Sang surya belum naik sepenuhnya ketika seorang lelaki bersicepat menuju sebuah tempat kecil di sudut kota Seoul. Sebuah tempat yang memberi beberapa orang kenyamanan. Langkahnya secepat kuda, menghentak bentala sekuat tenaga.
Klang-
"Jisung hyung!"
Dia memanggil nama seseorang melalui ranumnya. Yang dipanggil -seorang lelaki yang tengah menata botol sirup-sirup di atas meja, menoleh guna menatap pelaku yang memanggilnya. Sebuah kerutan nampak di keningnya.
"Ada apa, Jihoon?"
"A-aku -"
Tatapan lelaki berhidung bangir itu melembut kala melihat sang pemanggil terengah. Dia mampu menduga, lelaki dengan kemeja flanel itu berlari cukup jauh dari halte bus yang jaraknya lima ratus meter dari sana. Dia melangkahkan kakinya, mendekati lelaki yang kini bertumpu di sebuah meja kayu berpelitur kayu oak.
"Kenapa, Jihoon? Pelan-pelan saja. Jangan kesetanan begitu."
"A-aku... mungkin terkesan tidak tahu diri, tapi -boleh aku menukar shiftku? Aku ingin bertukar shift menjadi shift sore, bolehkah? Atau aku -aku akan berangkat pada jam makan siang! Kupastikan, saat jam makan siang aku sudah ada di sini!"
Dia menerutkan keningnya, lagi. Merasa heran dengan lelaki yang tengah memohon padanya sekarang. "Kalau aku boleh tahu, memangnya ada apa?"
"Aku -mendapat pekerjaan lain. Tapi shiftnya pagi... Aku bekerja untuk jasa kebersihan. Dia memintaku untuk bekerja pada pagi hari guna membersihkan sebuah kantor."
Lelaki yang dipanggil dengan nama Jisung itu tampak berpikir sejenak. "Aku sih, tidak masalah. Tapi, kenapa kau melakukannya? Maksudku, kau baru saja pulih dari kecelakaan itu. Kau yakin, akan baik-baik saja melakukan pekerjaan di jasa kebersihan?"
Sang pemohon tadi mengangguk lugas. "Aku yakin akan baik-baik saja! Itu masalah kecil, lagi pula aku sudah pulih sepenuhnya!"
"Ya sudah kalau begitu. Yang jelas, kau harus hati-hati. Jangan sampai terluka lagi. Jangan memaksakan diri. Pokoknya, jaga dirimu! Aku tidak mau lagi datang ke rumah sakit karena kau!"
Penuturan penuh kekelesahan itu dibalas dengan sebuah senyum cengenges oleh lelaki berambut merah mencolok itu. "Hehehe, siap, hyung!"
"Ya sudah kalau begitu, semoga sukses, ya!"
"Siap, hyung!"
"Memangnya, kau bekerja untuk kantor mana hari ini, Hoon? Selalu diacak tempatnya atau kau ditempatkan?"
Lelaki yang lebih pendek tampak berpikir. "Aku bekerja di sini," dia menyerahkan sebuah alamat pada lelaki yang lebih tua. "Aku akan ditempatkan di sana, jadi setiap hari aku harus datang ke sana."
Lelaki yang sejak tadi berperan sebagai lawan bicaranya menyambut secarik kertas yang diberikan oleh lelaki satunya. Netranya melirik, membaca kata demi kata yang tertera di sana. Matanya membulat kemudian, khas sekali jika dia sedang terkejut kala menemukan fakta yang dibacanya.
"Hoon, kau yakin -akan bekerja di LCBC?!"
🌺🌺🌺
Sepasang sepatu berwarna merah cerah yang cerahnya menyamakan sang surya itu kembali menginjak bentala dengan tegasnya. Dia sedikit gugup sebenarnya. Terlebih, kala bangunan yang berdiri dengan kokohnya sudah berada di hadapnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia meremat tali tas punggung yang dicangklong olehnya. Dengan sedikit mengadahkan kepalanya, dia menatap puncak gedung tinggi yang berada tidak jauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
amore ; panwink✔
Fanfiction🌺𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙚𝙩𝙚𝙙🌺 ❝𝐚𝐥𝐥 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐞𝐝 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞❞ ㅡ 𝘓𝘢𝘪 𝘒𝘶𝘢𝘯𝘭𝘪𝘯 ❝𝐭𝐡𝐞𝐧, 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐞𝐚𝐜𝐡 𝐦𝐞 𝐰𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐬 𝐥𝐨𝐯𝐞?❞ ㅡ 𝘗𝘢𝘳𝘬 𝘑𝘪𝘩𝘰𝘰𝘯 Lai Kuanlin, seorang Direktur Utama Perusahaan Perbankan terbesar di...
