Bab 4 : The Meeting

1.5K 264 216
                                        

Dia menunjukkan ponselnya kepada dua orang yang kini saling merapatkan posisinya. Di ponsel yang sudah banyak retakan itu tertera tulisan panjang yang dibacanya pagi tadi. Dua orang sahabatnya membaca tulisan panjang itu dengan seksama, sedikit kesulitan karena terlalu banyak retakan yang mengganggu kegiatan literasi mereka. Bibir salah satu sahabatnya merapalkan kalimat yang tertera di sana, membulatkan matanya begitu dia menyelesaikan kegiatan literasinya.

"Gila sekali orang itu".

"Lalu, apa maksudmu memperlihatkan itu pada kami, Hoon?" tanya salah satu kawannya yang mempunyai gigi gingsul –sebuah ciri khas yang membuat wajahnya tampak semakin rupawan.

"Aku –mengajukan diri untuk membantu orang itu", tuturnya mantap.

Bisa dia tebak, respon kedua sahabatnya itu pasti terkejut. Lihat saja sekarang, si lelaki berwajah manis dengan marga Ahn itu bahkan menutup mulutnya yang semula terbuka lebar –sedangkan lelaki gingsul di sampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti lagi dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya yang juga bermarga Park, sama seperti dirinya.

"Dan –orang itu memilihku. Kami sepakat untuk bertemu dengannya, dia memberiku alamat kantornya. Sekarang aku hendak pergi menemui dirinya".

Ahn Hyungseob –si lelaki berwajah manis tadi membulatkan matanya begitu dia mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Dia tak percaya jika sahabatnya itu benar-benar melakukan hal itu.

"Hoon! Kau gila, ya?! Itu menyangkut hubungan orang! Dengan begitu kau membantu orang itu untuk menjahati suami sah dari perempuan yang berstatus sebagai kekasihnya –apapun itu! Terlalu rumit untuk menjelaskannya! Yang jelas, jika kau melakukannya –maka itu salah!"

Dia menggelengkan kepalanya, menyanggah pernyataan sahabatnya barusan. Perlahan dia memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodie berwarna merah dengan bahan yang cukup tebal untuk menahan suhu yang semakin dingin di hari ini.

Hoodie tebal yang semula berwarna vermillon –perpaduan merah cerah dengan sedikit warna oranye, yang kini sudah mulai pudar itu adalah pemberian Hyungseob di hari ulang tahun Jihoon yang ke sembilan belas. Sudah beberapa tahun berlalu, namun hoodie pemberian Hyungseob masih dalam kondisi yang sangat amat baik. Jihoon adalah seseorang yang pandai merawat pakaian. Dia selalu mencuci semua pakaiannya dengan hati-hati, terlebih jika pakaian itu adalah pemberian dari orang-orang terdekatnya.

"Aku tidak gila, Seob. Tenang saja, dia bilang hanya satu kali ini saja. Setelah itu –boof! Kita tidak akan berhubungan lagi. Lagipula, ini adalah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlianku, bukan? Bermain peran adalah salah satu kemampuan yang bisa kulakukan. Sembari menunggu ada sutradara atau produser yang berminat menjadikanku sebagai pemeran di film garapannya, bukankah seharusnya aku berlatih terlebih dahulu? Anggap saja ini adalah latihan bagiku".

Hyungseob dan Park Woojin –lelaki di sampingnya saling bertukar pandangan.

"Jihoon, dengar. Satu kali ini saja, okay? Jangan terlibat terlalu jauh dalam hal itu. Jika kau terlibat terlalu jauh, semuanya bisa melebar kemana-mana. Aku memberimu peringatan sejak awal, supaya kau benar-benar tak terjerumus ke dalam hal gila itu. Dengarlah, ini benar-benar bisa menjadi suatu hal yang sangat serius jika kau terlibat terlalu jauh. Aku yakin, orang itu bukan orang sembarangan. Jadi, kumohon –jaga dirimu, oke?"

🌺🌺🌺

Sepatu berwarna hitam yang sudah mulai usang karena terlalu sering dipakainya pergi keluar rumah itu bergesekan dengan jalanan yang terasa licin karena salju yang turun semalam. Dia menyimpan secarik kertas bertuliskan alamat yang dia genggam. Kepalanya mengadah, meneliti satu per satu gedung perkantoran yang sedang dia cari keberadaannya. Sedikit susah baginya karena angin berembus cukup kencang, membuat rambutnya ikut bergerak –membuatnya mengerang.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang