Bab 24 : Magnanimous

1.2K 242 127
                                        

"Kau punya banyak waktu untuk memastikan perasaanmu padanya. Take it slow. Kau harus memastikan perasaanmu terlebih dahulu".

"Bagaimana jika nantinya aku betulan jatuh cinta padanya, Christ?"

"Ya kau harus mengejarnya. Kau harus mampu membuat dirinya jatuh cinta padamu juga".

"Bagaimana caranya?"

"Kau yang paling tahu bagaimana caranya untuk memikat hati orang. Aku yakin kau bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanku".

"Tapi Christ, dia pernah bilang dia tidak percaya dengan adanya cinta".

"Ya, maka dari itu kau harus berusaha, bodoh! Buat dia jatuh cinta padamu!"

"Tapi —kau harus melakukannya setelah memastikan perasaanmu. Ingat, pastikan perasaanmu. Apakah itu betulan karena cinta, atau hanya sekedar kehilangan Jieqiong yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Siapa tahu, kau hanya merindukan afeksi. Maka kau mencari atensi".

🌺🌺🌺

Dia menggenggam erat kemudi mobilnya kala percakapan antara dirinya dan sang sepupu kembali terlintas di benaknya. Kakinya menginjak pedal gas dengan cukup memburu. Matanya memandang lurus, meratapi jalanan yang cukup kosong di malam hari. Alisnya bertaut, seakan menjadi pelampiasan perasaannya.

Lelaki itu mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang cukup sempit. Sesekali berbelok, hingga dia tiba di tempat tujuannya. Sebuah kafe kecil di pinggir jalan.

Klang!

"Selamat malam! Anda ingin pesan apa?"

Dia menatap lelaki yang kini berdiri di balik meja kasir. Bukan, bukan lelaki yang dia cari. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari seseorang yang dicarinya.

Bukannya menemukannya, matanya malah menangkap satu objek yang menempel di dinding. Dengan mata yang membulat, dia mencerna objek yang berada di sana. Gambar dalam pigura —yang wajah subjeknya ditutupi oleh lakban.

Itu wajahnya! Wajah tampannya! Kenapa ditutupi lakban begitu?!

Dan mengapa harus dipajang di dinding begitu?!

"Siapa yang membuatnya begitu?" dia bertanya pada sang kasir yang masih menunggu pesanannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Siapa yang membuatnya begitu?" dia bertanya pada sang kasir yang masih menunggu pesanannya.

"E—eh?! I-itu.."

"Aku. Kenapa? Kau tidak terima?"

Seseorang menyela pembicaraan keduanya. Dengan sebuah kain lap yang berada di tangannya, dia menghampiri lelaki bertubuh tinggi itu dengan tatapan cuai. Bukan, bukan tatapan cuai. Mungkin lebih tepatnya adalah tatapan kesal.

"Kau. Ikut aku", ucapnya.

Dia menautkan alisnya, kemudian menggelengkan kepalanya setelah meletakkan sebuah gelas di atas meja. Cukup keras, hingga menimbulkan bunyi antara kedua benda itu. Dia mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang lebih tinggi tepat di matanya.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang