Dia meletakkan gelas sloki yang isinya sudah habis di atas meja. Menatap lelaki berambut pirang yang kini ada di depannya –sepupunya. Keduanya kini berada di tempat mereka biasa menghabiskan waktu –sebuah kelab malam di tengah kota Seoul. Dia sebenarnya masih mencerna bagaimana sepupunya itu bisa menemukan dirinya yang sedang meraung-raung di dalam ruang kerjanya.
Memalukan. Seorang Direktur kok menderam di ruang kerjanya. Sebuah sikap tidak profesional.
"Jadi, bisakah kau membantuku, Edward?"
Sebuah nama yang biasa mereka gunakan ketika pertemuan keluarga sedang berlangsung. Edward dan Christopher –dua orang saudara sepupu yang berbeda kewarganegaraan, namun kini keduanya sama-sama merintis karir di Korea Selatan. Edward –yang juga dikenal dengan nama Lai Kuanlin itu, kini menatap sepupunya –Christopher Bang, si musikus sekaligus komposer lagu yang ternama.
"Membantumu mencari pujaan hatimu itu?"
"Bukan pujaan hati –aish! Bagaimana, ya? Aku terpukau dengan suaranya dan wajahnya yang lugu".
Lelaki bermarga Lai itu terkekeh pelan menatap saudaranya. Menggelengkan kepalanya, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya. Sepupunya itu jarang sekali berlaku begitu. Dia bilang dia tidak pernah jatuh cinta –karena dia saja tidak bisa tertidur pulas.
Dan sekarang? Lihatlah wajah berbunga-bunganya itu.
"Ya, ya. Baiklah. Aku akan membantumu untuk mencarikan informasi tentang si penyiar radio itu. Lagian, mengapa kau harus jatuh hati kepada seorang penyiar radio, sih?! Bertemu orangnya saja tidak pernah! Kau seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta pada seorang idolanya, tahu!"
"Aku pernah bertemu dengannya! Satu kali. Di kedai kopi tempatnya bekerja!"
"Oke, oke. Lalu kenapa kau tidak datang ke sana dan mencarinya?"
"Kau pikir aku tidak usaha datang ke sana?! Aku sudah datang ke sana dan mencarinya, tapi dia tidak kunjung kutemukan!"
"Dia sengaja menghindar darimu", ungkap lelaki bermarga Lai itu dengan cuai.
Lelaki itu menggapai gelas slokinya –menuangkan lagi whisky ke dalamnya. Belum sempat dia menenggak whisky yang baru saja dia tuangkan, telinganya yang kelewat peka itu menangkap suatu keributan yang tidak jauh darinya.
"Lihat sini, manis. Bagaimana kalau kau –aku jual saja, hm? Wajahmu manis juga rupanya. Dan lihat tubuhmu –wow! Aku berani bertaruh pasti akan banyak lelaki yang datang untuk membelimu!"
Matanya menyipit. Mencari sumber suara gaduh yang sepertinya memang berjarak tidak begitu jauh. Begitu pula halnya dengan sang sepupu –yang kini menatap Kuanlin penasaran. Bertanya-tanya, apa yang membuat si jangkung itu menghentikan kegiatannya menyesap sloki whisky berwarna kecokelatan tadi.
"Mohon maaf, Tuan. Aku tidak akan melakukan hal semacam itu".
Ia mendelik. Menangkap pemandangan yang ada beberapa meter darinya. Surai merah itu –surai merah yang amat sangat ia kenali. Surai merah yang akan bersinar ketika diterpa cahaya lampu yang berpendar elok. Sedikit menghembuskan nafasnya –menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia lagi. Kenapa sih tidak pernah kapok mencari masalah? Heran".
Christopher yang ada di depannya menatap Kuanlin dengan pandangan bertanya. Matanya mengisyaratkan jika dia menuntut jawaban dari lelaki yang beda umurnya hanya terpaut satu bulan saja darinya. Sedangkan Kuanlin yang mendapatkan tatapan dari Christ, hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa. Lupakan saja".
Dia berkata pada Christ untuk tebal telinga mengenai apa yang sedang berlangsung –menyangkut seseorang yang dia kenali. Si surai merah itu –surai merah bermulut pedas yang kata-katanya kerap menohok perasaan namun sangat benar. Tapi, dirinya sendiri tidak bisa cuai dengan apa yang sedang terjadi. Dia memasang telinganya, mendengarkan apa yang sedang terjadi dengan saksama.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fiksi Penggemar🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
