Bab 40 : Trouvaille

1.3K 220 96
                                        

Klang

Tangannya bergerak mendorong pintu kaca dengan bingkai kayu, berpelitur cokelat eboni. Membunyikan lonceng kecil yang berada di sudut pintu kedai kopi.

Kaki jenjangnya berjalan masuk, diikuti dengan seorang lelaki berjaket jins biru. Keduanya berjalan berurutan. Lelaki yang lebih jangkung berjalan lebih dulu menuju counter, mengangkat kepalanya untuk membaca menu yang disediakan oleh toko kopi Ediya.

"Kau mau pesan apa?" si jangkung bertanya pada seseorang yang berdiri di sebelahnya, kini tengah memperhatikan daftar menu yang dipajang di dekat meja kasir juga.

Yang ditanya tampak tengah berpikir. Menimang, yang mana yang harus dia pesan di antara muffin cokelat atau beef croissant. Dia ingin keduanya.

Dia mengangkat kepalanya, menatap lelaki di sampingnya. Menunjuk dua gambar menu padanya, meminta pendapat. "Menurutmu, yang mana yang harus kupilih? Muffin cokelat atau beef croissant?"

Lelaki berkemeja hitam di sampingnya menautkan alis. "Kenapa kau pilih camilan? Memangnya kau akan kenyang? Harus makan. Sarapan pagi. Jangan sekadar makan camilan saja. Coba pilih menu waffle, porsinya jauh lebih besar dibandingkan kau memakan muffin dan croissant," ucapnya, seraya membalik buku menu ke lembaran lainnya.

"Apa salahnya dengan muffin dan croissant? Keduanya mengenyangkan, kok. Tapi baiklah, aku ingin sesuatu yang manis pagi ini," dia bergumam pelan, menatap satu per satu menu yang ada di sana.

"Ingin yang manis? Tatap aku."

Si kemeja hitam melontar seuntai kalimat, yang membuat ekspresi lelaki di sampingnya berubah drastis. Lelaki di sampingnya mengerutkan kening, menatap si kemeja hitam dengan tatapan tajam.

"Yang ada perutku jadi mual ketika menatapmu."

Yang diberikan jawaban begitu hanya bisa tertawa. Dia memutuskan untuk memesan terlebih dahulu —satu porsi cheesy bacon hashbrown waffle, dengan satu cangkir americano untuk mengawali harinya. Memberikan waktu pada pujaan hatinya untuk memilih menu yang dia inginkan.

Pujaan hati?

Dia sudah mengerti perasaannya sendiri. Dia memang jatuh cinta pada lelaki yang berdiri di sampingnya. Terjebak dengan skenarionya sendiri, termakan omongannya sendiri, pada akhirnya dia memang tidak mampu menolak pesona seorang Park Jihoon yang punya karisma tersendiri. Lelaki manis yang punya sifat keras itu mampu membuatnya jatuh hati.

Akhirnya, si manis memutuskan pesanannya. Setelah memesan, keduanya berjalan untuk mencari tempat duduk. Si manis memilih untuk duduk di dekat jendela besar, si jangkung mengikuti.

"Kau biasa sarapan?"

Sebuah pertanyaan ditanyakan si jangkung untuk membuka pembicaraan. Tangannya bergerak mengetuk meja yang terbuat dari kayu, dilapisi dengan pelitur kayu eboni yang senada dengan pintu tadi. Netranya menatap wajah lelaki di depannya, yang tengah sibuk menatap ramainya jalanan.

"Tidak, sih. Aku makan di tengah hari. Jika tidak sempat, makan di malam hari. Sebenarnya aku makan kapan saja, tapi tidak biasa makan di pagi hari," terangnya.

Si jangkung menautkan alis. Lelaki di depannya bahkan tidak pernah makan pagi. Makan pagi adalah hal yang paling penting untuk mengawali hari, karena sarapan adalah sumber energi. Tapi —dia bahkan tidak menyantap makanan di pagi hari? Kenapa lelaki itu keras kepala? Tidak peduli dengan kesehatan dirinya?

"Jangan begitu. Lain kali kau harus makan pagi. Tidak bagus jika kau tidak sarapan. Kau akan dapat energi dari mana jika tidak sarapan?" si jangkung bertutur panjang.

"Tapi aku memang tidak biasa sarapan sejak dulu, Tuan Jangkung. Aku tidak pernah makan pagi. Dan aku merasa itu baik-baik saja. Bukan sesuatu hal yang berdampak besar," ucap si manis tak acuh.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang