Bab 12 : The Night We Parted

1.4K 247 123
                                        

"Perkenalkan, aku Lai Kuanlin. Kekasih Jihoon".

Jihoon dan Minhyun sama-sama membulatkan matanya. Dengan tangkas, Park Jihoon menghampiri si jangkung bernama Lai Kuanlin itu dan membekap mulutnya –melarangnya untuk bicara aneh-aneh. Membuat lelaki yang lebih jangkung darinya terkejut dengan aksi yang didapatkannya secara tiba-tiba. Jihoon memutar tubuhnya, menghadap Minhyun yang masih membulatkan matanya ibarat sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Ah –dia berbohong! Maaf, sunbae! Aku akan menghubungi sunbae lagi nanti! Aku pergi dulu!"

Jihoon menarik –atau lebih tepatnya mengeret Kuanlin supaya lekas enyah dari toilet dan meninggalkan Minhyun. Dia –entah mengapa dia sedikit renyang jika Kuanlin akan membuka mulutnya dan semakin membancuh. Kekasih apanya?! Kekasih bayaran iya! Lebih lagi, dia tidak ingin disamakan dengan wanita itu. Yah, meski itu bukan haknya untuk menghakimi apa yang dilakukan oleh Kuanlin dengan wanita itu –tapi, bukankah itu wajar jika Jihoon punya pandangan tersendiri tentang wanita itu?

"Lepaskan aku, kerdil! Kau ini kenapa, sih?!"

Jihoon melepaskan tangannya yang membekap mulut Kuanlin ketika keduanya sudah berada di luar toilet, bahkan di luar auditorium. Keduanya kini berada di tempat parkir mobil, cukup jauh dari tempat itu. Dia menatap Kuanlin dengan tatapan nyalang, sebelum membuka mulutnya untuk menggerundel seorang Lai Kuanlin yang hobi sekali bertindak semaunya.

"Kau jangan bicara macam-macam ya, Jangkung! Dia itu seniorku! Jangan memperkenalkan dirimu seenaknya!"

"Lho –apakah aku salah? Kau datang kemari dengan status sebagai kekasihku! Apakah aku salah jika mengatakan seperti itu padanya? Coba jelaskan padaku, di mana letak kesalahanku?"

Jihoon menghela nafas dalam sebelum dia bersiap membuka mulutnya. Yang mungkin terlalu lama, sampai waktunya cukup untuk Kuanlin menyelanya lebih dulu.

"Oh! Kau –suka padanya, ya? Sehingga kau tidak mau dirinya tahu jika kau datang kemari sebagai kekasihku? Iya?"

"Aku suka padanya atau tidak itu bukan urusanmu!"

"Lalu? Kenapa kau mengatakan jika aku berbohong?! Sudahlah! Dari cara pandangnya terhadap dirimu saja sudah kentara jika dia menyimpan perasaan padamu! Dan kau juga mempunyai perasaan yang sama padanya, bukan begitu? Baik begini, aku juga pernah muda! Aku mengerti bagaimana cara memandang seseorang yang disukai!"

"Semuanya bukan urusanmu! Kenapa sih kau gemar mencampuri urusanku?! Dengar ya, jangkung! Aku bahkan enggan ikut campur dengan urusan pribadimu! Aku bahkan enggan memberikan komentar atau tanggapanku mengenai apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua! Aku enggan membuka mulutku untuk mengomentari hubungan kalian! Kenapa kau gemar sekali mencampuri urusanku?! Pertama, kau mencampuri urusanku dengan Sutradara Kang! Dan sekarang, lihat! Kau lagi-lagi mencampuri urusanku dengan seniorku!"

Jihoon merongseng panjang lebar, seakan dia mencurahkan semua isi hatinya pada si jangkung. Lelaki itu kini mengatur nafasnya baik-baik, sedikit susah karena dia baru saja bicara sepanjang itu tanpa jeda. Dia menatap Kuanlin dengan tatapan tajam, membuat si lawan bicara memasang muka kecut.

"Santai, santai. Jangan marah-marah begitu!"

"Kau pikir aku bisa santai?! Dengan mengeretku kemari secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu saja kau sudah membuatku tidak santai! Kau ini kenapa, sih?! Sudahlah! Kepentingannya sudah selesai, 'kan? Aku ingin pulang!"

Jihoon memutar tubuhnya, hendak berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Beruntung baginya karena letak tempat itu ada di lokasi yang cukup dekat dengan tempat kerjanya dulu. Jadi, dia tidak merasa asing dengan daerah yang sedang mereka singgahi itu.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang