Bab 7 : Play it Cool

1.6K 277 302
                                        

Matahari sudah bersembunyi, digantikan rembulan yang memancarkan sinarnya sejak satu jam yang lalu, hari sudah berganti menjadi malam. Malam di kota Seoul pada hari ini cukup dingin. Jika melihat di ponsel pintar –melalui aplikasi pemantau cuaca, suhu mencapai minus lima derajat malam ini. Sangat dingin, membuat orang-orang merapatkan mantel tebal yang mereka kenakan dan menarik sarung tangan yang menutupi jari-jari mereka sehingga tidak membeku dikarenakan cuaca.

Salju turun ke bumi sejak tadi pagi. Jalan raya sudah diguyur dengan garam supaya salju-salju yang menutupi jalan bisa mencair, tak menghalangi penggunanya untuk melakukan mobilisasi. Memang di berbagai negara yang punya musim dingin, hal itu biasa terjadi. Cara itu biasa digunakan oleh petugas yang berwenang guna memudahkan para warganya memudahkan mobilisasi. Karena dengan adanya salju yang menutupi jalanan, itu akan menghambat mobilisasi –orang-orang harus berhati-hati dalam mengemudi karena jalanan yang licin.

Para pedagang makanan berkuah panas sudah terlihat di pinggiran Doosan Tower, yang terletak di Jangchungdan, Jung-gu, Seoul. Doosan Tower memang sebuah mall fesyen yang menjual banyak barang luksurius, tetapi di sekitarnya terdapat banyak pedagang odeng dan kue beras pedas yang bisa dijumpai jika kalian berjalan kaki di sekitaran Doosan Tower.

Bahkan, jika kalian beruntung mungkin kalian akan bertemu dengan penjual odeng yang masih muda dan berpenampilan rupawan, tak kalah dengan penampilan para aktor-aktor Korea Selatan yang acapkali terlihat di televisi. Mereka juga akan dengan senang hati membantu para pengunjung jika menjumpai kesulitan.

Kota Seoul punya banyak sisi. Sisi terang dan gelapnya. Sisi sibuknya dan tidaknya. Dan lelaki yang kini duduk di kursi kemudi sebuah mobil Porsche hitam sedang berada di sisi tidak sibuknya. Dia yang berpakaian rapi –dengan tuksedo berwarna cokelat tua bagai warna kayu jati yang mahal harganya –kini sedang mengemudikan mobilnya menuju salah satu toko kopi yang berada di salah satu sisi kota Seoul. Di pertokoan dekat Sinsa toko kopi kecil itu berdiri –cukup mencolok dengan neon light berwarna putih yang terang –membuat orang dengan mudah menemukan keberadaannya.

Matanya pun langsung menangkap toko kopi yang dia tuju, guna menghampiri seseorang yang bekerja di sana. Keduanya sudah berjanji untuk bertemu tepat jam tujuh –tapi ternyata lelaki berjas kayu jati itu baru bisa berangkat pada jam tujuh karena dia harus menghadiri rapat dadakan yang diadakan para bawahannya. Dia memacu mobilnya dengan sedikit lebih cepat dibandingkan biasanya, karena dia akan menghadiri sebuah pertemuan pada jam delapan malam.

Dia menghentikan kegiatannya menginjak pedal gas ketika dia sudah sampai di toko kopi. Membuka kenop pintu mobilnya, memilih untuk turun dari sana daripada membunyikan klakson mobilnya –karena dia melihat banyak pengunjung yang datang untuk menyesap kopi. Dia khawatir akan mengganggu kenyamanan pelanggan yang menjadi konsumen toko kopi bernama Pippy ini.

Klang –

Lonceng kecil dekat pintu berwarna putih yang dibuat dari kayu itu berbunyi –menarik perhatian para pegawai yang sedang menjalankan pekerjaannya. Termasuk orang yang hendak dia jemput –lelaki bernama Park Jihoon yang kini sudah berganti pakaian dengan sebuah jaket berbahan parasut dengan gabungan warna hijau, merah, putih –begitu mencolok.

"Ini sudah jam berapa, bodoh?"

"Jam tujuh lewat tiga puluh lima menit. Daripada kau membuang waktu untuk memarahiku, lebih baik kita langsung berangkat sekarang –ya! Kenapa kau belum ganti dengan tuksedo merah muda?!"

"Repot, Tuan bodoh. Nanti saja gantinya ketika sudah tiba di restoran itu", dia mendesis, menggenggam erat sebuah paper bag yang dia ambil dari lokernya baru saja –berisi sebuah tuksedo berwarna merah muda yang dibelikan sang Tuan tempo hari.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang