihatkan lowongan pekerjaan yang dimaksud olehnya barusan.
Jihoon yang semula tampak tak tertarik kini memajukan badannya, guna melihat lowongan pekerjaan apa yang hendak ditunjukkan oleh Woojin padanya. Dia menggigit roti tawarnya, mengunyahnya sebelum mulai membaca deretan tulisan yang tertera di sana. Hyungseob pun ikut memperhatikan kedua sahabatnya yang kini sedang asyik memperhatikan sesuatu.
"Sebagai pelayan toko kopi, ya? Di mana? Bisa kirimkan padaku tautannya?"
Woojin menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian dia sudah mengirimkan tautan yang diminta oleh Jihoon padanya. Begitu tautan itu sudah masuk ke ponsel Jihoon, Jihoon segera menghubungi narahubung yang tertera di sana, hendak mengirimkan daftar riwayat hidup yang sudah dia simpan di ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
