Bab 61 : Mortala

1K 184 22
                                        

Harum bunga krisan putih yang berada di balik peti menyeruak masuk ke indera penciumannya. Simbol-simbol keagamaan yang berada di sana juga bisa dilihatnya. Karangan bunga yang tersusun atas banyak bunga berwarna putih juga terlihat di sisi-sisi ruangan. Lilin-lilin yang menyala, kudapan yang terhidang, semuanya berada di ruangan itu.

Mata sembab yang diakibatkan oleh tangisan semalaman seakan menjadi bukti, betapa kehilangannya mereka akan seseorang yang kini sudah pergi untuk selamanya, tak akan pernah bisa dilihat mereka lagi, selamanya. Tak akan pernah mereka temui lagi, untuk selamanya.

Ruangan itu berselimut dengan duka.

Masih terdengar tangis dari seorang wanita cantik yang usianya sudah senja, tengah ditenangkan oleh sang suami yang berusia senja pula. Ditepuknya punggung sang istri tercinta, melakukan suatu proses komunikasi non verbal yang sudah bisa ditangkap artinya tanpa perlu bicara. Di samping mereka, ada seorang pemuda dengan jas berwarna hitam pula, dia terdiam, lebih tegar dibandingkan sang adik perempuan yang tengah menangis di pelukan.

Bingkai foto yang berada di atas meja marmer bisa dilihat oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Bingkai yang memuat sebuah potret seorang lelaki muda yang tengah tersenyum indah, nampak kebahagiaan yang terpancar dalam potretnya. Dengan mengenakan sebuah kemeja berwarna hijau susu, dia tampak tersenyum dengan latar belakang seputih susu. Dengan pita berwarna hitam yang tersemat di bingkai fotonya, menambah suasana duka lagi dan lagi bagi siapapun yang menatapnya.

Karena mereka akan kembali teringat akan kenyataan, jika mereka tak akan lagi melihat lelaki yang biasa mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah ruangan berdiri seorang lelaki. Seorang lelaki yang tampil mencolok dengan rambut berwarna merahnya, memantulkan sinar lampu yang berpendar di atasnya. Tengah memberikan penghormatan terakhir dengan air mata yang masih mengalir deras dari pelupuk matanya. Matanya bengkak, sangat. Nampak sekali jika dia habis menangis semalam suntuk. Pakaiannya sedikit berantakan, tak disetrika dengan rapi seperti orang lainnya. Dia tidak punya waktu untuk itu semua, karena yang dilakukannya hanya menangis, menangis, dan menangis.

Pemuda yang berada di sisi ruangan tadi memperhati sosok itu cukup lama. Sebelum, dia memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Melepaskan pelukan dengan sang adik perempuan yang masih menangis, berjalan mendekati sosok berambut merah itu dengan langkah sedikit berat. Begitu dilihatnya sang rambut merah sudah rampung memberi penghormatan terakhir, dia menepuk pelan pundaknya.

"Park Jihoon, benar?"

Dia bisa melihat, si rambut merah mengangkat kepala untuk menatapnya. Wajahnya nampak sedikit bengkak, mungkin karena pengaruh dari bengkaknya matanya. Sosok di depannya mengangguk pelan, dengan binar kuriositas terpancar dari netranya.

"Aku Hwang Hyunjin. Adik pertama dari Minhyun. Bisa minta waktunya untuk bicara? Ada yang harus kusampaikan. Amanat dari kakakku."

Matanya membulat lucu. "A-apa—?"

"Kita tak bisa bicara di sini. Kita bisa bicara di luar, mungkin di kedai yang ada di sana. Tak akan lama, karena aku harus mengurus yang lainnya pula. Aku sudah bilang pada orang tuaku dan Yeji, adik kami. Bisakah?"

"Y-ya.. tentu saja," Jihoon, begitu nama lelaki berambut merah itu, dia menjawan pertanyaan Hyunjin dengan suara sedikit tercekat. Baru saja dia berusaha menghentikan tangisnya.

Tak perlu waktu lama sampai keduanya tiba di tempat yang dituju. Kedai kopi kecil di seberang jalan. Keduanya saling berhadapan, dengan kesunyian yang menjadi teman. Jihoon masih menitikkan air mata, sedangkan pihak satunya hanya diam, tak menangis, membiarkan Jihoon yang tengah berduka.

Hyunjin menarik sudut bibir guna membentuk senyuman. Nampak sedikit dipaksakan karena Jihoon tahu pasti, di baliknya ada kesedihan yang mendalam. Kehilangan sosok panutan, tentu membuatnya bersedih. Tidak mungkin jika itu tak terjadi.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang