Sebuah cawan keramik berwarna hijau susu mendarat di atas meja sebelum sang pemilik membuka mulutnya guna bertanya pada insan lain yang berada di dekatnya. "Kau akan melakukannya kembali?"
Dia —insan lainnya itu, menarik sebuah resleting berwarna hitam. Menarik dua sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman. Mengangguk perlahan.
"Ya. Aku harus kembali melakukan itu, bukan?"
"Kembali padanya? Kau bisa cari yang lain."
Dia mengangkat kepalanya. Menatap langit-langit kamar yang diwarnai dengan warna putih. Menarik nafas kemudian.
"Yah, aku harus kembali padanya, apapun yang terjadi nantinya. Itu adalah sebuah kewajiban, bukannya begitu?"
"Aku mengerti. Tapi —kau yakin? Itu adalah sebuah kesalahan."
Dia menganggukkan kepalanya perlahan. "Salah atau benar hanyalah sikapmu dalam menilai kelakuanku. Aku akan tetap melakukannya."
"Kau —yakin?"
"Bisa kau hitung sudah berapa kali kau mendengar jika aku yakin dengan semuanya? Bisa?"
Sosok di sampingnya melipat bibirnya. Mengancingkan mulutnya, tak berani bicara lagi.
"Baiklah. Aku hanya akan berdoa untuk keselamatanmu saja."
"Ya, doakan keselamatanku."
🌺🌺🌺
Sang surya memancang di langit siang dengan begitu gagahnya. Sangat terik hari itu. Membuat banyak orang menginginkan kudapan dingin nan manis menyambut indra pengecap mereka.
Begitu pula halnya yang terjadi kepada seorang lelaki yang tengah duduk di atas ranjang. Sejak tadi, dia sudah menghabiskan tiga batang es krim rasa buah, dan kini tengah merengek karena dia ingin makan satu bungkus lagi.
"Satu lagi, ya?"
"Tidak boleh, Jihoon. Kamu sudah makan tiga. Tidak boleh makan es krim lagi, nanti kau akan sakit."
Yang dipanggil Jihoon hanya bisa memasang wajah cemberut. Bibirnya melengkung ke bawah, dia merajuk. Sedangkan lelaki yang membujuk dia sejak tadi, hanya bisa menghela nafas. Dia harus bisa menahan permohonan Jihoon. Lelaki itu sudah terlalu banyak makan kudapan manis yang dingin. Tidak boleh terlalu banyak, atau dia akan terserang batuk.
"Tidak boleh—?"
"Tidak."
"Sama sekali—?"
"Iya. Tidak boleh sama sekali. Kamu tidak boleh makan es krim lagi, sayang."
Pemuda dengan pipi kemerahan itu merubah tatapannya yang semula memohon bak anak kecil, menjadi sebuah tatapan tajam.
"Jangan panggil-panggil sayang kalau kau tak mengizinkanku makan es krim lagi!"
Lelaki satunya hanya bisa tertawa. "Tidak boleh, pokoknya. Tidak boleh terlalu banyak makan makanan yang manis, sayang," ucapnya, mengusap pelan sudut bibir pemuda itu, karena menempel sisa es krim di sana.
"Berhenti panggil sayang!"
"Hm? Sayang–"
"Aaaah berisiiik! Jangan panggil aku sayang!"
Pemuda satunya hanya bisa tergelak. Tangannya terarah untuk mencubiti gemas pipi Jihoon —yang kemudian semakin merengek. Membuat pemuda itu justru semakin gemas melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
