Kicauan burung bisa didengar jelas dari dalam sebuah ruangan meski jendela ruangan tertutup dengan rapat. Matahari bersinar memancarkan cahaya hangatnya. Hari masih pagi, sehingga dia masih bisa mendengar suara kicauan burung yang terdengar begitu merdu. Ibarat dia sedang mendengarkan sebuah simfoni yang disusun dengan begitu baik.
Matanya memandang ke luar jendela. Dia bisa menemukan burung-burung yang terbang sambil berkicau, seakan sedang menikmati hari yang cerah. Mereka bernyanyi dengan bahagia. Membuatnya sedikit sentimen, karena dia juga ingin berkelana bebas di luar sana. Layaknya burung-burung yang terbang dengan begitu bebas, bebas ingin pergi kemana saja.
Ini adalah hari keduanya berada di sini.
Dia memandang langit-langit kamar yang tampak bersih. Menghembuskan nafas berat. Dia ingin segera keluar dari sini. Tapi, ucapan dokter yang memeriksanya semalam menghambatnya untuk pergi keluar.
Dia belum pulih, katanya.
Tapi, dia sudah merasa jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dibandingkan beberapa minggu terakhir. Apakah mungkin, beberapa minggu belakangan ini kondisi tubuhnya sudah memburuk? Entahlah, dia tidak pandai menilai kondisi tubuhnya sendiri karena dia selalu merasa baik-baik saja dan tetap dalam kondisi prima untuk bekerja.
Perlahan, dia turun dari ranjangnya. Hendak berjalan membuka jendela guna mendapatkan udara segar. Dia berjalan sedikit tertatih, sedikit ripuh karena membawa tiang tempat meletakkan cairan infus. Tiang besi itu terasa cukup dingin, mungkin karena suhu ruangan yang dibuat dingin oleh lelaki bermarga Lai yang sejak kemarin terus dilihatnya.
Jemarinya mendorong pelan jendela itu sehingga terbuka. Sebuah senyuman terulas di wajahnya, dia mendapatkan udara yang cukup segar. Wajahnya tertunduk, dia melihat ke bawah. Apartemen ini mungkin hanya terdiri dari beberapa lantai saja, sebab keberadaannya di lantai yang paling atas tidak membuatnya seperti sedang terbang di atas awan. Jika tafsirannya tidak salah, mungkin dia sedang berada di lantai –sepuluh? Atau mungkin lima belas?
Entahlah, otaknya belum sanggup untuk berpikir terlalu keras. Yang jelas, dia tidak terlalu takut untuk melihat kebawah. Tidak terlalu mengerikan jika dibandingkan dengan memorinya beberapa tahun yang lalu ketika dia bekerja membersihkan jendela gedung pencakar langit yang tingginya lebih dari tiga puluh lantai. Dia merasa ingin mati.
Matanya memandang keluar, memperhatikan pemandangan yang berada di depannya. Dia disuguhkan dengan indahnya sungai Han dengan jembatannya yang membentang panjang. Sungguh indah. Air sungai Han berkilau ketik diterpa cahaya matahari pagi. Dan dia juga bisa melihat banyak burung-burung yang berenang di langit. Sebuah pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Sungguh enak jika menjadi orang kaya. Bisa melihat pemandangan begini setiap harinya.
Lelaki yang dikenal dengan sapaan Jihoon itu kembali tersenyum. Dia menikmati pemandangan di depannya, sangat menikmatinya. Pemandangan itu menyejukkan mata. Jika dia sudah punya banyak uang nanti, dia bertekad untuk membeli satu unit di gedung apartemen ini, lalu mengajak Seungmin yang sudah dianggapnya sebagai seorang adik tinggal bersama dengannya. Pasti dunianya akan damai.
Menikmati secangkir kopi sambil berdiri di balkon dengan pemandangan seperti ini. Aih, untuk saat ini dia hanya bisa berandai-andai. Mungkin di masa depan nanti, dia bisa melakukannya betulan. Berbincang dengan orang terdekatnya sembari menikmati pemandangan indah begini. Surga dunia.
Brak!
Oh, surga dunianya sudah lenyap.
Dia menoleh, mendapati seorang lelaki berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan di tangannya. Jihoon menarik nafas, berat. Lelaki itu sungguhan tidak tahu caranya mengetuk pintu, ya? Meski pun dia adalah sang tuan rumah, kenapa dia harus menjeblos pintu dan membuat Jihoon terkejut, sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
