Bab 6 : Un po 'duro

1.4K 269 315
                                        

[Seoul, Korea Selatan]

Sudah berkali-kali dinyatakan di sini jika kota Seoul di siang hari itu ramai. Banyak kepadatan yang terjadi di berbagai distrik, terlebih di daerah perkantoran yang terpusat. Keramaian-keramaian yang berada di berbagai daerah menimbulkan suara bising yang bisa didengar semua orang. Itu hal yang wajar, karena suara bising itu terjadi di ruang terbuka.

Tidak seperti suara bising yang dihasilkan di ruang tertutup –seperti di dalam mobil yang terjadi sekarang ini.

"HAAAAAA!!!!!!"

Suara jeritan terdengar dengan amat sangat jelas dari dalam mobil mewah yang kini melaju dengan amat sangat cepat. Membelah jalanan kota Seoul di siang hari yang cukup padat –menyalip banyak kendaraan yang juga sedang menggunakan jalan raya di tengah hari yang cukup dingin. Mobil berwarna hitam yang tampak sangat elegan dengan logo beraksen kuning dan merah itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.

"BERHENTI, BODOH!"

Dia menoleh –menatap orang yang kini duduk di sampingnya, sang pemilik mobil yang kini kendaraannya dikemudikan olehnya. Lelaki bersurai merah yang memegang kemudi hanya mengerlingkan matanya, tetap menginjak pedal gas selagi matanya memandang fokus ke arah jalanan yang berangsur-angsur sepi.

"KAU INGIN MATI YA?! HEI –PARK JIHOON!"

"Bisakah kau diam? Kau seakan-akan berada di neraka, padahal aku hanya sedang mengemudi", dia berucap tak acuh, tetap menjalankan mobil itu dengan santai –tak peduli dengan lelaki di sampingnya yang kini menggenggam handle mobil itu kuat-kuat.

"INI SEPERTI DI NERAKA, BODOOH! BERHENTI!"

"DIAM, DASAR BERISIK!" dia menginjak pedal gas semakin kuat –semakin mampu membuat lelaki di sebelahnya mengoceh karena mobil itu melaju dengan begitu cepat. Dia saja yang memiliki mobil itu sejak beberapa tahun yang lalu belum pernah menjalankan mobilnya secepat itu.

"KAU GILA! PARK JIHOON –ASTAGA!"

"Aku memang tak punya surat izin mengemudi yang diakui secara internasional sepertimu, Tuan Jangkung. Tapi mungkin, ini mampu membuatmu mengakui jika aku adalah seorang laki-laki yang mampu mengemudikan mobil. Jadi –jangan congkak", dengan santai dia membelokkan kemudi mobil, memasuki tempat parkir pusat perbelanjaan yang dikenal dengan barang-barang berkualitas yang dijual di sana.

"Hentikan! Gila ya –kau ingin kita mati?! Aku tidak mau mati bersama denganmu! Aku masih ingin menikmati hidupku bersama Jiejie –astaga –gila!"

"Kau pikir aku ingin mati bersama denganmu? Tch, siapa yang punya keinginan sebodoh itu", dia menggeleng pelan, perlahan menghentikan laju mobil yang dia kemudikan sejak keduanya saling menantang beberapa waktu yang lalu. Dia memarkirkan mobil itu di depan pintu pusat perbelanjaan –melepaskan sabuk pengaman yang mengikat dirinya, kemudian membuka kunci mobil.

Lelaki jangkung di sampingnya sesegera mungkin keluar dari kursi penumpang –menahan tubuhnya dengan bertumpu di bagian samping mobilnya sembari dia mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Dia sedikit limbung –kepalanya pening karena si surai merah begitu santai mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti tadi.

"Gila –kau gila, sungguh gila", dia bergumam tanpa henti, membuat si rambut merah hanya menatapnya malas.

"Tak usah terlalu berlebihan, Tuan Jangkung. Nih –ambil kuncinya", dia melemparkan kunci mobil mewah itu kepada lelaki berjas biru tua –yang langsung digapai oleh si jangkung dengan desisan kesal.

Dia melangkah mendahului si surai merah, memasuki pusat perbelanjaan yang punya bangunan sangat besar dan megah –menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Korea. Dikenal dengan barang-barang berkualitas internasional yang di jual di sana, dengan pelayanan terbaik dan sudah mendapatkan penghargaan dari berbagai pihak. Bahkan, brand-brand ternama di dunia seperti Louis Vuitton pun tidak menyesal sudah memasukkan produknya di sana.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang