Bab 47 : Floraison

1.2K 201 46
                                        

Satu bulan berlalu begitu saja tanpa dirasa. Waktu bergulir dalam sekejap mata. Tahu-tahu, suhu sudah menjadi lebih hangat, musim panas sudah tiba.

Namun tiada hal yang berubah pada Jihoon. Dia masih terbaring di Rumah Sakit. Kondisinya sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dokter sudah melepas cervical collar di lehernya, dia sudah mulai mampu untuk menggerakkan beberapa bagian tubuhnya.

Kendati dia belum mampu menapakkan kaki di atas bentala seperti semula, dia sudah bisa duduk. Sudah bisa berbalik badan, memiringkan tubuhnya ke beberapa sisi. Benar apa yang dikatakan oleh Dokter kala itu, kemampuan pemulihan diri Jihoon cukup baik. Sehingga dia mampu membaik dalam waktu yang bisa dibilang singkat.

Mungkin, hal itu juga dipengaruhi oleh lingkungannya yang terus mendukung dirinya. Banyak sekali orang yang datang silih berganti untuk membesuknya. Sekadar membesuk untuk bertukar kabar, atau membawakan makanan kesukaannya untuk mendukung proses penyembuhan Jihoon. Yang jelas, senyuman nyaris tidak pernah luntur dari wajah laksmi yang dia miliki.

Ketika dia merasa bosan lantaran hanya bisa melihat langit-langit kamar, pemuda jangkung yang sudah menemaninya sejak sebulan yang lalu akan membawanya keluar kamar dengan kursi roda. Si tinggi itu akan mendorong kursi roda yang dipinjamnya dan membawa Jihoon ke taman Rumah Sakit untuk menghirup udara segar.

Hubungan mereka membaik. Kendati, si surai merah masih kerap berteriak pada si jangkung dan keduanya beradu mulut, namun semuanya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Jihoon yang mulanya kerap mengulaskan wajah kesal ketika menatap wajah Kuanlin —si jangkung yang kita sebut dari tadi, kini perlahan berubah. Dia kerap tertawa jika sedang bersama dengan Kuanlin, membuat Kuanlin yang setia menemani ikut bahagia.

Kuanlin hampir tidak pernah meninggalkan Jihoon saban harinya. Dia terkadang akan pergi ke kantor karena dia juga tidak bisa melepaskan pekerjaannya begitu saja. Namun, selama sebulan terakhir, dia sama sekali tidak pergi dinas ke luar negeri. Dia akan menyerahkan semua pekerjaannya di luar negeri pada sang sekretaris pribadi.

Biasanya dia akan bergantian menjaga Jihoon jika ada hal yang mengharuskannya pergi ke kantor. Seungmin dan dua sahabat Jihoon lainnya —Woojin dan Hyungseob, bersedia dimintai bantuan kapan saja. Tak jarang, Woojin dan Hyungseob lebih memilih untuk menjaga Jihoon dibandingkan menghadiri kelasnya. Sedikit nyeleneh memang, namun dengan itu, mereka membuktikan bagaimana erat persahabatannya.

Daniel, si sutradara berbahu lebar yang akrab dengan Jihoon tidak jarang menyempatkan datang ke Rumah Sakit untuk membesuk Jihoon —pemuda yang dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Dia tidak main-main dengan ucapannya, sepertinya. Musababnya, setiap dia datang menjenguk, dia akan membawakan makanan kesukaan Jihoon.

Mulai dari kue, atau makanan berat seperti sup iga babi dan lainnya. Dia juga kerap membawakan beberapa barang lain sebagai buah tangannya. Tidak hanya untuk Jihoon, dia juga memberi untuk Kuanlin, yang dia ketahui berstatus sebagai kekasih Jihoon.

Kuanlin tidak masalah jika Daniel yang datang. Dia justru menyambutnya dengan senyuman. Seakan melupakan apa yang terjadi di antara keduanya. Seakan lupa dengan hubungan gelap yang dia tutupi dari Daniel. Melupakan kebohongan yang dia susun sendiri.

Namun, ekspresinya akan berubah menjadi ekspresi tidak suka ketika Minhyun menyambangi Rumah Sakit dengan buket bunga yang berbeda setiap kedatangannya. Kuanlin akan membuang bunga-bunga yang dibawa oleh Minhyun setelah lelaki itu pergi dari sana. Jihoon tentu tidak suka, namun dia yang pandai berdalih tentu mampu mengatasinya.

Dia akan bilang jika Dokter tidak mengizinkan ada bunga di ruang rawat. Karena itu akan mempengaruhi penyembuhan Jihoon. Sebuah alasan bodoh, tentunya. Dan Jihoon pada akhirnya akan percaya meski dia melontar tatapan sangsi pada Kuanlin, awalnya.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang