Kepalanya mengadah. Menatap langit temaram di atasnya. Menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman kala menyaksikan pemandangan yang menarik atensinya.
"Langit musim panas selalu tampak indah, ya?"
Dia membuka bicara. Memecah kelambu kesunyian yang melingkupi keduanya sejak tadi. Menarik atensi sosok yang berdiri di sampingnya. Netra indah milik sosok itu tak lepas dari langit yang menampilkan banyak bintang terhampar di sana.
"Ya, jika dilihat-lihat, langit musim panas jauh lebih indah dibandingkan dengan langit di musim lainnya."
Dia mengangkat kaleng kopinya. Menyesapnya usai merampungkan kalimatnya. "Aku tak pernah mengambil waktu untuk mencermati langit di musim panas sebelumnya. Tapi hari ini, karenamu, aku mencermati langit musim panas yang memang lebih indah jika diamat-amati."
Terdengar suara kekehan dari sampingnya. Berasal dari sang penanya yang terkekeh karena jawaban yang dia terima. "Kau tak pernah memandanginya sebelumnya? Dia indah, sungguh. Meski lebih indah dirimu dibandingnya, namun langit musim panas itu indah."
"Bisakah kau berhenti merayuku? Aneh."
"Apakah itu terdengar seperti rayuan yang menjijikkan? Kau tak suka jika aku melontar rayuan seperti itu? Terlalu klise? Bukankah itu romantis?"
"Romantis? Menurutku biasa saja. Bukan —bukan maksudnya tak menghargai usahamu. Namun jika kau meminta pendapatku, aku akan bilang, itu biasa saja. Bukan sesuatu yang romantis."
Dia mengangguk begitu mendengar opini yang diberikan padanya. "Jika kau tak suka, aku akan menguranginya. Aku hanya berpikir jika itu adalah hal yang romantis, karena aku melihat di film-film begitu adanya, jadi aku berusaha melontarnya."
"Kenapa begitu? Kau tidak perlu mengikuti apa yang ada dalam film. Jadilah dirimu sendiri, Kuanlin. Toh —kau paham bagaimana perasaanku padamu."
"Ya. Aku paham. Kau mencintaiku dan bersedia menjadi istriku, 'kan?"
Sosok yang dipanggil dengan nama Kuanlin itu tertawa. Kemudian dia mendapatkan satu pukulan di bahunya. Sebuah pukulan yang dilontar sosok berwajah manis yang sejak tadi bersamanya, Park Jihoon.
"Aku akan jadi suamimu!"
"Iya, iya. Terserah kau saja. Yang jelas, kau menerima lamaranku, dan itu adalah hal yang paling penting."
"Ya, ya."
"Aku akan menyiapkan semuanya saat kau sudah siap nanti. Ingatlah, kau tidak perlu terburu-buru. Kita jalani semuanya perlahan. Kita bangun pondasi mulai dari dasar."
"Kau bicara layaknya tengah memberikan seminar."
Kuanlin berdecak. "Ya! Aku sedang serius!"
"Kau pikir aku tengah bercanda?"
Jihoon kembali menyesap kopinya. "Kau harus menunggu sampai aku mampu membeli kondominium yang sekelas denganmu, baru aku akan menikah denganmu."
Kuanlin tersentak, sedikit. Dia menatap Jihoon yang ada di sampingnya. "Aku sudah punya kondominium. Untuk apalagi kau memilikinya jika kau akan menikah denganku? Aku akan merubah namanya menjadi milikmu."
Jihoon menggeleng. "Aku ingin punya aset sendiri. Meski aku menikah denganmu nantinya, aku tak ingin terlalu bergantung padamu. Aku bisa mandiri."
Kuanlin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku menghargai gagasanmu. Aku akan menunggumu meski memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Karena —hidupku telah ditambatkan untuk berlabuh di pantaimu."
"Hah? Aku tidak punya pantai!"
"Bukan begitu maksudnya! Itu adalah kiasan! Pantai itu bukan makna yang sebenarnya —astaga! Apakah kau tidak pernah membaca buku sastra atau semacamnya?!" Kuanlin berdecak jengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
